
Aku pun selesai memainkan 1 lagu. Seisi Ruangan langsung bertepuk tangan secara meriah ketika aku menyelesaikannya.
PROKK
PROKK
"Mantap Raphael.. cakep banget mainnya kamu." Teriak Tom.
"Benar-Benar Masterpiece." Teriak Gary.
Mendengar teriakan-teriakan pujian dari mereka. Aku sedikit merasa salah tingkah, dengan perasaan senang dan malu yang terjadi secara bersamaan. Aku berterimakasih pada mereka semua yang memuji ku.
"Terima kasih.." dengan menundukkan Kepala.
Bu Caroline pun tampaknya juga terlihat terpukau dengan permainan piano ku. Perasaan bahagia itu tersirat dalam wajahnya. Dia menatapku dengan Mata yang melebar serta senyuman ke arahku.
"Permainanmu sangat diluar ekspektasi ku. Berasa sedang melihat sebuah Konser Piano." Ucap Bu Caroline sambil bertepuk tangan kecil.
Aku sedikit bahagia mendengar dia berkata seperti itu. Aku berusaha secara maksimal untuk mengeluarkan potensi-potensi ku dalam bermain Piano tadi. Dengan menghayati suara-suara yang dihasilkan sembari menghayalkan berada di sebuah kastil bangsawan.
Ah iya, aku hampir kelupaan untuk memainkan sebuah lagu yang diminta Oleh Novaria. Saking menghayati lagu Piano Sonata no 16 in C Major. Sebelum itu, aku meminta izin terlebih dahulu melalui Bu Caroline untuk memainkan 1 lagu lagi.
"Permisi Bu." Ucap Sambil mengangkat tanganku.
"Iya ada apa?" Tanya Bu Caroline.
"Apakah saya boleh bermain 1 lagu lagi? Mungkin semua yang ada disini cukup familiar dengan lagunya nanti," Ungkapku.
Bu Caroline pun sepertinya sedang memikirkannya terlebih dahulu. Wajahnya yang sedikit ke bawah dengan tangan kanannya yang berada di dagu itu. Kemudian dia menoleh kembali ke Arahku, "Boleh Raphael. Itung-itung Ibu juga ingin mendengar sekali lagi permainan Pianomu," Balas Bu Caroline.
Sesudah mendapatkan Izinnya, aku pun langsung menekan satu persatu senar sesuai dengan Chord lagu River Flows in You.
TING.TING
TENG..TENG..
Memainkan lagunya dengan sebuah irama akustik. Dengan jari-jemari saling menekan secara cepat. Berpindah-pindah Chord dengan lihainya ditambah dengan Bass-Bass yang saling bersambungan menyatukan sebuah keharmonisasi antara Bunyi nada yang dihasilkan.
Bermain dengan tenang sambil melihat ke arah Teman-Teman yang sepertinya menikmati lagunya. Bagian kepala mereka bergerak ke Kanan dan ke kiri bagaikan sedang menikmati Konser.
Aku pun ikut menggerakkan tubuhku mengikuti mereka. Yah.. sebuah kesenangan tersendiri ketika melihat mereka semua yang menonton ikut menikmati lagunya. Berarti hasil Perjuanganku dan latihan yang selalu aku lakukan setiap hari selama 7 tahun lamanya tidak sia-sia.
****************
Beberapa saat….
Aku pun menekan Senarnya dengan pelan tanda Lagunya mau berakhir. Selesai bermain lagunya, mereka semua kembali bertepuk Tangan. Dengan Ekspresi Tersenyum yang bersirat di Sebagian orang.
Bu Caroline pun juga kembali bertepuk tangan. Aku pun langsung berdiri dan menundukkan sedikit badan serta kepalaku sebagai tanda terima kasih pada mereka sekali lagi. Aku langsung kembali ke tempat duduk ku semula.
Mereka semua melihat ke arahku saat ini diiringi tepukan tangan yang belum berhenti sejak tadi. Aku pun duduk di Kursi ku dengan perasaan lega setelah memainkan 2 lagu sekaligus. Puas sekali rasanya aku menerima banyak tepuk tangan seperti ini.
"Terima kasih Raphael ku…" ucap Novaria dengan nada Ceria.
"Sama - Sama Novaria ku.." Balasku.
Kebahagiaan yang tersirat di wajahnya membuatku ingin memeluknya.
"Pasti kamu merasa bahwa sekarang senang sekali bukan Raph?" Ucap Leon.
"Kok kamu tahu?" Tanya sambil memiringkan kepala.
"Gimana gak tahu, Orang wajahmu saja senyam senyum begitu." Sambil menunjuk ke arah Wajahku dengan menggunakan kepalanya.
Ehh!! Tanpa sadar aku merasa senyam senyum sendiri dari tadi. Bukan tanpa sebab, ekspresi semua yang menonton ditambah dengan kesenangan Novaria membuat Ekspresi ku muncul tanpa aku sadari.
"Ahaha.. aku ga sadar kalo dari tadi senyum-senyum." Sambil mengelus rambut ku sendiri.
"Selanjutnya.." Ucap Bu Caroline.
*****************
1 Jam Kemudian.
Penilaiannya pun selesai dilakukan. Sekarang waktu menunjukkan pukul 11.30. 30 menit lagi akan masuk waktu istirahat. Masih tersisa 30 Menit lagi untuk Pelajaran Musik selesai.
__ADS_1
"Karena semuanya sudah melakukan Penilaian. Sekarang mungkin kalian bisa bebas melakukan apa saja disini. Tapi ingat, jangan ada satu pun alat yang rusak ketika Kalian mainkan," ujar Bu Caroline.
"Baik Bu.." Sahut semuanya.
Aku bingung ingin bermain apa.. kayaknya aku akan mencoba Gitar disini. Sudah lumayan lama aku tidak bermain gitar sejak seminggu yang lalu. Itu juga aku bermain menggunakan Gitar yang kubuat dengan skill yang kumiliki. Jadi tidak terlalu enak di dengar suaranya.
Leon dan Vincent pun berdiri dari kursinya. Aku pun bertanya pada mereka, "Kalian mau kemana?" Sambil duduk dengan melihat ke arah mereka berdua.
"Main Game di Kelas.." Ucap Leon.
"Ga tau mau ngapain. Bingung juga," ungkap Vincent dengan muka bingung.
Mereka berdua pun pergi meninggalkan Ruangan Musik. Aku juga bingung sebetulnya mau ngapain saat ini.
"Raph, keluar yuk!" Ajak Novaria.
"Keluar kemana Nov?" Tanyaku.
"Ke Kelas aja, Disini rame jadi gabisa berduaan." Ungkap Novaria sambil memegang tanganku.
Berduaan? Hmm… bolehlah. Itung-itung biar makin Deket aja. Aku pun menerima ajakannya itu.
"Yaudah ayo Nov." Ucapku sambil melihat wajahnya.
Sebelum aku pergi, aku melihat Alice sepertinya sedang kebingungan saat ini. Aku pun bertanya padanya.
"Lagi mikirin Apa Alice?" tanyaku sambil melihat ke arahnya.
"Yah.. entah kenapa aku punya firasat buruk saat ini. Padahal tadi aku biasa saja." Ungkap Alice sambil menoleh ke Arahku.
"Firasat buruk gimana?" tanya Novaria.
"Aku juga enggak tahu Nov. Tiba-tiba muncul begitu aja." Alice dipenuhi dengan raut wajah gelisah.
Kalau berbicara tentang firasat buruk, aku jadi teringat ketika Aku, Vincent dan Laurencia terjebak dalam Bencana Dungeon Break di sekitar sini. Aku tidak boleh mengabaikan firasat buruk yang dirasakan oleh Alice.
Aku mencoba untuk menenangkannya terlebih dahulu sebelum aku dan Novaria pergi.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Mungkin itu karena kamu sedikit takut saat ini."
"Iya Lic, jangan dipikirkan sampai membuat kamu gelisah gitu." Sambung Novaria sambil mengelus punggung Alice.
Dia pun berdiri dengan semangat seperti sedia kala dan mulai mendekati Biola. Yang lain sih masih disini dan hanya beberapa saja yang pergi ke Kelas. Aku dan Novaria pun langsung pergi ke Kelas setelah Alice yang sudah tenang.
*****************
1 Jam Berlalu…
Waktu istirahat telah Usai. Aku yang beristirahat berduaan bersama Novaria pun dengan segera kembali ke kelas lagi. Kami sedikit membicarakan soal firasat buruk yang menimpa Alice saat istirahat. Aku mulai memikirkan apa maksud firasat buruk yang dirasakannya itu.
Apakah aku harus bertanya pada Vania atau Triniade seputar itu. Aku melihat ke arah Langit di luar jendela sejenak sambil memikirkan firasat buruknya.
"Kamu masih terpikirkan firasat buruk Alice tadi ya Raph?"
"Gimana ya Nov.. firasat buruk susah sekali untuk diabaikan. Apalagi sebelumnya aku juga pernah mengalami firasat buruk yang langsung terjadi di depan Mataku. Jadi aku tidak bisa mengabaikannya." Ungkapku sambil melihat ke arah langit yang cerah.
"Soal Dungeon Break yang terjadi Bulan Lalu ya?"
Aku pun menoleh ke arah wajahnya yang sedikit Cemas. Sepertinya aku terlalu memikirkannya sehingga membuat Novaria sedikit khawatir.
"Itu salah satunya sih.. tapi sudahlah, lupakan saja hal itu."
Aku pun mencoba untuk terlihat tenang agar Novaria tidak merasa cemas lagi. Walau begitu pikiranku masih terpikirkan tentang soal itu. Semoga saja Vania atau Triniade bisa memberikan jawaban yang pasti soal itu.
Aku tidak mau ada hal buruk yang terjadi menimpa kami semua. Cukup hari itu saja yang membebani mentalku. Aku jadi teringat soal teriakan-teriakan serta mayat-mayat yang tergeletak saat aku sedang bertarung melawan Triniade yang memindahkan kesadarannya ke dalam sebuah Minotaur.
******************
Pelajaran selanjutnya merupakan Olahraga.. Kami semua sekarang sedang berkumpul di sebuah Gymnasium yang terletak di samping Bangunan Sekolah. Gymnasium ini terlihat luas dengan sebuah Lapangan Voli, Basket dan sebuah Panggung untuk Theater.
Kami semua yang memakai Baju Olahraga pun duduk di Lantai Gymnasiumnya sembari mendengarkan apa yang dikatakan Pak Gritz.
"Ehem!" Pak Gritz yang berdeham. Kami semua pun melirik ke arahnya yang berdiri di depan Kami, "Hari ini mungkin bapak akan melakukan pertandingan basket untuk kalian semua."
Aku tidak terlalu mahir dalam olahraga. Dikarenakan tubuhku yang cukup lemah, dan tidak atletis. Mungkin akan sulit bagiku untuk bermain basket. Semoga saja Latihan yang kulakukan bisa membuatku sedikit meningkat.
__ADS_1
Aku duduk di lantai dengan Kaki yang menekuk dengan tangan berada di atas tumit ku seperti sikap bersiap. Melihat ke arah Novaria yang duduk di barisan perempuan. Novaria yang memakai pakaian Olahraganya terlihat sangat menawan. Rambutnya yang diikat saat berolahraga itu pun cocok dengannya.
Disaat aku sedang melihat ke arah Novaria, seseorang di belakangku menepuk pundakku. Aku pun menoleh ke belakang mengikuti arah seseorang yang menepukku.
"Yoo Raph.." ucap Frans.
Tumben sekali dia mengajak ku ngobrol. Jarang-jarang melihatnya mengajak aku mengobrol di kelas.
"Ada apa Frans?" tanya ku.
"Tidak, tidak ada apa-apa. Hanya sekedar ingin menyapa saja."
"Ohh.. Kirain ada apa-apa."
"Oh iya Raph, sekarang kamu pacaran sama Novaria?"
"Iya Frans. Sejak kemarin aku berpacaran dengannya." Jawabku.
"Baguslah, jadi aku lebih bersemangat untuk mengalahkan mu."
Mengalahkan ku.. sejenak aku terdiam dan heran tentang apa yang diucapkannya. Soalnya aku sama sekali tidak memiliki masalah dengannya. Aku pun bertanya padanya soal dia yang ingin mengalahkan ku. "Mengalahkan ku bagaimana maksudnya?" tanya ku.
Perlahan raut wajahnya terlihat kecewa. Memangnya ucapan itu bisa membuatnya kecewa ya? Padahal aku hanya bertanya padanya.
"Masa kamu lupa sih Raph.." dengan ekspresinya yang sedikit kecewa itu.
Bentar - bentar, aku ingat-ingat dulu. Hal apa yang kulupakan tentangnya. Aku mencoba mengingatnya sekeras mungkin. Tapi hasilnya nihil, aku tidak ingat apa-apa. Aku pun memasang gesture tak tahu dengan alis yang sedikit naik serta kedua telapak tangan mengarah ke atas diikuti pundak yang ikut naik.
"Hah.. lupakanlah. Aku jadi tidak semangat kalau kamu melupakan itu." Ucap Frans dengan nada murung.
Aku jadi sedikit tidak enak dengannya melupakan sesuatu yang menurut dia penting. Aku pun berbalik kembali ke arah Pak Gritz berdiri.
"Jadi untuk Pemilihan Timnya mau bagaimana? Bapak yang pilihkan atau kalian yang pilih sendiri?" tanya Pak Gritz.
Sontak semua Murid pun langsung memberikan pilihannya Masing-Masing secara teriak.
"Pilih Sendiri Pak!"
"Dipilihin Aja Pak!"
Kini, situasi terbagi menjadi 2 kubu. Kubu Pilih sendiri dengan Kubu Dipilihin. Mereka semua berdebat tentang hal itu.
"Pilih Sendiri lah.. jadi kita bisa main bareng yang kita kenal." Teriak Kroenzi.
"Dipilihin biar ga ada Pilih kasih lah. Kalau pilih sendiri nanti ada yang merasa dikucilin." Teriak Reinhart.
Haduh… mereka berdua tidak ada habis-habisnya berdebat tentang masalah kecil. Masing-masing kubu pun berdebat memperkuat pemilihan masing - masing. Aku hanya diam saja. Toh, mau pilih apa aja juga hasilnya tetep sama aja.
Leon yang berada di depan ku pun juga tenang dan tidak ikut campur masalah itu. Aku pun menanyakan dia memilih yang mana. "Leon, kamu pilih yang mana? Pilih sendiri atau Dipilihin?" tanya ku.
Dia pun menoleh ke arahku. "Aku ikut yang paling banyak aja." dengan ekspresi datar. Pilihan dia hampir mirip denganku. Sepertinya dia memang lebih senang untuk bersikap tenang. Pak Gritz yang melihat kericuhan itu pun dengan segera menenangkan mereka semua dengan berteriak.
"SUDAH!" bentak Pak Gritz. Sontak para murid yang mendengar teriakannya pun langsung menciut dan termenung seketika. Seolah-olah mereka tenang di hadapan seekor singa yang sedang marah. Pak Gritz pun kembali berdehem dan tenang seketika.
"Bapak akan memutuskan lewat Voting yang terbanyak. Buat kalian yang memilih pilih sendiri silahkan Angkat 1 Jari. Dan untuk yang memilih Dipilihin Angkat 2 Jari. Oke!" ucap Pak Gritz.
Sontak kami semua pun menyetujui Usulannya.
"Oke Silahkan Voting dari sekarang!"
Kami semua pun mengangkat tangan kami. Aku mengangkat 1 jari yang berarti pilih sendiri. Kulihat, Rata-Rata mereka semua mengangkat 1 Jari mereka. Tapi aku tidak tahu pilihan mana yang lebih banyak. Pak Gritz pun mulai menghitung satu persatu Jari-jari yang diangkat.
"Untuk Pilih sendiri terdapat 12 Orang sedangkan Dipilihin terdapat 10 Orang. Berarti sekarang sudah deal ya bahwa untuk komposisi timnya pilih sendiri."
Tapi tersisa 2 orang berlebih disana. Sedangkan permainan diisi oleh 5 orang dalam 1 tim. Aku pun melayangkan sebuah pertanyaan pada Pak Gritz soal hal itu. Aku mengangkat tanganku terlebih dahulu agar Pak Gritz merespon keberadaan ku.
"Pak, kan misalnya dibagi 4 tim dengan masing-masing tim diisi 5 orang. Terus yang sisa 2 itu diapain pak?" tanyaku.
Pak Gritz pun membalasnya dengan cepat tanpa berpikir terlebih dahulu. "2 orang akan menjadi Wasit. Untuk mengamankan jalannya pertandingan agar tidak ada kecurangan." jelas Pak Gritz.
Seperti itu.. baguslah, jadi 2 orang yang tidak kepilih masih tetap bisa mengikuti permainan basketnya walaupun hanya sekedar menjadi wasit.
__ADS_1
"Sekarang, silahkan kalian pilih sendiri teman kalian yang ingin kalian ajak untuk bergabung dalam satu tim." Ungkap Pak Gritz sambil menempelkan kedua telapak tangannya.
Kami semua pun mulai mencari siapa saja yang bisa kami ajak untuk bergabung….