
Doni dan Dina benar benar di sibukan dengan sesi foto keluarga dan juga para tamu undangan yang semuanya ingin mengabadikan moment paling bahagia ini, begitu juga dengan Jhony yang tidak ingin menyianyiakan moment indah ini.
"Sayang lama sekali ke toilet nya ?" Menelfon Risa yang ternyata mampir ke meja Jhiny dan Jaya.
"Hihii Jhiny memintaku duduk di belakang bersama mereka sayang, baiklah aku kesana." Terkekeh saat ingat dirinya tak kunjung kembali.
"Cepatlah, rinduku hampir saja meledak..!" Berbisik lirih pada hape yang menghubungkan mereka.
"Astagaaa.. rindu apa boom itu ha ha ha." Tawa nya membuat Jhiny dan Jaya penasaran.
"Apaan seh kak, heboh banget?" Ikut penasaran hingga terus memandang Risa tertawa geli.
"Kak Jhony.. biasalah kayak ngak tau aja, udah yuk kita kedepan, kakek nungguin tuh." Mereka pergi meninggalkan tempat duduk nya dan mengikuti Risa menuju meja depan di mana Jhony dan kakek Hadi sedang menunggu mereka untuk berpamitan kepada pengantin.
"Siang pak.." Jaya memberi salam kepada kakek dan ikut duduk bersama di samping Jhiny karena Jhony menarik tubuh Risa untuk duduk tepat di sampinya.
"Yaa.. yaa, ayo kita lekas berpamitan sebelum mengantri panjang." Berdiri mendahului cucu cucu nya.
"Bener banget, kakek benar benar berpengalaman dalam hal ini ha ha." Jhony meledek kakek dengan maksud terselubung.
Kan jadi punya waktu banyak buat foto shoot, ide kakek memang Top.
"Maksud sayang, kakek sudah tua ? Lihat kek cucu kakek ngeledek abis wkwkwk." Risa justru menjelaskan arti berpenglaman dengan kata tua itu membuat Jhony terkejut karena jauh berbeda dengan maksud hati nya yang ingin foto mesra pertama kali dengan Risa karena selama ini dia tidak berani meminta foto berdua dengan nya.
"Yiahhh... bukan kek, seriuss ha ha." Saat kakek berbalik arah menatap senyum sambil menaikan kaca mata nya ke arah Jhony , tangan nya buru buru mengeluarkan tanda peace ✌ namun tak bisa menahan tawa nya melihat ekspresi kakek.
"Haiii... selamat yaaa.. akhirnya kalian sudah syah jadi suami istri, Jay... kapan nyusul neh ha ha." Risa girang banget saat sampai di altar pelaminan yang begitu megah dan indah bertemu dengan sepasang pengantin baru.
"Jaya di tanyain, kalian sendiri kapan?" Doni justru menodong Risa dan Jhony dan itu membuat Jhony berseri seri.
"Minggu depan, foto dulu dunk.." Tersenyum sambil memainkan alisnya menjawab pertanyaan Doni.
"Waoww.. secepat itu, keren keren, ok kita foto bersama ya.." Doni meminta Keluarga pak Hadi Djaya untuk foto bersama tanpa terkecuali Jaya sahabatnya yang juga sudah berdiri di dekat Jhiny.
Mereka mengambil foto dengan berbagai gaya dan yang sudah di nanti nanti oleh Jhony yaitu foto berdua dengan Risa.
"Sayang kita berdua dunk.." Mengeluarkan hape dari saku nya dan memeluk pinggang Risa lalu mengambil gambar diri mereka beberapa kali.
__ADS_1
Akhirnya ada juga foto berdua kita sayang, aku akan selalu ada di sampingmu, sampai tak terbatas waktu.
***
Abby sudah kembali kemeja semula saat tadi berdiri menahan kekecewaannya karena Risa sangat berubah bahkan mengabaikannya, hati nya sangat terbakar cemburu melihat kemesraan yang Jhony berikan padanya. Di tambah kepala nya semakin pusing melihat Avi yang terus menyindir Risa bersama para sahabatnya.
"Lihat lihat, hilihh... gaya nya ngak banget, cocokan aku kemana mana kalii foto sm akak ganteng." Linda merasa risih melihat Risa foto berdua dengan Jhony begitu mesra di pandang mata namun tidak baginya.
"Ngak lavel yakan..?" Berbisik di telinga Linda karena tidak ingin suami nya mendengar dirinya mengatai Risa.
"Jadii Jaya sudah ngak penting lagi nehh..? buat gue dehh.." Luna tersenyum menatap wajah Jaya dari kejauhan.
Dasar wanita wanita sok suci, bisa menghakimi orang tapi dirinya sendiri tidak bener. Kenapa juga pilihan mami semakin hari bukan semakin baik, huhh.. rasanya aku semakin menginginkan Risa yang selalu mengerti hatiku bukan hanya pura pura baik saja di depan mami. harggghh...
"Aku pulang duluan." Berdiri melangkah dari tempat nya membiarkan istrinya bersenang senang dengan sahabat nya yang membuat nya semakin muak.
"Tapi paa.." Avi keberatan namun tangan Linda menahan nya. "Baiklah." Pasrah saat Abby sudah menjauh dari mereka.
"Biarkan saja, berarti kita punya kesempatan untuk memberi pelajaran padanya, kali ini kamu harus berterus terang kalau kamu keberatan suami mu dan wanita itu masih berteman." Mengompori Avi yang juga menyimpan rasa cemburu yang tidak berkesudahaan namun berpura pura baik.
"Iya benar, kamu harus tunjukan kalau kamu tidak pernah rela meskipun wanita itu hanya bersahabat dengan Abby, awal nya sahabat lama lama kawin lagi, mauu loe..." Luna semakin menegaskan dan membakar hati Avi yang setiap hari nya sudah membara menahan amarahnya.
"What's... lihatt benarr kan, suami mu masih saja ingin mendekati nya, dasar wanita penggoda sudah punya pasangan masih saja mau foto berdekatan dengan suami orang." Linda semakin geram melihat Abby berdiri di samping Risa meskipun ada Jhony yang memeluk disebelah nya.
"Bener tuhh, jadi jangan di tunda lagi, bisa bisa rumah tangga lu hancur berkeping keping." Luna menyiram bensin pada bara yang masih begitu panas bluppp.. api berkobar kobar di wajah Avi.
"Memang ngak bisa di kasih hati.. ayo kita tunggu mereka di depan." Avi berjalan dengan langkah kaki tegap dan membusungkan dada, mata nya menatap ke depan tanpa menghiraukan orang yang menyapa nya.
"Kalian, lihat wanita ini sebentar lagi akan lewat, bilang pada nya ada sahabatnya yang akan menemuinya, jangan katakan aku yang meminta nya buka satu kamar terdekat untuk kami." Meminta petugas resepsionis menemui Risa dengan menunjukan foto yang sudah ia ambil sebelum keluar. "Ingat hanya dia seorang." Tidak ingin rencana nya gagal maka dia meminta Risa datang sendiri.
Dan benar saja tidak begitu lama Risa dan lain nya keluar begitu juga dengan Abby.
"Maaf nona, sahabat anda menunggu di kamar 101." Menghampiri Risa yang berjalan bersama Jhony dan rombongan. "Siang pak." Menundukan kepala saat Abby berada disana juga.
"Trimakasih.." Risa berjalan dan di ikuti oleh Jhony.
"Maaf nona, sahabat nona hanya ingin anda sendirian." Menghentikan langkah kaki mereka.
__ADS_1
"Kenapa begitu? pasti laki laki ya?!" Bertanya ketus saat dirinya di larang ikut, Jhony menjadi posesif.
"Um..tidak pak, wanita juga." Menunduk ketakutan saat Jhony menggertak nya.
"Sudahlah sayang, sebentar saja ya." Risa menenangkan hati Jhony, bagi Jhony panggilan sayang untuknya itu sedikit mampu menenangkan hatinya yang gundah.
"Hahh.. baiklah, aku menunggu di sini." Duduk di sofa lobby dan yang lain pun mengikuti.
Risa berjalan di hantar oleh petugas resepsionis menuju kamar yang di sebutkan dan tak jauh dari lobby.
Tokk.. tokk.. mengetuk pintu kamar yang ada di lantai dasar.
"Masuk.." Luna yang memberi jawaban atas ketukan pintu kamar yang mereka pesan.
Risa masuk sendiri dan petugas yang mengantar nya balik ke lobby.
"Humm..merasa cantikk..? baru kali ini bisa terlihat cantik, jadi semakin gatell, hahh..?!" Luna sudah tidak sabar meluapkan emosinya aaat Risa berjalan mendekat ke arah nya dan berujung menari rambutnya.
"Kalian lagi, apa mau kalian?" Risa tidak terkejut namun kali ini dia memberanikan diri berbicara tegas.
"Wahh..wahh sudah punya nyali sekarang.. sayangku keluarlah wanita ini sudah besar kepala dan berani menentang kita." Linda memanggil Avi yang sembunyi di dalam kamar saat sahabatnya memberi pelajaran terlebih dahulu di ruang tunggu karena mereka meminta suite room.
"Avi.." Menatap pintu kamar dan terkejut saat Avi keluar dari balik pintu.
"Aku sudah cukup muak bersikap baik di depanmu, kamu tahu Abby Bukan Jodoh mu..! Abby adalah suamiku, tapi apa.. kamu masih saja gatel mendekatinya, apa perlu kami menggaruk rasa gatel mu supaya kamu menjauh dari suamiku, ingattt suamiku.. arghhh.." Berdiri menatap penuh kebencian wajah Risa yang hanya terdiam mendengar luapan emosi nya.
"Aku tidak pernah mendekatinya, bukankah kita sekarang berteman dan aku sudah meminta maaf atas kesilapanku, bahkan aku menggapmu sodara Vi." Berbicara sangat tenang dan mengingatkan Avi bahwa dirinya telah mengakui kesalahannya dan meminta maaf padanya.
"Cihh..saudara..? berteman saja aku tidak sudi, apa lagi sampai punya sodara wanita penggoda sepertimu." Berpaling dari Risa dan duduk di sofa dengan menumpukan satu kaki ke atas kaki kanan nya.
"Ha haa.. masih berharapp, sudahlah kalau gatel ya gatel saja, ngak usah pakai kedok sok dekat sok jadi sodara, munafikk lu.." Dari belakang Luna mendorong tubuh Risa hingga terjatuh dan menatap ujung meja karena Risa berdiri dan tanpa persiapan saat Luna mendorong nya.
"Brakkk.." Suara tubuh Risa menimpa meja kaca yang ada di hadapan nya dan di hadapan Avi.
"Apa apaan kaliann...." Terdengar histeris dan begitu emosi saat membuka pintu kamar yang tidak terkunci menyaksikan tubuh Risa tersungkur.
***
__ADS_1
Mohon dukungan like, komen dan Vote ya kakak🙏
Makasii banyak 🙏😍