
Mereka terkejut saat tubuh kekar itu berlari mendekat dan berteriak memanggil sayang, yaa Jhony sangat panik melihat wanita yang ia sayangi tersungkur karena sengaja di dorong oleh orang lain. Bahkan Abby muncul di belakang Jhony saat dia merasa penasaran melihat Jhony yang tidak melepaskan pandangan nya saat Risa berjalan meninggalkan mereka dan lama tidak kembali.
"Sayang... ohh tidak, kepala mu berdarah." Membopong tubuh mungil Risa. "Panggil polisi." Membentak Abby yang berdiri di sampingnya. "Berani kabur, nyawa taruhannya." Terlihat begitu bengis hingga Abby tidak berani memandang nya begitu juga dengan para wanita yang ada di sana.
Abby mengeluarkan benda pipih dari dalam kantong celananya, tiba tiba hape itu berpindah tempat.
"Apa papa sudah gila, mau melaporkan kami ke polisi?" Berteriak setelah berhasil merampas ponsel milik suaminya.
"Kamu yang gila, bertindak tanpa berpikir, kamu tahu kan siapa Jhony hahh...? apa masalah mu sampai terus menganiaya Risa? dia sudah meninggalkanku demi kamu, bahkan sangat membenciku, apa lagi mau mu." Melangkah hingga bola mata nya mampu menatap manik mata Avi dan meluapkan emosi nya.
Abby berlalu meninggalkan hape miliknya di tangan Avi dan keluar mengejar Jhony yang membawa tubuh Risa yang pingsan akibat benturan meja kaca yang cukup tebal.
"Jay, mana Risa..?" Hanya tersisa Jaya yang ada di lobby.
"Jhony membawanya bersama kakek dan adiknya." Mengusap wajah nya gusar. Karena Jaya tahu kecelakaan ini akan berimbas ke urusan bisnis mereka.
"Ayo kita susul mereka." Berjalan sambil sedikit berlari ke luar menuju mobil yang dia parkir tepat di depan lobby dan Jaya sudah ikut masuk kedalam mobilnya.
"Perlahan saja, kendalikan emosimu, Risa sudah ada yang menjaga." Jaya menasehati sahabat nya dan mengingatkan bahwa sekarang Risa sudah ada yang menjaga nya.
"Aku tidak terlalu memikirkan Risa, kamu tahu, Jhony memintaku lapor polisi, bahkan jika ada yang kabur dia akan meminta nyawa mereka dan aku yakin Jhony akan mencabut semua saham miliknya huhh.." Menghempaskan nafas nya lesu.
"Aku juga berpikir begitu, memang apa yang sudah terjadi?" Menatap sahabatnya yang fokus memperhatikan jalanan.
"Entahlah aku masuk Risa sudah pingsan dan tersungkur di lantai, yang pasti ulah istriku dan sahabatnya, karena mereka semua ada disana.
"Ya Jhony sudah mengatakan itu saat pak Hadi bertanya." Mengenali mobil Jhony yang sering dia pakai kemana pun dia pergi. "Itu mereka.." Menunjuk mobil yang berhenti di hadapan mereka karena lampu merah.
"Syukurlah kita tidak kehilangan jejak." Menyandarkan tubuhnya pasrah sambil menunggu lampu hijau.
***
Avi terlihat panik saat Abby begitu marah dan tegang apa lagi saat teringat akan kata kata Jhony yang sudah mengancam nya.
__ADS_1
"Semua ini karena ulah mu Lun, aku kan tidak menyuruhmu mendorongnya." Berjalan mondar mandir sambil menyalahkan Luna.
"Apaa..? semua aku lakukan karena aku peduli padamu, tapi sekarang kamu menyalahkan aku..?" Terdengar emosi saat dirinya disalahkan begitu saja.
"Sudah sudahhh.. aku yakin dia hanya mengertak, buktinya dari tadi ngak ada polisi yang datang." Linda menenangkan dua sahabat nya yang saling tersulut emosi.
"Huhh.. maaf kan aku Lun, aku sangat takut jika Abby benar benar marah padaku." Memeluk Luna yang sudah ia salahkan karena rasa cemas nya.
"Ini semua gara gara wanita murahan itu, atau mungkin saja dia hanya berpura pura? coba pikir..!? kenapa bisa pas banget dia jatuh dan mereka masuk... shitt.. kita di jebak oleh nya..!" Terus berpikir bagaimana yang sesungguhnya mereka tidak bersalah dan mereka hanya korban, itulah yang ada dipikiran nya saat ini.
"Dasar wanita licik...! yaaa... ini bisa menyelamatkan kita,, kamu benar banget Lun, ini pasti jebakan dari nya yang pura pura pingsan saat mendengar kekasihnya berteriak." Membenarkan pikiran Luna dan akan menggunakannya untuk menyangkal jika mereka benar benar di laporkan polisi.
"Hahhh.. iya juga buktinya polisi ngak ada yang datang, sudahlah ayo kita cabut, sialan banget aku udah takut dan gemetar gara gara ancaman nya." Avi juga bersemangat atas ide para sahabat nya dan mengajak mereka pergi.
Klekk..klekk..cklekkk... suara pintu terkunci yang dipaksa terbuka.
"Sialann.. kenapa pintu nya terkunci..?" Memandang kedua sahabatnya.
"Tenang say, mungkin kamu panik, sini aku yang buka." Linda mencoba membuka pintu, klekkk..klekk.
"Kita terkunci.." Kembali ke sofa dan menaruh tubuh nya lemas disana.
"Apa loe ngak mintak kunci nya saat lelaki tadi membukaan pintu kita Vi..?" Tatapan kecewa ia arah kan pada Avi.
"Aku ngak kepikiran kayak gini, lagian berani sekali mereka mengunci kita, kenapa sampai ngak dengar juga seh ada yang ngunciin kita.." Mengeluarkan hape nya dari dalam tas lalu menelfon bagian resepsionis.
"Selamat siang, hotel.." Belum selesai mengucapkan salam, suara di seberang telfon sudah menyerangnya.
"Jangan banyak bicara, bawakan kunci kamar 101." Tidak bisa mengontrol emosinya, merasa kesal atas perbuatan nya mengunci mereka di dalam.
"Maaf buk, bapak yang meminta untuk mengunci pintu nya, saya tidak berani membukanya." Suara nya gugup saat mendengar istri boss nya emosi.
"Bukaaa..! aku ngak mau tahu..!" Semakin emosi hingga membentak.
__ADS_1
"Maafff buk, saya ngak berani, maaf." Memutus panggilan mereka karena ngak ingin melawan perintah boss nya.
***
Mobil Jhony sudah mengarah masuk ke dalam rumah sakit dan di susul mobil Abby, mereka menyaksikan betapa panik nya Jhony saat membopong tubuh Risa masuk ke ruang IGD.
Jaya dan Abby menyusul mereka saat sudah berhasil memarkirkan mobil nya.
"Jhon.. bagaimana Risa? aku minta maaf atas kelakuan istriku." Duduk di samping Jhony yang sedang menunggu Risa di tangani oleh dokter.
"Serahkan mereka kepada yang berwajib, maka aku akan memaafkanmu." Memposisikan tubuh nya bersandar di kursi dan badan nya menengadah ke atas membuat dirinya serileks mungkin.
"Tapi dia istriku Jhon.." Berharap Jhony berubah pikiran namun Jhony tidak menjawab bahkan meliriknya pun tidak.
Kakek dan Jhiny hanya terdiam karena mereka tahu dalam posisi yang di buat rileks oleh Jhony adalah ungkapan ketegangan dan luapan emosi nya yang tak ingin orang lain tahu. Jika dia sudah diam itu berarti begitu banyak beban dalam pikirannya, apa lagi mereka tahu Jhony sangat menyayangi Risa sejak dia di miliki Abby, namun dirinya setia menunggu Risa hingga akhirnya dia benar benar bisa menjalin hubungan sampai hari ini.
"Keluarga nyonya Risa.." Dokter keluar dari balik pintu IGD.
"Yaa, saya dokter." Begitu cepat menjawab panggilan dokter padahal Jhony terlihat termenung. "Bagaimana calon istri saya dokter." Bertanya kondisi Risa.
"Nyonya Risa sudah sadarkan diri, tidak ada yang di khawatirkan hanya luka luar saja, dan bisa langsung pulang, tapi ingat harus banyak istirahat, kepalanya terasa pusing akibat benturan. itu saja terimakasih." Dokter tetap menyarankan Risa untuk beristirahat meskipun di perbolehkan langsung pulang.
"Baik dokter, terimakasih banyak atas bantuan dan saran nya." Jhony menjabat tangan dokter lalu masuk menemui Risa untuk menjemputnya pulang.
"Sayang... apa kepalamu sangat sakit? apa kamu pusing ?" Suaranya bergetar , begitu panik melihat kepala Risa terbalut dengan kain kasa.
"Tidakk, aku baik baik saja.. bahkan dokter bilang aku boleh pulang sekarang." Mencoba duduk namun kepala nya terasa berputar dan itu membuat Jhony semakin panik lalu menggendong tubuh Risa.
"Pak ini kursi roda nya." Suster membawakan kursi roda untuk Risa.
"Tidak perlu suster, terimakasih.. kami pulang." Jhony menolak pemberian kursi roda dari suster yang bertugas dan terus membopong tubuh mungil kekasih nya keluar dari ruang IGD menuju mobil nya yang ia parkir di depan.
"Mana kakek dan Jhiny ?" Menanyakan kakek dan adeknya saat tidak melihat mereka bersama.
__ADS_1
"Mereka sedang mengurus administrasi sayang." Berhasil membaringkan tubuh kekasih nya di dalam mobil dan dia buat senyaman mungkin.