Ingin Menjadi Top Ranker

Ingin Menjadi Top Ranker
Chapter 22 Sistem Error??


__ADS_3

Membaca buku ini membuatku perlahan mengantuk. Aku menutup bukunya dan pergi ke ranjang untuk tidur. Memejamkan mataku serta memeluk guling yang berada di sampingku.


************


Membuka mata.


Aku berada di ruangan yang sama saat aku bertemu Triniade pertama kali. Di depan tepat ada Triniade yang sedang melihat ke arah jendela.


Aku menyadari bahwa aku berada di alam mimpi. Kesadaranku pindah tepat ke dimensi milik Triniade.


Aku mencoba menyapa Triniade yang sedang melihat ke luar jendela itu.


"Hey pak Tua."


Triniade menoleh ke arahku setelah aku memanggilnya.


"Raphael.. ngapain kamu kesini?"


"Lah.. kan kamu yang mindahin kesadaranku bukan?" Aku terheran.


"Aku tidak memindahkan kesadaranmu kok."


Kami berdua sama-sama terheran Karena hal ini. Apakah bisa kesadaranku secara otomatis pindah ke Dimensi milik Triniade??? Ini fenomena yang tidak bisa memenuhi unsur logika.


"Apa Vania ya.. yang memindahkanmu." Gumam Triniade.


"Vania???" Aku memiringkan kepala ku.


Disaat kami berdua sedang kebingungan, sebuah cahaya muncul dari arah pintu besar itu. Cahaya besar menyerupai tubuh manusia berjalan perlahan. Cahaya itu lama kelamaan memudar. Aku melihat sosok Wanita dengan pakaian Maidnya.


Sosok wanita itu sangat cantik. Rambutnya yang berwarna pink dan tubuhnya yang seperti orang dewasa itu membuatnya terlihat menawan.


"Selamat datang Tuan Raphael, dan juga mohon maaf mengganggu waktu anda Tuan Triniade."


Dia memasang Pose jongkok dengan lutut kanannya ditempelkan ke lantai serta menundukkan kepalanya dengan posisi tangan di taruh di bagian perut. Seperti penghormatan ala kerajaan.


Dalam pikiranku, siapa dia ini? Kenapa dia bisa tahu namaku? Padahal aku belum pernah bertemu dengannya. Mungkinkah dia Vania yang dimaksud oleh Triniade?


"Sudah kuduga kamu yang memanggilnya Vania." Sambil memegang dahinya.


"Mohon maaf Tuan Triniade. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan kepada kalian berdua."


Ternyata benar dugaanku, aku dipindahkan oleh Vania kesini. Tidak mungkin untuk memindahkan kesadaran dengan sendirinya.


"Apa yang ingin kau bicarakan? Berdiri lah. Jangan terlalu hormat seperti itu di hadapanku."


"Baik Tuan Triniade."


Vania segera bangun dari posisi hormatnya.


"Ini masalah tentang Sistemnya.."


"Memangnya ada masalah apa dengan sistemnya?" Aku bertanya pada Vania.


"Ada sebuah Error yang tak bisa ku perbaiki. Sistem SPnya tidak bekerja dengan baik dan tidak bisa ditukarkan dengan sesuatu."


"SPnya tidak bekerja? Bagaimana bisa?" Triniade tampak terkejut.


"Mohon maaf Tuan… saya juga tidak tahu kenapa SPnya tidak bekerja."


Aku keheranan dengan percakapan mereka berdua. Dalam benakku, kini tersimpan banyak pertanyaan yang ingin kuketahui jawabannya dari mereka berdua. Karena ini memang ada hubungannya dengan SP yang mereka berdua sedang bahas.


"Aku akan mencoba memperbaikinya sebentar. Kalian cobalah untuk menunggu disini."


Triniade pergi keluar entah kemana dia ingin pergi. Sekarang, aku hanya berdua dengan Vania yang berada di depanku. Vania tampak menundukkan kepalanya sejenak ketika melihat aku yang sedang melihatnya.


"Apa ada yang mau ditanyakan Tuan Raphael?"


Dia sepertinya tahu bahwa ada sesuatu yang ingin kutanyakan padanya. Tanpa banyak basa-basi, aku langsung bertanya tentang SP.


"Apa itu SP?" Aku bertanya kepadanya.


"SP merupakan sebuah bagian dari sistem yang membuat anda memiliki Poin dari hasil Pencapaian anda. Ketika Poin sudah memenuhi syarat yang sudah tersedia di dalam sistem, anda bisa menukarkan Poin anda dengan sesuatu yang ada di Toko dalam Sistem."

__ADS_1


"Ahh.. sama seperti Gold dalam Game yang sering kumainkan ya?"


"Betul Tuan.. hanya saja, Poin ini lebih condong untuk kebutuhan anda sendiri. Disana, kami memiliki banyak sekali Senjata, Artefak, Skill, dan anda bisa menukarkannya juga menjadi Uang."


Wow.. Poin ini sangat fleksibel sekali. Bisa membeli semua yang disebut oleh Vania itu. Ini menguntungkan bagiku yang memang ingin menjadi seseorang yang kuat.


"Terimakasih Vania."


"Sama-sama Tuan Raphael. Apa ada yang ingin anda tanyakan lagi?" Dia menundukkan kepalanya lagi sejenak.


"Tidak ada. Dan juga jangan terlalu sering menundukkan kepalamu. Aku tidak terlalu nyaman untuk dihormati seperti itu. Cukup bersikap secara normal saja, anggap aku seperti temanmu."


Aku tidak terlalu nyaman melihat seseorang terlalu sering menundukkan kepalanya sebagai tanda penghormatan kepadaku. Karena aku sadar bahwa diriku belum bisa menerima segala kehormatan yang diberikan. Aku yang saat ini masih sangatlah lemah bila dibandingkan dengan yang ada di kelasku.


Tujuanku saat ini adalah bertambah kuat dan menjadi seorang Top Ranker nomor 1 di seluruh Dunia. Dengan bantuan Sistem Triniade dan juga Vania, aku yakin aku bisa mewujudkan hal itu. Aku ingin menjadi seperti 'Castrophe Ignite' dari buku yang kubaca.


Triniade kembali setelah pergi entah kemana. Dia tampak menggaruk kepalanya saat berjalan dan memasang muka kebingungan.


"Ada apa Pak Tua? Mukamu kayak kebingungan gitu."


"Aku tidak bisa memberitahukan mu. Ini masalah yang hanya aku dan Vania yang boleh tahu. Kau pergilah ke Duniamu.."


"Memangnya aku bisa pergi dengan sendirinya?"


"Bentar Tuanku. Aku akan memulangkan kesadaranmu kembali."


Vania menggerakkan tangannya ke depan dan melayangkan telapak tangannya ke atas. Seketika kesadaranku menghilang dengan cepatnya.


********


Membuka Mata lagi.


Kepalaku terasa pusing ketika aku membuka mataku. Aku merebahkan tubuhku sejenak untuk menghilangkan rasa pusing yang ada. Perlahan, aku mencoba bangun dan duduk agar pikiran ku tidak terkejut ketika baru bangun.


Aku mengambil Smartphone ku yang berada di meja sebelah ranjang.


"Jam 6.. ganti baju terus jogging dulu lah. Daripada diem doang begini."


Aku pun berdiri dan mengganti bajuku ke Tracksuit berwarna hitam. Dengan keadaan mata masih mengantuk sedikit, kupaksakan untuk berjalan menuju lantai bawah. Sesekali aku mengusap mataku yang layu akibat rasa mengantuk.


Aku turun melewati tangga Spiral. Ketika sedang turun dari tangga, Ibunda mengetahui keberadaan ku dan menoleh.


"Sudah bangun kamu Nak?"


Aku yang dalam kondisi sedikit mengantuk membalas ucapan Ibunda sambil Menguap.


"Hoam.. sudah Ibunda."


"Mukamu masih mengantuk begitu. Kamu memangnya mau kemana Nak?"


"Ah.. aku mau berlari kecil di luar Ibunda. Berolahraga.."


"Kamu memangnya gak membasuh mukamu dulu? Mukamu masih keliatan layu gitu loh.".


"Enggak Ibunda. Aku mau langsung pergi saja. Ibunda sama Ayahanda memangnya berangkat jam berapa?"


"Sekitar Pukul 8 mungkin. Memangnya kenapa?"


"Enggak Ibunda… aku cuman nanya aja. Yaudah kalau gitu aku pergi dulu ya. Dah."


"Dah Sayang…"


Ayahanda sedang sibuk dengan korannya sampai-sampai tidak menyadari keberadaan ku disana. Memang sifat Ayahanda kalau sudah membaca Koran dia bakal fokus tak memikirkan keadaan di sekitarnya.


Aku berlari kecil di luar memutari Kawasan ini dan berakhir di Taman Solitude. Itu tujuanku saat ini. Diluar gerbang, aku disambut dengan Kicauan burung-burung di pagi hari. Matahari yang baru terbit juga cahayanya masih belum terlalu menyinari.


Pohon-pohon rindang saling menari satu sama lain. Bergoyang ke kanan dan ke kiri seperti halnya orang sedang menari. Daun-daun berserakan di bawah pohon membuat suasana terlihat segar. Udaranya pun bisa dinikmati secara langsung.


Sambil berlari kecil, nafasku Terengah-engah. Keringat mulai membasahi tubuh setelah berlari sekitar setengah dari tujuanku. Melewati berbagai Mansion Kediaman Keluarga lain. Kucing-kucing berlarian di sekitar membuat Suasana tidak begitu sepi.


Sesekali aku berhenti sejenak untuk mengelus kucing yang kutemui. Bulunya yang indah dan halus membuatku merasa nyaman. Lanjut berlari kecil mencapai target yang kutentukan.


*********

__ADS_1


Sampai di Taman Solitude.


Akhirnya tujuanku sudah tercapai. Aku berlari kecil selama 30 menit lamanya. Aku duduk di bangku taman untuk mengistirahatkan tubuhku. Melebarkan tanganku bersandar pada Ujung bangku taman. Mengelap keringat yang membasahi tubuh setelah berlari kecil.


Merapikan Rambutku yang berantakan. Menyisir rambutku ke arah samping menggunakan sela-sela jariku. Tenggorokanku terasa seret saat ini. Aku pergi ke Supermarket yang berada tak jauh dari taman.


Sebuah pintu otomatis terbuka. Sambutan terdengar setelah aku memasuki supermarket.


"Selamat Datang dan Selamat berbelanja."


Suara sang kasir menyertai. Menyambutku dengan senyuman yang terlihat di wajahnya. Aku pergi ke bagian minuman untuk mencari apa yang aku butuhkan. Di rak-rak bagian minuman banyak sekali produk yang menarik. Ada sebuah Teh Matcha dan Kopi susu. Namun disini, minumannya tidak dingin.


Aku pergi ke bagian pendingin minuman dan mencari minuman dingin disana. Aku mengambil sebotol air putih dingin dan juga sekaleng kopi susu dingin. Tak lupa aku pergi ke bagian rak makanan untuk membeli sebuah cemilan.


Kurasa, aku akan bermain sejenak di Taman. Sudah lama juga aku tidak bermain di taman dan menikmatinya. Yah.. karena sekarang aku sudah besar, rasanya tak nyaman bila bermain dengan anak kecil.


Aku pergi ke kasir untuk membayar semua yang kuambil. Menyerahkan kepada sang kasir untuk diperiksa labelnya. Selagi menunggu selesai menscan label-label itu, aku melihat ke arah luar supermarket. Roselianne melintas lewat dengan rambut yang terurai itu.


Aku meminta sang kasir untuk cepat.


"Cepetan Mas.." ucapku yang terburu-buru ingin mengejar Roselianne.


"Oh iya mas. Saya bakal cepetin ini. Tunggu ya mas."


Sang kasir sudah selesai memeriksa semua makanan yang kuambil dan membungkusnya. Aku dengan cepat mengeluarkan smartphone ku dan membayarnya. Aku mengambil kantung belanjaan yang masih terpegang oleh sang kasir.


Aku bergegas pergi berlari dari supermarket untuk mengejar Roselianne.


"Terima kasih ma..asss." suara sang kasir yang sekilas terdengar di telingaku.


Roselianne tak berada jauh dari sini. Aku berlari kecil menujunya yang sedang berjalan itu. Aku ada sebuah ide untuk mengejutkannya dari belakang. Aku mendekat kepadanya secara perlahan agar suara langkah kakiku tidak terdengar olehnya.


Aku memegang pundaknya untuk mengejutkannya.


"BWAH!"


"AHH!" Tubuh Roselianne merespon dengan lompatan kecil itu.


Sontak Roselianne langsung merasa kaget karena dikejutkan dari belakang. Dia menoleh ke arahku yang berada di belakangnya.


"Iseng banget sih Raphael. Kaget tau." Roselianne melepas sepasang Earphone dari telinganya.


"Hahaha. Maaf-maaf, soalnya ngeliat kamu jalan polos kayak gitu bikin ingin ngagetin kamu." Tertawa terbahak-bahak karena ekspresi Roselianne yang terkejut itu.


Roselianne memasang muka kesal sehabis aku mengejutkannya. Wajah cemberutnya itu sangat manis jika dilihat.


"Kalau boleh tau, kamu lagi ngapain disini Rose? Tumben gak pakai baju olahraga mu."


"Habis dari Luar kawasan tadi. Beli sesuatu disana."


"Beli apaan memangnya?" Aku bertanya padanya.


"Ada deh… mau tahu saja kamu Raph."



Sial, Roselianne mulai mempermainkan ku untuk membalas dendam. Aku tidak terlalu ingin sebenarnya untuk menjahili Roselianne tadi, akan tetapi entah mengapa aku merasa bahwa aku mirip seperti Kak Lily.


Walau sebenarnya aku tidak terlalu suka dijahili olehnya, namun kalau belum dijahili oleh Kak Lily seakan-akan merasa bahwa ada yang tidak beres. Makanya aku melampiaskan rasa itu kepada Roselianne agar hari-hariku terkesan seperti hari pada umumnya.


"Oh iya Rose, kamu masih ingat janjimu kan?" .


"Masih Raph. Janji yang nemenin kamu Latihan kan? Tenang saja.. aku selalu ingat itu."


"Baguslah, kalau begitu sebelum latihan…. Hmmm…."


Aku melihat ke arah Taman Solitude berharap ada sesuatu yang bisa kami lakukan berdua. Ahh.. aku melihat sebuah Ayunan disana. Aku ingin mengajak Roselianne untuk mengobrol disana sembari berayun-ayun.


"Rose, mau main Ayunan itu gak?" Sambil menunjuk ayunannya.


"Hah! Kamu kayak anak kecil aja."


"Ayolah Rose.." aku menarik tangan Roselianne untuk membujuknya.

__ADS_1


"Eh-eh.. yaudah deh aku ikut. Lepasin dulu tanganmu."


Aku melihat wajah Roselianne tampak kemerahan saat aku memegang tangannya. Apakah ada sesuatu yang membuatnya Risih? Atau…


__ADS_2