
Saat terdengar suara Avi menyapa seisi kamar tidak hanya Abby yang gelagepan, seperti menjalankan detik jarum jam yang sempat terhenti karena ketidak sengajaan Bita namun membuat pria dan wanita dewas seakan terhenti detak jantung mereka saat mata memandang bagian tubuh yang tabu.
"Permisi buk.." Segera turun lalu berjalan menunduk di hadapan Avi dengan tangan nya yang masih setia ia letakan di dada nya.
"Loh mba Sum mau kemana..?" Merasa ada yang aneh atas sikap mba Sum yang tidak seperti biasa nya.
"Mba ini punya mba ketinggalan loh.." Bita berteriak sambil menunjukan kancing baju sebesar koin 100 rupiah yang tadi tak sengaja ia putuskan dari tali benang nya.
"Kakak.." Abby hendak menghentikan putrinya tapi sayang Bita sudah turun dari tempat tidur dan berlari mengejar mba Sum namun di stop oleh mama nya.
"Apa itu sayang..?" Membuka jari jari Bita yang sedang menggengam kancing baju.
"Ini punya mba Sum ma, tadi .." Menunjukan benda kecil bulat di telapak tangan nya namun Avi buru buru mengambil dari tangan Bita sambil menatap tajam suaminya.
"Apa yang kamu lakukan haa..? tidak cukup kamu bermain gila dengan mantan pacarmu, sekarang kamu ulangi lagi, bahkan dengan pembantumu sendiri.. a...a...a..." Mendatangi Abby yang duduk di tepi ranjang milik Bita dengan wajah penuh api menyala dan tidak hanya caci maki saja yang ia luapkan bahkan tangannya sudah mencabik cabik tubuh suaminya dengan kuku kukunya yang panjang dan terawat itu.
Sementara Abby hanya terdiam dan pasrah diri akan amukan istrinya tanpa membalas sedikitpun namun sikap dinginnya itu semakin membuat Avi kesetanan mencabik kedua tangan hingga dirinya sendiri kelelahan dan menangis meraung raung di kamar Bita.
***
Kakek Hadi Djaya begitu bahagia di masa tua nya mendapatkan cucu baru yang sebentar lagi akan menjadi cucu mantu nya, bahkan dia selalu ingin meluangkan waktu untuk berkumpul bersama. Jhony dan Risa siang itu langsung berkunjung kerumah kakek sehingga dia tidak kembali ke kantor.
"Kita ngak telfon kakek dulu yank?" Mengadap ke kiri dan menatap Jhony yang lagi serius memegang setir.
"Tidak usah, ini menambah nilai plus untuk ku ha ha.." Tertawa namun hanya dua suku kata saja dan menatap genit wanita yang duduk menemani perjalanan nya kerumah kakek.
"Kok untuk mu, harusnya aku lah.." Terkesima menatap bunga bunga di sekitar rumah kakek saat mereka mulai memasuki area perkebunan rumah kakek yang sangat tertata rapi.
"Kamu ngak tahu kan kakek masih sering panggil aku cucu durhaka kalau suka lupa mengunjunginya sejak aku memilih tinggal sendiri." Mematikan mesin mobil saat mereka sudah berhenti tepat di halaman rumah kakek.
__ADS_1
"Ha ha kakek lucu banget seh.." Menaiki tangga pada teras rumah kakek yang di bangun seperti istana.
"Lucu gimana , mau aku di kutuk jadi batu ?" Menggandeng tangan Risa saat dia terlihat lelah menaiki tangga rumah kakek yang memang seperti menaiki bukit. "Mau aku gendong..?" Berbalik badan dan berhenti menatap Risa dengan senyuman paling mempesona.
"Moduss.." Menepuk tangan yang setia menggandeng nya.
"Siang den.. non." Beberapa penjaga rumah kakek menyapa ramah dua insan yang sedang bergandengan tangan yang memang setiap hari nya mereka berjaga namun tetap bercengkrama santai dengan yang lainnya di depan pintu masuk rumah.
"Haii pak broo, gimana sehat semua..?" Jhony menyapa beberapa orang kepercayaan kakek.
"Sehat den.. sehat." Saling bersaaman menjawab sapaan cucu tersayang tuannya yang memang mereka juga dekat sejak Jhony masih kecil dan sudah siap membukakan pintu utama yang menjulang tinggi hingga menapkan kemewahan dan kemegahan rumah.
Jhony dan Risa langsung berjalan masuk mencari ruang kerja sang kakek, meskipun kakek sudah berusia 60 tahun namun masih saja aktif memantau bahkan sering membantu pekerjaan Jhony menangani beberapa hotel milik nya yang setiap hari nya semakin berkembang pesat.
Tokk..tokk.. mengetuk pintu ruang kerja sang kakek.
"Masuk.." Terdengar suara kakek meminta orang di balik pintu untuk masuk.
"Lebay tuhh kek.." Mengadu pada sang kakek saat di rasa cubitannya hanya sekedar mencolek.
"Ha ha.. ini baru cucu yang baik, baiklah kita ngobrol di belakang saja, ayoo.." Tertawa bahagia melihat tingkah manja kedua nya, dan kakek mengajak mereka ke taman belakang yang ada beberapa gazebo di sana.
"Dimana si beo kek..?" Menanyakan adik tercinta nya yang memang selalu berisik saat berjalan tanpa mendengar suaranya padahal biasanya saat mereka baru sampai depan pintu utama sudah di kejutkan oleh suara tawa ataupun sapaan melengking nya.
"Dia meminta izin ke toko buku setelah pulang kuliah, mungkin sebentar lagi juga pulang." Berjalan melewati ruang tengah yang begitu luas hingga memakan waktu untuk sampai ke taman belakang dan benar saja belom sampai ke taman mereka sudah di kejutkan dengan suara yang berteriak heboh memanggil nama Risa.
"Kak Risaaaa...." Saat Jhiny datang melihat mobil kakak nya terpakir di halaman rumah yang sengaja di buat garasi luas untuk parkir di luar dan antusias bertanya kepada para penjaga yang mengatakan jika kakaknya datang bersama dengan calon istrinya membuat naluri beo nya tak tertahankan lagi.
"Wahh..panjang umur si beo mah.." Jhony tetap berjalan saat kakek dan Risa justru menghentikan langkah nya menunggu Jhiny yang bersemangat memanggilnya.
__ADS_1
"Kok kakak ngak bilang kalu mau kesini, padahal tadi jin ketemu..." Perkataan nya terhenti saat kakek menggeram dan menyempurnakan nama cucu nya itu.
"Hemm.. Jhiny.." Sering tidak terima saat cucu ragil nya menyebut nama singkat nya karena terdengar horor menurut kakek namun ada saja ulah usil si Jhiny.
Risa dan Jhiny pun terkekeh melihat kakek protes lalu mereka bersama sama menyusul Jhony yang sudah lebih dulu ke taman belakang.
"Tarraaa.. gimana cantik ngak..?" Menunjukkan air mancur yang menampakan warna warni secara bergantian.
"Cantikkk.." Risa dan Jhiny berteriak bahagia sedangkan kakek hanya tersenyum melihat kebahagian cucu cucunya.
"Kek..ini ada undangan dari Doni." Risa mengeluarkan undangan dari dalam tas selempang favoritnya.
"Kapan mereka menikah..?" Menatap undangan yang di kemas dengan pita merah namun tidak membuka nya justru bertanya pada Risa. "Lalu kalian kapan..?" Belum lagi mendapatkan jawaban kakek sudah mengalihkan pembicaraan hingga membuat Jhony datang mendekat saat tadi asyik memberi makan ikan ikan yang ada di kolam.
"Gimana kalau seminggu setelah Doni..?" Jhony antusias karena kakek nya selalu mendukung semua niat baik nya, hanya saja Risa merasa belom siap saat itu.
"Baguss..lebih cepat lebih baik." Mengangguk nganguk kan kepalanya.
"Tapi itu terlalu cepat, bagaimana bisa semua butuh persiapan sayang." Sudah tidak malu menyebut Jhony dengan panggilan sayang di hadapan sang kakek atau orang lain."
"Jika kamu mau besok pun aku bisa menyiapkan semua nya dari detik ini aku menekan telfon, besok kita bisa menikah." Terlihat serius dan antusias meyakinkan calon istrinya namun berakhir terbahak bahak saat Jhiny ikut komentar.
"Somm..bongg.." Kakek dan yang lain ikut tertawa saat Jhiny melempar kakak nya dengan kacang kulit yang ada dalam toples tersusun dengan beberapa makanan yang ada di gazebo hingga membuyarkan keseriusan kakaknya.
"Jadi mau besok atau seminggu kedepan..?" Masih meminta kepastian Risa dengan waktu yang di tentukan olehnya.
"Terserah deh, tapi aku mau biasa biasa saja." Menjawab pasrah.
"Tidak bisa, kakek sudah menyiapkan semuanya sejak kita datang melamar." Menolak keinginan Risa yang hanya ingin pernikahan biasa.
__ADS_1
"Baiklah.." Menyubit kedua pipi Jhony dan pasrah diri saat mendengar kakek sudah menyiapkan rencana pesta pernikahan mereka bahkan dari niat awal Jhony meminta kakek untuk melamarkannya.