
Jhony membawa mobil nya masuk ke dalam halaman kantor polisi, kakek dan Jhiny sudah mengerti maksud kedatangannya, namun tidak dengan Risa yang tadi menikmati pembaringannya di kursi depan yang membuatnya tertidur di perjalanan.
"Jagalah kakakmu Jhiny, aku tidak akan lama." Menutup pintu sangat pelan karena tidak ingin Risa terbangun dari tidurnya.
"Jhon.." Abby memanggil Jhony saat dia turun dari mobil nya bersama Jaya.
"Jhony.." Sang empunya nama terus saja berjalan masuk ke dalam kantor polisi, membuat Abby berlari kecil mengikutinya dan Jaya ikut di belakangnya.
Sementara dari dalam kantor polisi Jhony di sambut oleh kedua polisi.
"Siang pak Jhony.. silahkan duduk." Berdiri di meja kerja dan mempersilahkan Jhony untuk duduk. "Siang pak Abby, mari silahkan." Juga meminta Abby yang nampak tergesa gesa mengikuti Jhony.
"Jhon.. aku mohon batalkan , aku bersedia menyerahkan hotel pratama di kota mu dan aku berjanji tidak akan terjadi apa apa lgi pada Risa, aku menjamin itu tidak akan pernah terjadi lagi dengan nyawaku sendiri." Abby memegang tangan Jhony erat yang bertumpu di paha nya dengan penuh harapan.
"Seyakin itu?" Tidak bergerak bahkan melirik pun jg tidak mata nya memandang kosong. "Atas dasar apa kamu memintaku melepaskannya?" Menatap polisi yang duduk di hadapan nya yang setia mendengarkan perundingan mereka berdua.
"Bagaimanapun dia istriku, ibu dari anak ku Jhon." Menatap tubuh Jhony yang duduk tegap, masih berharap maaf dari nya.
"Bagus kalau kamu sadar." Menganggukan kepalanya. "Ingat jangan biarkan dia menyentuh kulit Risa sedikitpun, bahkan memandang nya pun aku tidak mengizinkannya..! tidak ada maaf jika itu terjadi." Memundurkan kursinya lalu menatap tajam mata Abby.
"Aku janji." Tanpa sadar Abby meraih tubuh Jhony dan memeluknya.
"Maaf pak, aku mencabut laporan nya, terimakasih banyak bantuannya." Bersalaman lalu pergi meninggalkan Abby bersama petugas polisi di sana.
"Jhon.. terimakasih." Jaya menghampiri Jhony yang berjalan keluar saat dirinya menunggu di luar kantor polisi.
"Untuk apa?" Mengerutkan jidat nya.
"Aku tahu kamu berhati baik." Menepuk pundak Jhony.
__ADS_1
"Aku bukan Jhiny yang bisa kamu gombalin." Kembali berjalan namun dengan senyuman di bibirnya. "Panggil aku kakak..!" Terus berjalan tanpa melihat Jaya di belakang nya yang masih menatap tubuh nya yang berlalu.
"Siap kakak..!" Seperti seorang polisi suaranya terdengar lantang.
Yess..! itu artinya dia benar benar merestui hubungan ku dengan Jhiny. Akhirnyaaaa....
Jhony masuk ke dalam mobil dan membawa mereka menuju rumah orang tua Risa seperti yang di inginkan oleh calon istrinya itu. Sementara di kantor polisi Avi , Luna dan Lidia telah di bebaskan setelah kurang lebih satu jam mendekap dalam jeruji besi atas laparan penganiayaaan. Dan Abby tidak segan segan memperingatkan bahkan sampai mengancam istri dan sahabat nya untuk tidak menganggu Risa lagi seperti yang di minta oleh Jhony.
"Ingat jika kalian sampai berani menyentuh kulit Risa , Jhony tidak akan memaafkan kalian, dan aku juga tidak akan membantu lagi. Terutama kamu Avi, buang rasa dendam mu yang tidak berkesudahan itu!" Seperti hilang kendali Abby memarahi istrinya di depan petugas polisi yang membawa mereka keluar dari balik sel. "Hidup ini keras jadi pakai akal sehat." Pergi berlalu meninggalkan kantor polisi.
"Ayo Jay.." Mengajak Jaya pulang saat melihat Jaya sedang duduk di teras sambil memainkan hape miliknya.
Jaya berdiri tanpa menjawab dan langsung berjalan menuju mobil yang mereka parkir di halaman. Jaya melajukan mobil menuju Hotel Pratama, di sepanjang jalan Jaya fokus mengendarai mobil dan tidak ingin menanyakan kasus karena dia yakin sahabat nya sedang merasa kecewa.
***
"Huu"uehhh... suami mu masih saja belain itu perempuan, apa dia ngak pernah mencintaimu seh say?" Linda merasa kesal atas ocehan Abby.
"Sudahlah Lin, benar kata Luna buat apa kita terus menyimpan dendam padanya, aku mengakui dia memang tidak berniat merusak rumah tangga kami. Hanya saja aku yang terlalu mengikuti emosi dan dendam karena Abby saja yang terus mencintai nya maka aku membencinya." Avi menyadari dendam nya yang tak pernah padam bukan karena Risa namun karena suaminya yang masih saja mencintainya. "Ayo kita pulang.. aku langsung pulang kerumah naik taxi, kalian kan harus ke hotel ambil mobil kalian." Meninggalkan kedua sahabat nya karena ingin langsung pulang menemui suaminya.
"Baiklah, hati hati ya say.." Mereka keluar bersaamaan dari kantor polisi.
Klik..klik.. seseorang mengenakan topi dan kaca mata hitam dengan tas selempang sudah berhasil mengambil beberapa jepretan saat mereka bertiga keluar dari pintu kantor polisi.
"Heiii..." Luna berteriak saat menyadari orang yang berdiri tidak jauh di halaman kantor polisi mengarahkan camera nya pada mereka.
"Ada apa..?" Avi tidak menyadari apa yang terjadi begitu juga dengan Linda.
"Kalian tidak melihatnya..?" Mengangkat kedua tangannya dan merasa heran.
__ADS_1
"Lihat apaa..?" Linda yang tadi menyemangati Avi saat berpamitan pulang tidak melihat sekitarnya.
"Laki laki yang naik motor berdua itu tadi sengaja memofoto kita, kalian benar benar tidak melihat..?" Terlihat dua orang mengendarai motor keluar dari halaman kantor polisi.
"Benarkah..? habislah kita kalau itu wartawan.." Linda langsung berpikir itu wartawan.
"Huhh.. kenapa bisa ceroboh seh kita, bagaimanapun aku yang paling di sorot, jadi harus bagaimana ini?" Avi panik saat Linda mengatakan mereka wartawan, pikirannya langsung tertuju pada nama baik suami nya.
"Sudahlah kalau memang benar pasti besok kita akan terkenal, aku pulang." Luna pasrah dan berjalan menuju jalan raya.
"Tercemar bukan terkenal...!!" Linda dan Avi ikut berjalan dan mereka menunggu taxi lewat di tepi jalan.
Mereka mendapatkan taxi dan berpissh di sana, Avi langsung pulang kerumah nya.
Aku harus berubah, papa sudah mau mengeluarkan aku, brati dia peduli, yaa.. ternyata dia benar benar berubah seperti janji nya, bodoh nya aku tidak mempercayainya.
Aku juga merasa Risa tidak pernah menggangu, tetapi kenapa aku mudah saja termakan hasutan sahabatku.. huhhh..
"Maaf buk, kita sudah sampai." Sopir taxi membuyarkan lamunan Avi hingga tersentak atas panggilannya.
"Ohh.. maaf pak, ini ongkos nya, kembaliannya ambil saja pak." Keluar dari mobil dan berjalan masuk namun pikirannya masih bermain dengan hatinya yang menyesali perbuatannya tanpa berpikir jernih akan berakibat sampai ke bui.
*Apa yang di lakukan papa sampai dia berhasil mengeluarkan kami ya..? aku harus bilang apa padanya..?
Ahh.. setidaknya aku harus minta maaf padanya dulu, selanjutnya entahlah* ..
Berjalan menatap kosong jalan menuju pintu utama hingga dirinya tidak mendengar teguran dari pak Ahmad yang sedang duduk di pos.
***
__ADS_1
Maaf buat semua yang setia menunggu, terimakasih atas perhatian dan dukungan like , komen dan vote nya kakak kakak semua. Semoga kita sehat selalu ❤🙏