
Sesampainya di Ruang Musik….
Bu Caroline sudah menunggu disana sambil duduk di Kursi yang tersedia. Dengan kedua tangannya bersedekap ditambah Kakinya yang disilangkan. Raut wajahnya seperti terlihat ingin marah.
"Hanya berjalan saja memakan waktu 10 menit ya.. padahal dekat loh Ruang Musik," Gumam Bu Caroline.
Pantas saja wajahnya itu terlihat ingin marah. Ternyata dia kesal menunggu para murid sampai di Ruang Musik. Kami semua yang mendengar itu langsung terdiam sejenak.
"Lupakan itu, sekarang kalian masing-masing duduklah di tempat yang tersedia." Ucap Bu Caroline yang masih memasang raut wajah kesalnya.
"Baik Bu." Ucap kami semua. Kemudian sesuai dengan apa yang diperintahkannya, kami semua duduk di tempat yang tersedia.
Aku duduk di tengah-tengah Novaria dan Juga Leon. Dengan sebuah Kursi tanpa meja yang berbentuk melingkari Bu Caroline yang berada di tengah.
"Oke, Ibu akan mencoba untuk mengabsen terlebih dahulu," Bu Caroline sambil membuka lembaran absensi di tangannya.
Dia menyebutkan satu persatu nama dimulai dari Aaron.
"Aaron Koehler." Ucap Bu Caroline sambil melihat ke arah murid.
"Hadir Bu." Jawab Aaron sambil mengangkat Tangannya.
"Adam Roswell."
"Hadir."
"Adrianne Rodselweise."
"Hadir."
Begitu pun dengan selanjutnya. Sampai tiba saat Bu Caroline menyebut Namaku.
"Raphael Ignite."
Aku pun mengangkat tanganku dan menjawabnya, "Hadir.."
Dia pun kembali melanjutkan mengabsennya sampai pada Urutan terakhir yang ditempati oleh Xavier.
"Xavier Tyrant."
"Hadir Bu." Balas Xavier tanpa mengangkat tangan.
Karena absen sudah selesai, dia pun menutup lembaran Absensi itu. Dia mulai menaruh tangannya di tumit. Serta menatap ke arah Kami Semua.
"Oke Karena semuanya hadir, mungkin ibu akan langsung mulai saja penilaiannya."
Suasananya langsung berat dengan kegelisahan para murid yang terasa. Bahkan kita semua tidak ada yang tahu Penilaian macam apa yang akan dia lakukan sekarang. 1 bulan yang lalu dia mengambil penilaian tentang memahami Tangga-tangga Nada. Mulai dari 1 ketukan sampai 4 ketukan.
Salah seorang dari kami semua pun mulai bertanya pada Bu Caroline.
"Bu, hari ini kita akan mengambil penilaian tentang apa?" Tanya Adam sambil berdiri.
Seluruh Murid melihat ke arah Adam yang berdiri. Mereka semua juga memasang ekspresi bingung tentang apa yang dinilai.
"Cukup Mudah, kalian tinggal bermain saja alat-alat musik sesuai yang kalian mau. Nanti akan ibu nilai dari bagaimana cara kalian memainkan alat musiknya serta instrumen-instrumen yang dihasilkan," Jawab Bu Caroline.
Huft… aku bisa bernafas lega sejenak. Kalau hanya penilaian seperti itu mungkin aku akan mendapatkan nilai tertinggi di penilaian ini. Aku cukup percaya diri dengan kemahiran ku dalam bermain alat musik. Bahkan aku merasa Setengah hidup ku berada di Musik.
Bu Caroline yang sepertinya menyadari bahwa Murid-muridnya sedikit gelisah tentang penilaian pun mencoba untuk menenangkan semuanya, "Jangan panik begitu dong.. santai saja, mau kalian bermain bagus ataupun buruk, ibu tidak akan menaruh nilai kalian dibawah 60," Ucap Bu Caroline sambil memasang raut wajah tersenyum.
Suasana langsung berubah 180°. Mereka semua yang mendengar itu pun terlihat sangat senang sekarang. Nilai Minimal yang akan diberikan oleh Bu Caroline adalah 60 untuk semua Murid. Itu artinya walaupun mereka bermain dengan buruk, setidaknya nilai yang diberikan masih lumayan tinggi.
"Aku bisa tenang sedikit sekarang.." Gumam Vincent yang berada di samping Leon.
"Haha.. Vincent.. Vincent." Leon Tertawa.
"Tapi usahakan lah Vin gak asal main. Setidaknya masih mengikuti Chord lagunya." Cetus diriku sambil melihat ke arah Vincent.
"Tenang saja, walau aku sedikit kurang mahir dalam dunia Musik, setidaknya aku masih bisa menghasilkan sedikit nada walaupun tidak begitu lancar," Jawab Vincent.
__ADS_1
Aku sedikit menahan tawa ketika dia berkata seperti itu. Vincent memang selalu membuat ku ingin tertawa rasanya. Dari belakangku, ada yang menepuk punggungku. Aku pun menoleh ke belakang. Novaria yang melihat ke arahku dengan senyuman itu sepertinya ingin berbicara padaku.
"Ada apa Nov?" Tanyaku.
Dia mulai mendekatkan wajahnya padaku. Aku yang tidak tahu apa yang ingin dia lakukan pun mencoba untuk tenang dan berpikiran positif.
"Apa kamu bisa bermain Piano?" Bisik Novaria padaku.
Oalah.. ternyata itu yang dia inginkan. Untungnya aku tidak asal salah paham dengan perilakunya. Aku pun mencoba untuk menjawabnya dengan berbisik juga, "Bisa Nov, memangnya kenapa?" Tanyaku sambil berbisik.
"Aku punya satu permintaan lagu. Apa kamu bisa memainkannya untukku?" Ungkap Novaria dengan mata yang memelas itu.
Melihat matanya yang memelas, rasanya aku tidak bisa menolak permintaannya. Yah wajahnya yang berada di dekatku juga membuatku selalu ingin menuruti apa yang dia inginkan sih.
"Boleh Nov.." Ucapku. Novaria pun langsung menjauhkan wajahnya dan memasang wajah ceria, "Memangnya lagu apa yang kamu ingin aku mainkan?" Tanyaku.
Dia pun tampak tersenyum lebar dengan matanya yang terpejam sejenak sambil berseri-seri.
"Aku ingin mendengar lagu River Flows in You Karya Yiruma. Apa kamu bisa?" Tanya sekali lagi Novaria yang melihat ke arahku.
River Flows in You.. kebetulan itu salah satu lagu yang biasa kumainkan. Aku cukup menyukainya karena Nada yang dihasilkan berkat Instrumen-instrumen yang beraturan cukup indah dan enak di dengar oleh telinga.
Aku pun menyanggupi permintaannya.
"Bisa Nov.. nanti akan coba kumainkan di sela-sela Penilaian." Jawabku sambil memasang ekspresi kasih sayang padanya.
Setelah mendengar ucapanku, dia tampak gembira dengan kedua tangan yang mengepal sejajar Dengan dadanya itu.
"Yeay!! Terima kasih Raphael," Tutur Novaria sambil tersenyum simpul.
Melihatnya yang kegirangan itu membuatku cukup senang. Syukurlah untuk hari pertama kami berdua pacaran dia tidak merasa terlalu gelisah. Ekspresi kegirangannya itu membuat hatiku tampak berseri-seri. Aku sedikit tersenyum ke arahnya.
"Kalian berdua ya.. kalau mau mesra liat tempat dong!" Sahut Alice.
Kami berdua pun menoleh ke arah Alice yang berada di samping Novaria. Hahaha… sikapnya Alice yang merasa iri sepertinya dengan Kemesraan kami berdua.
"Maaf-maaf. Aku gak berniat bermesraan disini kok." Ungkap ku.
"Terserah kalian berdua aja lah.. ngeliat kalian berdua deket-deketan malah bikin iri saja."
Hahaha.. benarkan dugaanku.
"Makanya Lic, cari pacar sana. Biar kamu bisa mesra-mesraan juga." Ucap Novaria sambil meledek Alice.
"Kalau mencari pacar seperti semudah membalikkan Telapak Tangan, aku sudah punya banyak pacar dari dulu," Ungkap Alice.
Kasihannya Alice.. tapi yang sedikit kutahu dia sama seperti Leon. Banyak anak-anak kelas yang lain juga menyukai dirinya. Hanya saja sepertinya dia tidak tertarik dengan masalah itu.
Bu Caroline pun mulai memanggil satu persatu murid untuk melakukan penilaian, "Dimulai dari Aaron dulu ya. Silahkan Aaron!" Ucap Bu Caroline.
Aaron pun segera berdiri setelah namanya dipanggil, "Siap Bu!" Dengan penuh ketegasan. Aaron mulai mendekati sebuah Gitar akustik. Dia mulai Memegang Gitar itu di lengannya.
"Oke bisa kamu mulai sekarang Aaron."
Aaron pun mulai memetik senar gitarnya. Untuk awalan, dia memakai Chord F Am C dan G. Sepertinya aku familiar dengan Intro Awalan musik yang memakai Chord itu. Dengan perlahan, nada-nada pun terbuat berkat senar yang dipetik.
Walau tak terlalu lancar, Bunyi-bunyi yang dihasilkan masihlah tergolong bagus. Aaron sepertinya lumayan bisa untuk menaikan sebuah Gitar akustik. Kami semua pun mendengar lantunan-lantunan Instrumental yang dibuat Gitarnya.
Pantas saja aku merasa Familiar dengan Kuncinya. Ini merupakan Kunci dari Lagu Dandelions. Aku sering mendengarnya saat sedang menyetel musik. Dan juga ini cukup mudah untuk dimainkan oleh para pemula.
Aaron pun mulai memasuki Reffnya. Tanpa sadar, aku mulai menyanyikan Lagunya dengan pelan.
"Wishing on Everyone that you'll be mine.. mine.." dengan suara pelan.
Aku pun mendengarkan Musiknya dengan penuh makna. Sambil menggerakkan kepala ke kanan dan kiri dengan mata yang tertutup sambil membayangkan bahwa diriku berada di hamparan bunga Dandelions yang mekar indah nan luas.
Beberapa menit berlalu…
Aaron menyelesaikan musiknya dengan baik. Dia pun membungkukkan badannya sambil memegang sebuah gitar di tangannya. Kami semua pun bertepuk tangan sebagai apresiasi terhadapnya.
__ADS_1
PLUK..PLUKK.
"Bagus Aaron." Puji Bu Caroline kepada Aaron sambil bertepuk tangan.
"Terima Kasih Bu." Aaron pun menundukkan kepalanya sebagai tanda terima kasih. Dia pun kemudian kembali ke tempat duduknya yang semula. Pandangan ku tertuju padanya yang berhasil memainkan gitarnya dengan Baik.
"Oke sekarang Giliran Adam Roswell," Ucap Bu Caroline.
Adam pun segera berdiri setelahnya. Dia mengarah ke sebuah Alat Musik Drum. Dia pun duduk di bangku yang tersedia untuk bermain Drumnya.
"Pertama-tama, aku ingin mengucapkan sedikit kata-kata. Kalau memang jelek mohon dimaklumi ya.." Adam sambil memegang stik Drumnya.
"Baik Adam, kamu boleh mulai sekarang."
"Baik Bu."
Adam pun mulai memukul Drumnya. Untuk awalan memang terkesan jelek. Aku juga tak tahu lagu apa yang dimainkan. Tapi lama kelamaan, suara yang dihasilkan cukup bagus. Dia terlalu merendahkan skill bermain Drumnya. Padahal ini lumayan bagus loh.
Beberapa Saat Kemudian….
Adam menyelesaikannya. Seperti biasa, kami semua bertepuk tangan untuk permainan musiknya. Tanpa berucap satu patah kata, Adam pun langsung duduk kembali di tempat semula.
Bu Caroline pun mencatat Nilainya di buku nilai yang dia pegang. "Selanjutnya."
******************
Beberapa waktu berlalu…
Baru saja Norman menyelesaikan penilaiannya. Dia bermain Alat Musik Harmonika yang dia mainkan dengan cara ditiup.
"Selanjutnya, Raphael Ignite." Ucap Bu Caroline sambil melihat ke arah Murid.
Kini giliranku untuk bermain Alat musik. Aku pun mendatangi sebuah Grand Piano yang berada di sudut ruangan. Aku melihat ke arah Senar-senar pianonya. Cukup bagus untuk sekelas Alat Musik yang dipakai untuk pembelajaran. Aku pun duduk di kursi yang disediakan.
Di depanku ada sebuah Buku yang berisi Chord-chord Lagu. Aku tidak membutuhkan buku itu karena aku sebagian Hafal dengan kunci-kunci lagunya. Aku pun mengetes bunyinya terlebih dahulu dengan memencet Chord C terlebih dahulu.
TINGG..
Aku pun mulai menaruh tangan kiri ku di sebelah kiri untuk bermain Bass-nya sementara tangan kanan untuk bermain Harmoninya.
"Silahkan dimulai Raphael."
"Baik Bu."
Aku pun mulai memainkan sebuah Lagu yang dibuat oleh Pianis Mozart. Sebuah lagu yang sudah tercipta lumayan lama hanya saja Lagu ini memiliki Nada yang sangat bagus dan lumayan mudah dimainkan.
'Piano Sonata no 16 in C Major'
Seperti namanya, lagu ini dominan menggunakan Kunci C mayor. Aku pun mulai memainkan Bagian Allegronya.
Sebuah bagian jembatan yang terdiri dari tangga nada mengikuti, sampai pada irama di G mayor, kunci yang kemudian memainkan tema kedua. Sebuah codetta mengikuti untuk menyimpulkan eksposisi, kemudian eksposisi diulangi.
Perkembangannya dimulai di G minor dan dimodulasi melalui beberapa kunci. Rekapitulasinya dimulai, secara tidak biasa, dengan kunci subdominan F mayor.
Bass Alberti yang dimulai sebagai triad C mayor pada saat ini menjadi triad F mayor, diikuti dengan pola tangga nada F mayor tangan kiri yang meniru ritme tangga nada A minor tangan kanan sebelumnya .
Aku bermain dengan sambil memperhatikan melihat senar-senar pianonya dengan fokus. Dengan lihainya jari-jari ku seperti sedang berdansa di atas piano yang berbunyi ini. Menggunakan kombinasi-kombinasi antara jari-jari ku yang sudah terlatih
Sambil memainkan Pianonya, sejenak aku melihat ke arah mereka semua. Mereka semua sepertinya menikmati lantunan-lantunan bunyinya. Bahkan Bu Caroline juga sepertinya ikut menikmatinya juga. Aku pun jadi tambah semangat dalam bermainnya.
Kunci-kuncinya kuulang terus menerus dengan perpaduan yang sempurna. Bunyinya sangat menenangkan pikiran-pikiran. Aku pun bermain sambil tersenyum ke arah mereka semua. Tanpa melihat ke Arah Pianonya.
Sesudah memainkan Allegronya, aku memainkan bagian selanjutnya yaitu Andante. Pergerakan kedua ada pada kunci G mayor, kunci dominan C mayor. Musik dimodulasi ke kunci dominan D mayor, dan kemudian kembali ke G mayor di mana eksposisi didengarkan lagi.
Untuk perkembangannya, musik dimodulasi ke G minor, lalu B mayor, lalu C minor, lalu G minor dan terakhir kembali ke G mayor, yang kemudian terjadi rekapitulasi diikuti dengan coda pendek.
Berulang terus kulakukan Hal itu sampai Bagian Andantenya selesai. Kemudian tinggal bagian yang terakhir. Sekarang giliran Rondo : Allegreto. Untuk bagian ini hanya sekitar 1 menit saja. Pergerakan ketiga dalam bentuk Rondo dan dalam kunci tonik C mayor. Tema pertama hidup dan menentukan suasana karya tersebut. Tema kedua dalam G mayor dan berisi bass Alberti di tangan kiri. Tema pertama muncul kembali dan disusul tema ketiga.
Tema ketiga ada dalam kunci minor dan dimodulasi melalui banyak kunci berbeda sebelum dimodulasi ke dalam C mayor. Tema pertama muncul kembali diikuti dengan coda dan akhirnya diakhiri dengan C mayor.
__ADS_1
Di akhir, aku pun menekan Kunci F Mayor dengan Kencang……