
" dokter gimana keadaan ibu saya " tanya beni saat melihat dokter keluar dari ruangan
" mohon maaf pak, saya sudah berusaha yang terbaik tapi Tuhan berkehendak lain " jawab dokter
" apa maksud dokter " tanya Roni
" ibu anda sudah meninggal " ucap dokter
" apa dok, nggak nggak mungkin kan dok, dokter pasti salah coba Sekarang dokter periksa lagi " ucap Roni tidak percaya
" maaf pak tapi memang kenyataannya seperti itu, dimohon anda harus sabar " ucap dokter
perasaan beni saat ini campur aduk, rasanya seperti di hantam batu yang sangat berat saat mendengar kenyataan pahit itu sampai dirinya tidak bisa berkata-kata
" apa masih ada yang perlu di tanyakan lagi pak " tanya dokter dan hanya dijawab gelengan oleh keduanya
" baiklah kalau begitu saya permisi dulu dan sebentar lagi akan ada petugas yang akan mengurus jenazah ibu anda " ucap dokter itu dan lalu pergi meninggalkan mereka berdua
sedangkan beni dan Roni langsung masuk kedalam ruangan, air matanya lolos begitu saja saat melihat ibunya sudah terbujur kaku di atas ranjang rumah sakit
" kenapa ibu ninggalin beni Bu " ucap beni
" iya Bu kenapa ibu harus pergi secepat ini " kata Roni
" sebentar lagi Nova akan menikah Bu, katanya ibu mau melihat cucu ibu menikah tapi kenapa ibu harus pergi " ucap beni dengan suara yang serak
mereka berdua terdiam dengan air mata yang masih saja menetes
" mas apa kamu akan kasih tau mbak Mirna soal ibu " tanya Roni
" aku akan kasih tau Mirna pelan pelan, aku nggak mau dia shock ron " kata beni
" iya mas, lebih baik begitu " katanya
" tunggu aku akan telfon Rendy " ucap beni, yang langsung di angguki oleh Roni
" hallo ada apa pa "
" ren kamu dimana "
" masih di ruangan Cika pa, gimana pa "
" kamu bisa keluar sebentar "
" bisa pa, tunggu sebentar "
" hallo pa aku sudah di luar "
" ren kamu bisa kan keruangan nenek "
" ada apa pa, kenapa suara papa seperti itu terdengar seperti sedang menangis "
" papa akan kasih tau semua nanti setelah kamu datang kesini "
" baik pa aku akan segera kesana "
" baiklah "
setelah beni mematikan ponselnya dia langsung duduk di kursi sofa yang ada di ruangan itu dengan tangan memegang kepalanya
tidak berselang lama Rendy datang dan masuk kedalam ruangan
" ada apa ini " tanya Rendy bingung
__ADS_1
" nenek meninggal ren " ucap beni
" apa pa, papa nggak becanda kan " ucap Rendy
" buat apa papa becanda ren " ucapnya
" ya Tuhan kenapa ini bisa terjadi, aku belum begitu dekat dengan nenek " ucap Rendy sedih
" kamu sabar ren " ucap Roni
" iya om " ucap Rendy
" ren " ucap beni
" iya pah " katanya
" papa minta tolong jangan kasih tau soal ini kepada Cika " ucap beni
" iya pa aku nggak akan kasih tau Cika " ucap Rendy
" papa mau telvon mama kamu dulu " ucap beni
Rendy memberi tau Rosa untuk menjaga Cika
tidak lama kemudian Nova dan mamanya masuk dengan terburu-buru
" nenek " ucap nova dengan menangis, lalu di peluk erat oleh Rendy
" kenapa kamu nggak kasih tau aku pa " ucap Mirna dengan air mata yang terus mengalir
" aku nggak mau kamu khawatir ma " ucapnya menenangkan
" biar aku bereskan barang barang pa " ucap Mirna
" permisi saya mau memindahkan jenazah di mohon menyelesaikan administrasi nya " ucap salah satu petugas
" baik pak " ucap beni
beni keluar untuk menyelesaikan administrasi sedangkan Nova dan mirna masih tetap membereskan barang-barangnya
di tempat lain tepatnya di ruangan Cika, Rosa masih mengalihkan perhatian Cika
" Ros apa Fero nggak pernah kesini " tanya Cika
" katanya sih dia kesini pas Lo kecelakaan trus ada pasien ya di balik lagi ke Jakarta sampai sekarang belum kesini lagi " kata Rosa
" padahal aku kangen banget sama dia " ucap Cika
" idih dasar bucin " ucap Rosa
" sitik aja sih Lo, enak Lo disini berdua bisa nyender lah gue " ucap Cika
" yaelah, ceritanya iri toh anak ini " kata Rosa meledek
Rosa terus meledek Cika dengan memeluk Johan sedangkan Johan hanya ikut senang melihat keusilan kekasihnya itu
" udah dong kasian dia, ntar nangis lagi " ejek Johan
" ngeselin banget sih kalian ini, mana ponsel aku nggak ada lagi mau telvon Fero " ucap Cika
" hahahaha " Rosa dan Jo tertawa melihat tingkah Cika
******
__ADS_1
suasana di rumah duka saat ini begitu ramai, karena memang ibu beni adalah orang baik
beni mencoba tabah dalam situasi ini, dia dan semua orang membacakan tahlil untuk almarhum ibunya
" yang tabah ya Roni beni, saya turut berdukacita " ucap pak RT
" iya pak terimakasih " jawab mereka
" ayo kita sholatkan agar bisa segera di makamkan pak " ucap pak ustad
" baik pak " jawab beni
mereka mulai menyolatkan jenazah ibu beni, kemudian mereka langsung memakamkan jenazah di pemakaman umum
" Bu maafin beni kalau beni punya salah sama ibu " ucap beni
" iya Bu maafin Mirna juga kalau Mirna juga punya salah " ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca
" nek kenapa nenek ninggalin Nova begitu cepat, katanya nenek mau ngeliat Nova menikah, Nova mau nikah nek " ucap Nova dengan suara yg serak
Rendy langsung memeluk tubuh Nova untuk menenangkan nya
" sayang lebih baik kita doakan saja supaya nenek tenang di alam sana " ucap Rendy
mereka semua berdoa dan satu persatu Tetangga yang hadir pun mau meninggalkan tempat pemakaman hanya menyisakan keluarga saja
setelah beberapa menit mereka meninggalkan pemakaman dan kembali ke rumah mereka
" Ron gimana kalau kamu ikut mas ke Jakarta " ucap beni
" tapi mas gimana kerjaan aku disini " katanya
" kerjaan kamu masih bisa kamu urus Ron yang penting kamu tinggal sama mas dari pada kamu disini sendiri " ucap beni
" nggak mas aku akan disini saja, aku mau jaga rumah ibu mas ya kalaupun aku ke Jakarta aku hanya pergi untuk liburan disana " ucapnya
" kamu nggak papa disini sendiri Ron, kan bener apa kata masmu " tanya mirna
" iya mbak lagi pula kerjaan aku disini juga sudah lumayan buat hidup aku sehari hari " jawab Roni
" kamus memang mirip sama ibu keras kepala " ucap beni
" hahah ya gimana lagi mas " kata Roni
" owh iya pa nanti kan ada tahlilan disini mama akan pesankan catering ya, karena mama akan jagain Cika selagi kalian ngaji disini " ucap Mirna
" iya ma terserah kamu saja " ucap beni
semua orang sedang sibuk untuk acara nanti malam, Rendy menyuruh anak buahnya untuk tetap menjaga depan dan membantu mempersiapkan segala sesuatunya
" ma kan mama sudah pesan catering lebih baik sekarang mama ke rumah sakit agar Cika nggak curiga ma dan biarkan Rendy, appa dan om yang ada di sini " ucap Rendy
" iya ren makasih banyak kamu selalu bantuin kita " ucap Mirna
" ma jangan gitu, sebentar lagi kan Rendy juga menjadi anak mama " ucap Rendy
" yaudah kalau begitu mama siap siap dulu ya nak " ucapnya sambil meninggalkan Rendy
Rendy berjalan melihat foto keluarga yang di pajang di ruang tamu dan foto masa kecil Cika dan Nova
bibir nya tersenyum melihat kebersamaan Cika Nova saat masih kecil yang sangat senang ketika foto dengan neneknya
" anak kecil yang lucu " ucapnya dalan hati
__ADS_1