Ingin Menjadi Top Ranker

Ingin Menjadi Top Ranker
Chapter 58 Hasil yang Cukup Memuaskan


__ADS_3

Di dalam Ruangan…


  Para pekerja pun sedang sibuk menata alat-alat yang dipakai untuk Tesnya. Mulai dari sebuah Energi yang berbentuk layaknya sebuah lampu itu yang berputar di atas Tabung besar sebagai penyangga.


   Energi bola itu terlihat melayang dengan dikelilingi sebuah Cahaya putih di luarnya. 


   "Jadi kamu yang namanya Raphael.. bisa kita mulai tesnya?" Ucap salah satu pekerja memakai kacamata dengan sebuah Buku visual di tangannya.


   Raphael pun menjawabnya dengan penuh kesiapan. "Bisa!" tegasnya.


   Pekerja yang memakai kacamata itu pun bergerak mendekati sebuah Energi bola yang berputar itu. Sambil mengarahkan Raphael untuk mendekatkan tangannya ke Energi bola itu.


   "Sesuai dengan warnanya, dengan alat ini nantinya akan menunjukkan warna yang terdiri dari 4 warna yang bisa mengetahui seberapa besar potensi fisikmu," jelasnya.


   "Apa aku harus menaruh tangannya di atas energi itu?" tanya Raphael.


   "Tunggu sebentar…"


   Pekerja itu berpindah kembali ke sebuah Layar Visual yang seukuran dengan Komputer itu. Dengan satu orang pekerja perempuan yang memandangi layarnya.


   "Aku akan memberikan sebuah aba-aba yang nantinya kamu harus mengarahkan telapak tangan mu di depan Energi itu," perintahnya.


   Raphael pun mengikuti instruksi yang dia berikan. Dia menunggu sang pekerja itu memberikan sebuah aba-aba.


   "Apa sudah bisa dipakai Energinya?" tanya pekerja yang berkacamata kepada temannya yang memandangi layar.


   "Sebentar.. aku sedang mencoba untuk membuka menu analisanya," ungkapnya.


   Pekerja yang memandangi layar itu dengan cepat seolah mengetik di sebuah Keyboard visual. Dengan cepatnya dia mengetik dan mengarahkan kursornya ke sebuah Aplikasi yang ada di layar itu.


   Dia menyetel aplikasinya dengan cepat dan terburu-buru. Dia pun selesai menyetel aplikasinya. "Sudah bisa dimulai sekarang Rey." 


   "Oke Ran," jawabnya.


   Selanjutnya, sebuah aba-aba pun diberikan oleh Rey kepada Raphael. Raphael yang menyadari aba-abanya, langsung mengarahkan telapak tangannya tepat di depan Energi bola itu.


  Energi bola itu pun berputar dengan kencang setelah Raphael mengarahkan telapak tangannya ke depan. Dan juga, warna yang seharusnya putih pun mulai berubah secara perlahan ke warna lain.


   Raphael yang cukup deg-degan dengan hasil tesnya pun berharap penuh bahwa hasilnya akan baik.


   {Tolong.. aku berharap padamu Alat.} Gumam dalam hati Raphael.


   Warnanya pun mulai berubah menjadi terang dan menyilaukan. Seluruh orang yang berada di dalam Ruangannya terhalang dengan cahayanya. Sampai cahayanya itu mulai memudar disana dan putaran energinya mulai melambat.


   Semuanya pun melihat ke arah Energi bola itu. Warna bolanya itu pun berubah menjadi warna merah. Semua pekerja yang berada di dalam cukup terkejut dengan hasilnya. Sedangkan Raphael, dia hanya bisa terbingung karena dia tak tahu apakah warna merah adalah hasil yang bagus atau buruk.


   "1239. Potensi tubuhnya mencapai 1239." Ucap Ran dengan wajah yang terlihat terkejut itu.


   Semua pekerja mulai melihat ke arah Raphael. Raphael yang melihat tatapan mereka itu mulai kebingungan.


   "Apa hasilnya bagus?" tanya dia.


   Dengan suasana hening sejenak, salah satu tepukan tangan menyertai. Itu berasal dari Rey yang cukup kagum dengan hasilnya.


   PUUKK..PUKKK.


   "Hasil yang memuaskan Raphael.. potensi tubuhmu cukup tinggi untuk menjadi seorang Ranker. Rata-rata potensi tubuh manusia berwarna kuning dengan Angka sekitar 900-1100. Sedangkan kamu memasuki warna merah dengan angka 1239. Itu cukup rata-rata untuk Warna merah." ungkap Rey dengan bertepuk tangan.


   Semua pekerja pun bertepuk tangan mengikuti Rey. Raphael yang sedikit bangga dengan hasilnya itu pun memasang wajah senangnya dengan Tersenyum. Dia mengira bahwa dia akan dibawah ataupun rata-rata seperti manusia biasa.


   Ternyata hasilnya cukup memuaskan untuk dirinya.


   "Ehemm… untuk selanjutnya, kita akan mengecek kondisi tubuhmu saat ini. Tolong ikuti aku," ucap Rey dengan berdehem.


  Rey pun berjalan ke sebuah Alat dengan banyaknya kabel yang terkumpul disana. Raphael yang tidak tahu tes selanjutnya seperti apa hanya bisa mengikuti instruksi yang diberikan Rey.


  "Baiklah.. bisa membuka baju mu sebentar? Hanya untuk sekedar menempelkan kabel-kabel ini ke tubuhmu," ungkap Rey.

__ADS_1


   Raphael pun membuka Jas hitamnya yang sudah dia pakai dengan rapi sebelumnya. Tubuhnya yang sedikit berotot itu pun terlihat. Rey pun mengambil salah satu kabel dan menempelkannya dengan sebuah perekat di dada Raphael.


   Salah satu pekerja pun membantu Rey untuk memasangkan kabel-kabel itu ke tubuh Raphael. Raphael hanya bisa diam sembari mereka memasang sebuah kabel di tubuhnya. Sebetulnya dia sedikit merasa malu. Karena tak hanya pria saja yang ada di ruang ini, ada juga perempuan dewasa.


   Selesai mereka memasang sebuah Kabel-kabel yang banyak itu di tubuh Raphael, mereka melihat ke sebuah Alat yang menunjukkan berbagai data statistik dari tubuh Raphael.


   [ STR : D+ DUR : D


     AGI : D. STA : C


     SPD : C. FOC : C+ ]


   Raphael sedikit melirik ke arah Layarnya. Statistiknya kian meningkat usai dia berlatih setiap harinya. Yang awalnya hanya sekelas E, sekarang sudah mulai banyak yang D. Walaupun itu hanya rata-rata, Raphael cukup senang dengan hasilnya.


   "Walau statistik mu hanya rata-rata saat ini, jangan menyerah terlalu awal ya. Karena besarnya potensi yang bisa kamu capai itu sangat besar. Kalau kamu melatih tubuhmu lagi, kamu bisa mencapai Tier A nantinya." ungkap Rey.


   Raphael pun hanya mengangguk ketika Rey berkata seperti itu. Selanjutnya, mereka pun melepaskan kabel-kabel yang menempel di tubuh Raphael itu. 


   Selesai melepaskan semuanya…..


    Raphael kembali memakai setelan Jas hitamnya itu. 


    "Untuk Tes fisik yang terakhir.. akan berada di Ruangan yang berbeda. Dan juga, untuk selanjutnya kamu dipersilahkan untuk melakukan Tes tulisnya nanti," ucap Rey dengan jari telunjuk kanannya berada di bibir atas dan juga jari jempolnya berada di bawah dagu.


   "Aku boleh keluar sekarang?" tanya Raphael.


   "Boleh kok.. nanti pihak bagian Tes Tulis akan memanggilmu. Terima kasih telah berpartisipasi dalam Tes fisik kali ini!" Rey dengan memberikan senyuman ke arah Raphael.


   Raphael yang selesai memakai Jasnya itu pun berterimakasih kepada para pekerja yang sudah membantunya dalam melakukan Tes fisik. "Terima kasih semuanya.." sambil berjalan dan membuka Ruangannya.


   "Sama-sama.." balas semua pekerja.


   Raphael pun keluar dari Ruangan…


   "Fuuhh… aku bisa lega sedikit sekarang. Hanya tersisa Tes Tulis dan juga Tes Kekuatan nantinya." 


   "Bagaimana Hasilnya?" tanya Kakak Frans.


   "Hasilnya cukup memuaskan untukku. Walaupun masih ada sedikit kekurangan," balas Raphael.


   Raphael pun kemudian duduk di samping Kakaknya Frans. 


    "Baguslah kalau begitu.. setidaknya hasilnya memuaskan untukmu itu sudah cukup." 


    "Haha.. ya begitulah. Aku tidak berharap bahwa akan ada sesuatu yang Wah! Banget saat melihat hasilnya," ungkap Raphael.


   Mereka berdua pun mengobrol soal satu sama lain. Setidaknya dalam pikiran Raphael, dia tidak terlalu jenuh jika hanya sekedar menunggu. Dan juga, dia sedikit melatih komunikasinya terhadap orang lain yang masih sedikit kaku.


   "Partisipan No 0586 atas Nama Lycia Muller. Dipersilahkan untuk memasuki Ruang Tesnya!" 


   Mendengar pengumumannya, Kakaknya Frans yang bernama Lycia itu bangun dari duduknya.


   "Aku masuk ke Ruangan dulu ya.. Lain kesempatan kalau bertemu lagi, mari berbicara membahas adikku ya," ucap Lycia.


   "Baik Kak." 


   Lycia pun berjalan menjauh dari Raphael. 


   "Hahh… aku sedikit bingung cara berbicara yang lebih baik. Saat ini, entah kenapa bahasa yang kupergunakan terlihat sangat kaku," gumam Raphael sambil menghela Nafasnya.


   Mungkin berkat keluarganya yang kebanyakan selalu berkomunikasi menggunakan bahasa yang kaku, Raphael jadi mengikuti cara berbicaranya itu. Apalagi Ayahnya yang selalu menggunakan Bahasa formal dalam berbicara.


   Mungkin yang memakai bahasa santai di Keluarganya hanyalah Lily dan juga Joanne. Dan juga, Ibundanya juga sesekali menggunakan bahasa santai ketika berada di Kediaman saja.


    Raphael pun membuka smartphonenya sambil menunggu gilirannya untuk melakukan Tes Tulis.


   "Lebih baik aku chat Novaria saja agar tidak bosan." 

__ADS_1


   Raphael pun membuka Sosial medianya dan memberi pesan kepada Novaria.


   -Siang Bienen..


   Tak ada respon yang diberikan oleh Novaria. Raphael sepertinya mulai lupa bahwa hari ini ada ujian di sekolahnya. Jadi dia hanya menunggu sampai Novaria meresponnya. Tapi itu akan memakan waktu lama hingga pulang sekolah.


   Pemuda yang malang… saking cintanya dia, sampai-sampai dia rela untuk menunggu pesannya dibalas itu. Hah… 


   ******************


   Sementara di lain sisi…..


   (Susah banget Ujiannya… Kenapa Raphael tidak masuk segala) gumam Vincent dalam hati.


   Suasana tampak hening dikarenakan ujian sedang berlangsung. Vincent yang kesulitan dalam Ujian di hari pertama ini mulai merasa pusing.


    Sebelumnya juga, Vincent terlihat kesulitan di Hari pertama Ujian. Walau dia dapat berpikir kritis dalam pertarungan, sayangnya pemikirannya itu tidak dibawa saat ujian. Karena entah mengapa, ketika sedang Ujian, Otak Vincent tidak bisa berjalan dengan baik seperti biasanya.


   Makanya dia selalu bertanya pada Raphael ketika Hari Ujian Tiba. Salah satu faktornya juga karena pada Malam hari sebelum Ujian dimulai, Vincent tidak belajar satu pelajaran pun. Dia lebih senang untuk menonton Film di Kamarnya.


   Berbanding terbalik dengan Raphael yang mulai belajar ketika 2 hari Sebelum Ujian. Dua orang ini sangat tidak menyukai belajar di rumah sepertinya…


   Vincent pun mulai mengisi sesuai isi hatinya. Walaupun jawabannya itu bisa saja salah, tapi dia sedikit bertaruh dengan jawaban yang ada dalam hatinya. Sementara, Novaria terlihat mudah mengerjakan soalnya tanpa ada kesulitan sama sekali. 


   Leon pun sama seperti Novaria. Padahal Leon suka sekali bermain game, akan tetapi nilai yang selalu dia dapatkan dalam Ujian termasuk yang tertinggi. 2 orang ini berbanding terbalik dengan Raphael dan Vincent.


   Tapi dalam hati Novaria, dia terlihat gelisah karena Raphael tidak memberi satu pun kabar kenapa dia tidak hadir di kelas hari ini.


   (Liebe kemana ya.. kenapa dia gak hadir saat hari pertama Ujian? Apa dia sakit? Sebaiknya istirahat nanti aku menanyakan kabarnya.) Dalam hati Novaria dengan gelisah sambil menyilangkan jawaban di lembar Ujiannya.


   Pengawas Ujian di Ruangan mereka adalah Bu Emilia. Sungguh Ruangan yang mencekam.. ditambah juga banyak Anak Murid yang terlihat kesulitan. Sungguh Murid Kelas yang malang…


  **************


   Kembali ke sisi Raphael….


   Dia masih duduk dengan memandangi Smartphonenya. Ditambah juga, dia terlihat seperti sedikit gelisah. Berkat Ramainya orang, Raphael merasa bahwa keyakinan dirinya menurun kembali. Ditambah juga dengan suasana ricuh dan berisik yang dia rasakan.


   Membuatnya merasa tak nyaman untuk berlama-lama disini dengan sendirian. 


   (Aku harus mengabaikan suara berisik yang mengganggu itu.)


   Raphael mencoba untuk fokus dengan dirinya sendiri untuk menghiraukan suara berisik yang menyertai dirinya itu.  


    Sampai pada suatu waktu, seseorang dengan memakai sebuah Jas Hitam dengan celana hitam ditambah sebuah Dasi merah berjalan menuju Raphael yang sedang fokus memandangi Smartphonenya itu.


    "Permisi.." ucap sang pemuda itu.


    Raphael pun menoleh ke sumber suaranya. "Ada apa?" tanya nya.


    Seorang pemuda berambut Pink serta gondrong itu berdiri di samping Raphael yang tengah duduk sekarang.


   "Apa kamu Raphael Ignite?" 


   "Iya betul. Saya Raphael Ignite. Ada apa ya?" 


   Pemuda itu pun mengedip sejenak ditambah dengan mulutnya yang melengkung serta kepalanya sedikit miring ke kanan. 


    "Saya dari Bagian Tes tulis. Saya diminta oleh Atasan saya untuk memanggil anda, dikarenakan sebentar lagi Tes Tulisnya akan segera dimulai." dia memperkenalkan dirinya dengan jelas sambil menaruh tangan kanannya di dada.



   "Ahh!! Baiklah. Ternyata Pekerja bagian Tes tulis.." Raphael pun langsung berdiri. "Mari kita ke sana bersama." ucap Raphael sambil menaruh tangannya di saku celana.


   "Tolong ikuti saya ya.."


   Mereka berdua pun berjalan pergi ke Ruang Tes tulisnya….

__ADS_1


  


__ADS_2