
Dengan mengendap endap turun ke lantai bawah dan tanpa meminta izin suami nya, avi pergi menemui sahabat nya di cafe biasa mereka menghabiskan waktu santai nya. Sepanjang perjalanan hati nya terus bergetar ,
ohhh.. apa yang sebenarnya terjadi...? kenapa aku sepanik inii...?
Entah memang lagi apes atau hanya perasaan nya saja, perjalanan kali ini terasa sangat panjang dan lama , padahal rute yang di lewati memang lah sama, hanya saja dari tadi selalu dapat lampu merah. sehingga menambah waktu tempuh yang biasanya hanya 25 menit sampai 30 menit ini belum juga sampai.
Huhh.. lagii lagii lampu nya merahh.. mana jalan macet.. bikin jantung makin deg deg kan saja.
Avi mengerutu dalam hati nya sendiri, sepanjang jalan dia hanya berbicara dalam hati nya, tidak seperti biasa nya yang suka ngajak pak ahmad ngobrol.
Kringg..kringg... abby menelfon avi, karena setelah makan dia naik keatas hendak menceritakan tetang perkawinan kedua nya dengan risa, namun tidak menemukan nya disana, bahkan di tempat anaknya bermain juga tidak ada.
Saat hp nya berbunyi nyaring avi terkejut dan tersadar dari lamunan nya, lalu mangangkat telfon dari suami nya.
" Halloo pa.. umm.. mama keluar sebentar ada yang mau di beli " Sebelum di tanya avi berinisiatif menjelaskan langsung bahwa dirinya hendak berbelanja, supaya suaminya tidak bertanya macam macam dan untung nya dia pergi bersama pak ahmad jadi tidak akan membuat curiga .
" o begitu, baiklah " merasa cukup jelas akan penjelasan istri nya abby memutuskan sambungan telfonya.
" Kita sudah sampai buk.." pak ahmad memberitahu nyonya nya bahwa mereka telah sampai di tempat tujuan nya, karena setelah menerima telfon dari sang suami iabkembali melamun hingga tak sadar bila mobil telah berhenti di area cafe.
__ADS_1
"Hum.. trimakasih pak, boleh tunggu saya sebentar saja pak, soalnya nanti pulang nya saya mau singgah belanja ke swalayan pak " untuk menyempurnakan alasan nya kepada abby, dan tidak ingin tertangkap kalau sedang berbohong avi mengajak pak ahmad untuk pergi belanja.
"Baik buk, saya tunggu di luar saja" setelah mengerti akan pesan sang majikan, pak ahmad pergi memakirkan mobil nya, dan duduk di teras cafe .
Avi pun pergi mencari sahabat nya di dalam cafe, lalu dia melihat luna sedang melambaikan tangan ke arah nya.. seketika detak jantung nya kembalii berlomba lomba berdetak seperti tidak beraturan.
" Haii vi apa kabar.. mau minum apa ?" linda lebih dulu menyapa sahabat nya itu, karena wajah avi terlihat sangat tegang , luna pun seakan ikut terbawa suasana hingga dia terlihat diam dari biasanya.
"Maaf , aku tidak punya banyak waktu, jadi tolong jelaskan saja sekarang!" setelah duduk berhadapan avi tidak mau menunggu lama lagi, perasaannya yang telah bercampur aduk, membuat dia tidak sabar diri bahkan menolak tawaran linda untuk memesan minum, bahkan wajah nya nampak sangat serius bagaikan orang yang sedang mengerjakan ujian sekolah.
Luna dan Linda saling beradu pandang, seakan saling bertanya akan bagaimana mereka memulai menceritakan nya. Tangan kanan luna menarik tangan linda yang ada di bawah meja, bermaksud meminta lindalah yang harus memulai nya.
"iyaaa..iyaaa, aku janjii" sambil mengangkat dua jari nya dan tersenyum masam seakan tidak yakin dengan janjinya sendiri avi cepat cepat mengiyakan nya.
"Begini.. emm.. itu.. a.. " linda terbata bata dan nampak gugup memulai cerita nya , membuat avi semakin geram dan meminta luna menggantikan nya.
"apaan seh lin, mau cerita gak sehh..kan sudah aku bilang tidak punya banyak waktu, luna kamu saja yang cerita!!" wajah nya sudah mulai nampak kesal karena tidak juga mendapatkan cerita yang membuatnya mati penasaran.
" aa..aku..? akuu tidak tau..ehh iyaa iyaa" saat luna menjawab tidak tau avi langsung melotot dan merubah mimik wajah nya seperti harimau yang teramat ganas hendak menerkam mangsanya. luna pun tidak bisa menolaknya lagi.
__ADS_1
" huhh.. itu wanita itu.. dia adalah is...triiii istri abby" luna pun tak kalah bergetar dari linda, untuk itu dia mengatakan hal yang sebenarnya dengan cepat, napas nya berhembusan kuat seperti kelelahan berlari.
Avi terdiam sambil melonggo mendengar jawaban luna yang singkat padat dan jelas itu, tubuh nya terasa kaku bagai tersambar petir di siang bolong . Membuatnya bagai orang tak sadarkan diri, hingga tidak ada sepatah katapun, lalu dia berlari keluar bahkan dia tidak melihat pak ahmad yang menunggu nya di luar, tetapi pak ahmad mengerti bahwa sang majikan sudah selesai lalu dia beranjak mengambil mobil dan berhenti di depan nyonya nya berdiri.
Di dalam mobil avi sudah tidak kuasa lagi mengunci hatinya yang tersayat penuh luka sampai butiran air mata tak lagi mengenang dipelupuk mata namun sudah terjun membasahi pipi nya yang putih mulus.
*Ya Tuhan ternyata aku salah menilai nya, aku kira dia yang pendiam dan bijaksana adalah jodoh hidupku selamanya, namun aku tidak ada arti apa apa di hati nya.. hikss hiksss...
Aku kira dia bahagia akan perjodohan ini, aku kira dia ihklas menerima ku, ternyata semua dusta..
Dalam diam nya dia membagi hati, entah apakah aku ada di hati nya apa hanya di raga nya..
Mimpi pun aku tidak ingin ini terjadi, tapi kenapa ini yang aku alami, lalu bagaimana aku menghadapi orang tua ku , menghadapi gunjingan orang..
Aku tak sanggup Tuhann.. aku tak sangguppp.. ini sangat berat aku aku pikul*..
Banyak hal yang keluar dari kepala nya, sampai dia tidak tau hal mana yang akan terjadi hingga membuat prustasi, tetap diam seribu bahasa, mulut nya benar benar terbungkam, hanya pikiran nya yang saling berlomba mengeluarkan keluh kesah nya. pak ahmad pun yang tadi di pesan untuk mampir belanja tidak berani bertanya, dia membawa majikan nya pulang kerumah, karena tidak ingin menambah rusak suasan hati nyinya nya.
Mobil berhenti tepat di halaman rumah, pak ahmad masih setia menunggu avi tersadar dari lamunan nya, hingga lebih dari 10 menit ahkirnya avi mulai sadar jika mereka sudah sampai, kemudian keluar begitu saja tanpa sepatah kata pun, tidak seperti avi biasa nya yang selalu mengucapkan terimakasi, tapi pak ahmad paham jika telah terjadi sesuatu pada majikan nya.
__ADS_1
Saat masuk kedalam rumah avi langsung naik ke kamar nya yang ada di lantai dua. setapak demi setapak tangga ia lalui berjalan bagaikan orang yang hilang tenaga, lalu masuk tanpa menghiraukan abby yang sedang duduk di sofa.