Istri Keduaku Adalah Cinta Pertamaku

Istri Keduaku Adalah Cinta Pertamaku
Terenggut Tak Terselamatkan.


__ADS_3

Jhony yang duduk di luar ruangan bersama Abby hanya saling bungkam menunggu suster dan dokter memeriksa Risa. Namun lamunan nya terpecahkan saat suster membuka kedua pintu lebar - lebar dan terdengar suara bed tempat tidur di dorong keluar oleh suster yang lain nya.


"Siapa suami ibu Risa ?" Berdiri menghampiri kedua laki - laki yang terlihat panik di depan pintu.


"Saya suster." Kedua bersamaan menjawab dan mengakui sebagai suami Risa hingga suster mengulangi pertanyaannya.


"Suami ibu Risa siapa ya atau keluarga ibu Risa..?" Sabar menunggu jawaban hingga terdengar suara panik dari arah belakang suster.


"Saya ibu nya Risa, ada apa suster ?" Wajah mama mulai panik saat melihat kedalam Risa tidak ada.


"Maaf ibu, dokter menunggu ibu di ruangan nya." Meminta mama datang menemui dokter karena ada yang ingin disampaikan nya.


"Baik suster." Berjalan mengikuti suster di temani Sari.


"Mama jangan panik begini, lihat tangan mama tersa dingin." Menggandeng mama dan menguatkan hati mama.


"Semoga kakak mu baik - baik saja, karena tadi sudah terlihat segar." Karena pergi ke kantin jadi tidak melihat kecelakaan yang tidak di sengaja oleh Bita.


Mama dan Sari sampai di depan ruang dokter yang menangani anak nya. Lalu masuk dan mendengar kan saran dari dokter jika ia harus menandatangani surat persetujuan operasi pengangkatan janin karena pendarahan yang hebat dan mengakibatkan keguguran. Kehamilan yang sudah masuk 3 bulan ini terpaksa tidak bisa di selamatkan.


Mama menangis tersedu - sedu di pundak Sari, bahkan belum bisa menjawab saran dokter hingga dokter memberi semangat buat mama.


"Ibu maaf tidak bisa menyelamatkan cucu ibu, tapi kita harus cepat mengambil tindakan untuk kebaikan anak ibu."


" Baik doktet." Menandatangani berkas dan mengisi data. Lalu meninggalkan ruangan dokter dan menunggu di depan ruang operasi.


Ya Tuhan cobaan apa lagi ini, ampunilah segala dosa anak saya, dan semoga operasi ini berjalan lancar dsn Risa kembali sehat. Amin.


Mama memanjatkan doa - doa nya untuk Risa, kedua tangan nya ia satukan meminta kekuatan dari Tuhan agar operasi berjalan lancar. Jhony dan Abby ikut menyusul mama dan Sari setelah bertanya kepada suster kemana tubuh Risa di bawa.


Abby terlihat mondar - mandir sambil memijit kening nya. Merasa begitu resah menunggu operasi selesai .


Ya Tuhan selamatkan Risa dan anakku. Kenapa aku setegang ini, padahal waktu Avi operasi cecar aku sangat tenang.


Tolong kuatkan hatimu Ris, semua atas kebodohan dan keegoisan ku.

__ADS_1


Tangan nya mulai mencabut rambut - rambut tipis di janggut nya yang tidak benar - benar nampak , semua itu hanya karena rasa panik yang berlebihan dalam hati Abby.


***


Jaya siang ini baru akan menjenguk Risa saat semalam Doni menelfon dia sudah ngantuk berat jadi memilih siang ini datang berkujung dan bersamaan dengan Doni dan Dina.


Setelah mereka sampai di parkiran bersamaan nampaklah mobil mewah milik Abby.


"Lihat Abby sudah ada disini." Doni menunjuk mobil boss nya.


"Dan itu mobil Jhony, mereka datang bersamaan kah?" Menunjuk mobil di seberang mereka parkir.


"Entahlah." Berjalan meninggalkan parkiran menuju ruang rawat inap.


"Sayang tunggu, cepat sekali jalan nya." Doni memanggil Dina yang sudah lebih dulu meninggalkan mereka.


"Kasian Jaya kalau kita jalan berduan yank.." Menoleh kebelakang memainkan mata nya sebelah dan menembak ke arah Jaya dengan jari jempol dan telunjuk nya.


"Kamfrett lahh.. ha ha.." Jaya kesal tapi juga menertawakan dirinya sendiri saat mendengar ejekan Dina.


"Yang bener saja kalian, salah kamar ngak? baru juga tunangan blom lagi banyak anak nya tapi udah pikun ha ha.." Membalas ejekan Dina.


Kenak lo, lumayan kesempatan nyerang yang lagi kasmaran.


"Serius, ini memang kamar nya." Dina merasa yakin dan tidak salah lagi.


"Kita telfon Jhony saja, dia pasti tahu." Doni memberi ide untuk menelpon Jhony.


"Kenapa ngak telfon Abby saja, jelas dia lebih tahu." Jaya memilih Abby karena dia merasa Abby lah yang paling tahu bila berurusan dengan Risa.


"Jangan, tidak enak sama Avi, sekarang mereka sedang memulai hidup baru, Abby sudah iklas meninggalkan Risa dan memilih Avi, jadi kita harus menjaga perasaannya." Dina menjelaskan yang sedang terjadi tentang Abby dan keluarganya yang sekarang.


"Baiklah...Ok - Ok." Jaya mengikuti saran Dina.


Doni pun sedang menghubungi Jhony, sementara Jhony terkejut saat paha nya bergetar karena ada panggilan masuk di hape nya.

__ADS_1


"Hallo Jhon." Terdengar suara panggilan nya tersambung Doni langsung menyapa Jhony.


"Ya Don, ada apa?" Menanyakan maksud panggilan Doni.


"Itu Risa kemna ya, kok ngak ada di kamar, kami sudah di kamar nya neh." Menjelaskan rasa penasaran nya saat tidak menemukan Risa.


"Risa ada di ruang operasi." Menjawab apa ada nya.


"Ada apa memangnya, kenapa sampai operasi, bukan nya kemaren sudah baikan ?."Bertanya panjang lebar.


"Kemarilah nanti aku jelaskan." Meminta Doni datang ke ruang operasi karena mereka sedang menunggu berjalan nya operasi.


"Baiklah, kami kesana." Menutup panggilan telfon dengan Jhony.


Jaya dan Dina sudah setengah mati penasaran saat melihat mimik muka Doni yang tegang saat berbicara dengan Jhony dari balik telfon nya. Dan saat Doni menceritakan bahwa Risa sedang di operasi mereka semakin terkejut dan berlari menuju ruang operasi. Nafas mereka terengah - engah untung saja sudah sampai dan mereka melihat semua yang menunggu di depan ruang operasi terlihat sunyi dan tegang.


"Tante, yang sabar ya, kita berdoa agar Risa lekas sembuh dan sehat selalu." Dina nyamperin mama Risa,merangkulnya memberi semangat.


***


Avi menangis tiada henti bahkan mata nya sudah membengkak , rambut nya kusut tidak karuan karena tanpa sadar dia mengacak - acak kepala nya sendiri sampai tubuh nya terduduk di lantai kamarnya.


*Kini keluargaku sudah terenggut tak terselamatkan, Abby pasti akan rujuk kembali dengan nya setelah tahu mereka memiliki anak. Dan kami akan di abaikan nya.


Mungkin lebih baik aku pergi meninggalkan nya, sebelum luka ini semakin perih.


Ternyata benar, jika cinta itu tidak bisa di paksakan*.


Kring..kringg..kringg..kringg.. suara hape Avi begitu nyaring terdengar dan bergetar kuat di atas lantai di dekat nya duduk namun dia enggan menjawab.


Kring..kring..kringg.. suara telfonnya kembali berbunyi mungkin sudah lebih 5 kali, membuatnya mau tak mau mengambil hape nya dan mengangkat telfon masuk.


"Hallo ma.." Abby berada di seberang telfon yang sedari tadi menghubungi nya.


"Ma.. maafkan papa tidak bisa menghantar kalian pulang, apa mama dan kakak baik - baik saja?" Abby merasa khawatir mengingat istri dan anak nya pulang tanpa di antar oleh nya.

__ADS_1


😍Selamat Membaca, Terimakasih untuk dukungannya, semoga kita sehat selalu🙏😍


__ADS_2