Ingin Menjadi Top Ranker

Ingin Menjadi Top Ranker
Chapter 42 Ulmaz Game Center


__ADS_3

Di sekitar jalan Besar.


  Aku mencoba untuk mencari-cari toko perlengkapan berkendara. Dengan kecepatan motor yang pelan, aku melihat-lihat ke arah sekitar. Aku juga meminta bantuan Novaria jika dia melihat Toko Perlengkapan Berkendara, aku memintanya untuk menyampaikan padaku.


  "Nov, Kalau lihat toko perlengkapan bilang ya." Sambil menyetir dengan pelan.


  "Baik Raph."


  Mobil mereka berdua sepertinya berhenti sebentar di pinggir jalan. Aku pun mengikuti mereka yang berhenti itu. Mereka semua tampak keluar dari mobilnya saat ini.


  "Itu Raph Toko Perlengkapan Berkendara." Ucap Leon sambil menunjuk ke arah Toko.


  Aku pun melihat ke arah Toko yang ditunjuk Leon. Wah benar, itu tokonya. Aku pun memarkirkan motorku di depan Mobil milik Leon. Aku mematikan mesin motornya dan mencabut kuncinya.


  "Ayok Nov beli Helm dulu."


  Novaria pun segera turun dari motornya. Karena motornya yang tinggi, aku mencoba untuk memeganginya agar tidak jatuh.


  "Pelan-pelan Nov." Sambil memegang pergelangan tangannya.


  Kakinya itu bertumpu pada step motor. Dia pun turun dengan aman. Kemudian aku bertanya kepada mereka bertiga apakah mau ikut ke tokonya juga atau tidak.


  "Kalian ikut ke Tokonya?"


  "Aku gak. Aku mau beli Sandwich dulu di toko sampingnya." Ucap Leon.


  "Aku tunggu di mobil aja." Vincent dengan mata sayu.


  Berarti aku berdua dengan Novaria pergi ke tokonya. Yah mungkin ini bisa kujadikan kesempatan untuk menjadi lebih dekat dengan Novaria.


  "Ayo Nov masuk ke Tokonya." Sambil menoleh ke arah Novaria.


  "Iya Raph."


  Kami berdua akhirnya masuk ke Toko yang bernama 'Azer Safe's'. Di dalam, kami disambut dengan hangat oleh pemilik Toko.


  "Selamat Datang." Ucap sang pemilik Toko.


  Aku ingin bertanya padanya mengenai Perlengkapan Helm yang ada di sini. Walau Desainnya terlihat menarik, kualitas dari Helm itu patut untuk diuji apakah layak dipakai atau tidak. Sebisa mungkin aku mencari Helm yang memiliki kualitas bagus.


  "Halo Pak, apa ada Helm yang berkualitas bagus?" Aku bertanya pada sang pemilik toko.


  "Semua yang terpajang disini dijamin Berkualitas semua. Karena kami memiliki motto 'Kualitas Baik membuat Konsumen senang'. Jadi aku bisa menjamin kualitas dari semua yang terpajang disini." Sambil memamerkan barang-barang yang dipajangnya.


  Dia tampak sangat percaya diri dengan kualitas-kualitas barang yang dijual. Tapi percaya diri tidaklah cukup. Aku ingin dia mencoba untuk membuktikan barang-barangnya apa kah memang berkualitas seperti itu.


  Walaupun Harganya mahal, aku tidak keberatan membelinya jika itu barang dengan kualitas tinggi. Apalagi ini menyangkut dengan Berkendara yang bisa saja sewaktu-waktu terjadi kecelakaan. Helm yang berkualitas bagus membuat kondisi sedikit tenang ketika Berkendara. Walaupun terjatuh, Helm juga tidak gampang untuk rusak nantinya.


  "Kalau begitu, bisakah saya dan dia melihat-lihat terlebih dahulu? Sehabis itu saya nanti ingin meminta bapak selaku pemilik toko untuk menguji ketahanannya nanti." Aku dengan wajah yang serius.


  "Hemm.." sambil mengangkat kacamatanya. Dia tampak memasang wajah yang sangat serius dan menatap tajam ke arahku. "Boleh saja anak Muda. Aku akan menguji ketahanan barang yang kalian pilih nanti."


  Karena dia sudah berkata seperti itu, aku dan Novaria pun mulai memilih-milih barang yang ingin dibeli.


  "Pilih aja Nov. Nanti biar aku yang bayar. Kalau mau pilih aja yang menurut kamu cocok. Gausah mikirin masalah Harga." Sambil memasang wajah tersenyum ke arah Novaria.


  "Ehh.. biar aku aja yang bayar sendiri Raph. Kan aku yang ga punya Helm." Dengan ekspresi sedikit Ragu.


  "Tenang saja. Kamu Gausah bersikap seperti itu kepadaku. Lagi pun kan kamu niatnya enggak naik Motor, jadi kamu kurang perlu Helm."


  "Ta-tapi Raph…" dengan wajah yang sedikit memelas.


  "Sudahlah, kamu pilih aja. Kalau sudah pilih nanti kasih tahu ya. Aku mau melihat-lihat yang lain."


  "Hahh.. Baiklah." Dengan helaan nafas dan wajahnya yang tampak pasrah.


  Dengan begitu dia bisa tenang dalam memilihnya. Aku mengganggap hal ini sebagai Investasi untuk nanti. Bisa saja kedepannya aku dan Novaria akan lebih sering berboncengan seperti tadi. Berduaan di motor dengan Novaria yang berpegangan padaku.


  Aaahh!! Memikirkan saja membuat perasaan ku merasa bahagia. Apalagi kalau hal seperti itu terjadi beneran. Aku melihat-lihat sarung tangan yang biasa digunakan para pengendara motor. Aku sedikit tertarik untuk membelinya sih.


  Cuman sepertinya Uangku kurang kalau buat beli Sarung tangan sekalian.

__ADS_1


  "Apa besok balik lagi kesini ya?" Dengan tangan yang berada di dagu.


  Hahh.. mungkin nanti aku akan meminta sejumlah uang kepada Ayahanda. Untuk keperluan-keperluan yang aku butuhkan untuk berkendara memakai motor dengan aman. Sejauh ini aku hanya memakai Helm Full Face ku saja ketika berkendara.


  Itupun ku pakai untuk terhindar dari penilangan yang di lakukan oleh Polisi Daerah. Bukan ingin memakainya karena biar lebih aman. Di toko ini sepertinya juga menjual jaket untuk perjalanan. Tapi itu tidak aku butuhkan karena aku sudah memilikinya di Kediamanku.


  Saat aku sedang melihat-lihat Stiker-Stiker untuk motor, Novaria memanggilku. Dia sambil memegang sebuah Helm Full-Face berwarna Biru.


  "Raphael, apa boleh yang ini?" Sambil memperlihatkan Helmnya di depanku.


  Helm yang dia pilih lumayan bagus rasanya. Kalau memang itu yang dia mau, aku akan membolehkannya.


  "Ya kalau kamu suka boleh. Yang itu yang kamu ingin beli?" Sambil menunjuk ke arah Helm yang dia pegang.


  "Iya. Helm warna biru ini aku suka sekali saat melihatnya." Sambil tersenyum memandangi Helmnya.


   Aku sedikit tersenyum melihat wajahnya yang tersenyum memandangi Helmnya. Kurasakan perasaan nyaman ketika melihat senyumannya itu. Dia tampaknya suka dengan Helm Full-Face yang dia pilih itu.


  "Yaudah, ayo ke kasir." Aku sambil berjalan mengarah ke kasir. Ini adalah waktu sang pemilik toko untuk membuktikan Ucapannya. Terkadang ada Penjual iseng yang dia ucapkan aman tapi nyatanya ketika digunakan, itu dibawah kualitas yang seharusnya.


  "Sudah memilih yang kamu mau Anak Muda?" Ucap sang pemilik toko.


  Aku pun meminta helm yang dipegang oleh Novaria. Aku mengarahkan telapak tanganku yang terbuka ke Samping. Novaria pun langsung menaruh helmnya di atas telapak tanganku. Aku menaruhnya kemudian di atas meja Kasir.


  "Seperti yang kamu bilang tadi. Aku perlu sebuah pembuktian bahwa Helm ini aman." Sambil memasang wajah serius dengan kepala yang miring ke kiri sedikit.


  "Tidak masalah. Aku akan membuktikannya secara langsung di depanmu." Sambil mengepalkan tangan kanannya.


  {Metode apa yang akan dia coba untuk pembuktiannya ya..}


  Dia tampak mengumpulkan tenaga di tangan kanannya yang dikepalkan itu. Tiba-tiba, tanpa aba-aba terlebih dahulu, dia langsung memukul helmnya sekuat mungkin. Helm itu pun terpukul dengar kerasnya.


  Tampak bekas sebuah sayatan terlihat di atas meja. Helmnya pun masih kokoh berdiri tanpa ada kerusakan satu pun di sisi-sisinya.


  "Bagaimana? Aku memiliki sebuah kemampuan yang bisa meningkatkan Pukulanku menjadi 4x lipat dari manusia biasa." Sambil menyombongkan dirinya.


  {4x lipat? Bagaimana bisa mejanya hanya ada bekas sayatan saja. Seharusnya mejanya ini ikut rusak bukan?} Teriak dalam hati.


  Dia lagi-lagi membenarkan kacamatanya dan memasang wajah serius, "Sudah kubilang tadi bukan? Kalau yang ada di toko ku ini semuanya memiliki Kualitas yang bagus. Sehingga Ketahanan nya sudah bisa menahan segala Pukulanku."


  Benar-benar gila! Ketahanan seperti itu cukup untuk membuat sebuah Armor besi kelas atas. Kenapa dia tidak menjadi Pandai besi saja. Novaria juga tampak kagum dengan sang pemilik toko itu. Terlihat dari matanya yang dipenuhi dengan rasa kagum.


Kalau begini caranya, aku tidak perlu Ragu dengannya.


  "Aku akan membelinya sekarang juga."


  "Siap Boss. Begitu dong." Wajah sang pemilik toko itu tampak bahagia.


  Si pemilik toko itu pun langsung menunjukkan Kode QRnya. Aku pun dengan segera Melakukan pembayarannya secepat mungkin. Setelah pembayarannya sudah selesai dilakukan, dia tampak memberikan acungan jempolnya padaku.


  "Jangan lupa kembali lagi Boss." Dengan senyum yang sangat lebar.


  Aku dan Novaria pun pergi keluar dari tokonya dengan membawa sebuah Helm yang tadi dibeli. Pemilik Toko itu sangat unik sekali. Aku akan kembali lagi kapan-kapan untuk membeli barang-barangnya.


  "Terima kasih Raphael. Aku akan menjaga Helmnya ini." Sambil mengelus Helmnya.


  {Kalau dia senang seperti itu, sepertinya aku juga turut merasakan senangnya juga.} Sambil tersenyum.


  Semoga saja ini merupakan langkah yang tepat untuk aku makin dekat dengan Novaria. Leon dan Alice pun sudah menunggu di Samping mobilnya yang terparkir itu. Sedangkan Vincent menunggu di dalam Mobil seperti yang dia katakan tadi. Sepertinya mereka juga sudah selesai berbelanja.


  "Bagaimana Helmnya? Sudah beli?" Leon bertanya.


  Novaria pun menunjukkan Helmnya kepada Leon. Setelahnya, Leon dan Alice mulai masuk ke Mobilnya itu. Aku dan Novaria pergi ke Motor ku yang terparkir di depan Mobil Leon. Aku memakai Helm yang tadi dipakai Novaria dalam perjalanan kesini.


  Novaria sepertinya juga sudah naik ke Motor, aku menyalakan mesinnya dan langsung tancap gas mengikuti Leon yang sudah menancap gasnya terlebih dahulu. Wangi harum Rambut Novaria yang masih menempel di Helm ku ini membuat Perasaan ku sedikit nyaman dan bahagia dalam waktu yang bersamaan.


  **********


  Sampai kota Ulmaz…


  Kami bertiga pun berhenti di Pusat Perbelanjaan Ulmaz yang letaknya berada di Pusat Kotanya. Karena Pusat Perbelanjaan yang lumayan besar, tempat parkir Mobil dengan Motor pun berbeda. Kami berpisah untuk memarkirkan kendaraan. Aku masuk Ke bagian Basement Mallnya, sedangkan Vincent dan Leon parkir di Parking Area yang ada Samping Mallnya.

__ADS_1


  Aku pun pergi menurun bersama Novaria. Mencari lahan parkir yang kosong di Basement bawah tanah. Banyak lahan parkir yang kosong disini, jadinya aku tinggal parkir sesuka hati di tempat manapun yang aku mau.


  Sebelumnya, aku mengambil sebuah Tiket untuk masuk ke Parkirannya. Memencet sebuah tombol berwarna merah yang mengambil data-data tentang Kendaraan ku. Mulai dari Plat Nomor hingga jenis kendaraan.


  Palangnya pun terbuka, aku langsung memarkirkan motornya. Mematikan motor kemudian melepas Helm. Novaria pun turun terlebih dahulu dari motor. Aku turun setelah Melepas helmnya. Menaruh Helm di atas Tangki pengisian bahan bakar motor itu tanpa terikat sama sekali. Novaria juga menaruh Helmnya diatas Jok motorku.


  Aku melihat Spion sejenak untuk merapikan Rambutku yang sedikit basah karena helmnya yang lembab.


  "Ayok Nov nyusul yang lain."


  "Ayok Raphael."


  Kami berdua pun menaiki tangga menuju ke atas untuk menyusul yang lainnya. Kami hanya berdiam-diam selama berjalan ke atas, karena aku juga bingung mau berbicara apa dengannya. Sulit untuk menemukan bahasan obrolan kalau berada di dekatnya. Rasanya pikiranku jadi Kosong.


  Sampai di atas….


  Semuanya sudah menunggu tepat di depan Pintu masuk Pusat Perbelanjaannya. Leon pun mengangkat tangannya mengarah ke kami berdua. Kami berdua pun dengan cepat mendekat kepada mereka.


  Novaria pun berdekatan dengan Alice. Aku seperti biasa, berada di tengah-tengah Vincent dan Leon. Kami berlima memasuki Area pusat perbelanjaan. Mall yang berada di Kota ini lumayan elegan sekali.


  Ornamen-ornamen yang menerangi pun cukup banyak sehingga menerangi segala ruangan yang ada. Banyak juga toko-toko yang terbuka di Bagian-bagian kios-kiosnya. Kami semua pun bergegas menaiki sebuah Lift. Entah ke lantai berapa untuk ke bagian Game Centernya.


  "Bagaimana Raphael? Lumayan juga kan jalan bersama-sama." Ucap Leon sambil memegang pundak kiri ku.


  "Sulit untuk mengatakan apa yang kurasakan saat ini. Aku cukup senang dengan suasana seperti ini." Sambil memasang wajah sedikit bahagia.


   "Ini kita mau ke Lantai berapa?" Ucap Vincent.


   "Oh iya aku lupa memberitahu kalian.. Game Centernya berada di Lantai 4. Lantai 4 itu Khusus untuk Game-Game sehingga banyak sekali yang akan membuat kalian terpana nantinya."


  Aku cukup penasaran bagaimana Wujud dari Game Center yang di kagumkan oleh Leon. Pintu Lift yang berada di depan kami semua pun mulai terbuka.


  "Liftnya sudah terbuka tuh. Mari masuk." Ucap Leon.


  Kami semua pun masuk secara bersamaan ke dalam Liftnya. Leon memencet Tombol 4 untuk menuju ke Lantai 4. Pintu liftnya pun mulai menutup kembali.


  Papan Digital yang berada di atas pintu pun mulai menunjukkan bahwa Lift sedang berjalan naik ke atas. 1…2…3…4.


  "TING!" Bunyi lift yang sampai tujuan.


  Pintunya pun mulai terbuka. Leon pun dengan segera keluar Dari lift dengan cepat. Alangkah terkejut diriku melihat keindahan dari Game center ini.


  "Selamat Datang di Game Center Ulmaz." Ucap Leon dengan kedua tangannya di rentangkan sambil memperlihatkan keindahan Game Centernya.


  Vincent yang terlihat mengantuk pun langsung menjadi segar bugar setelah melihat kondisi Lantai 4. Kami berempat mulai keluar secara perlahan. Betapa Luasnya lantai 4 ini diserta dengan Dekorasi-dekorasi Khas seperti berada di Dunia Game.


  Ada juga sebuah Mobil mainan yang sepertinya bisa ditunggangi disana. Jujur saja, menurutku ini salah satu Game Center terbaik yang pernah ku kunjungi…


  "Jadi bagaimana? Kalian terpana bukan?" Leon sambil menggerakkan alisnya.


  Ini lebih dari perasaan terpana. Bagai ada di Negeri Fantasi yang seperti Nuansa - Nuansa Zaman Futuristik. Ramai juga orang yang berada di sini dengan ekspresi-ekspresi senang mereka. Mereka tampak Bahagia bermain segala alat-alat permainan yang berada di sini.


  "Tidak salah aku mengikutimu Leon." Ucap Vincent dengan bersemangat.


  "Hahaha…. Kamu seperti anak kecil Vin." Tertawa Alice.


  "Melihat yang seperti ini rasanya seperti aku kembali ke masa Kecilku. Banyak sekali permainan-permainan yang tampaknya sangat asik." Vincent dengan mata Berbinar-binar.


  "Yaudah, kalau gitu kita main apa dulu nih?" Leon bertanya.


  Semuanya tampak sangat seru. Menyulitkan ku untuk memilih untuk bermain apa terlebih dahulu. Apa mungkin sebaiknya kita berpisah, dan bermain apa yang diri sendiri inginkan.


  "Leon.. bagaimana kalau berpisah? Semuanya tampak seru dan menarik perhatian ku. Aku ingin mencoba Game yang disana." Sambil menunjuk sebuah Tempat VR arcade.


  Mereka semua pun menoleh ke VR Arcade yang kutunjuk.


  "Gausah berpisah. Ayo kita coba game yang ditunjuk Raphael. Bermain bersama lebih asik dibandingkan bermain sendirian." Ucap Leon.


  "Yaudah, ayo ikuti aku semuanya." Sambil berlari dengan melihat ke arah belakang dengan tangan yang seperti mengajak mereka semua.


  "Wohoo!! VR Arcade, Aku datang." Teriak aku sambil

__ADS_1


__ADS_2