Istri Keduaku Adalah Cinta Pertamaku

Istri Keduaku Adalah Cinta Pertamaku
Kakek Dalam Lift


__ADS_3

Risa tidak ingin di perlakukan baik, baginya sudah cukup semua telah dia pendam ke dasar hati yang paling dalam bahkan lubuk hati nya sudah tidak ada lagi cinta sekeci apapun untuk mantan suaminya. Dan tidak pernah menyalahkan mami nya Abby atas perjodohan mereka.


"Mami bagaimana mami tahu semua nya, bukankah tadi mami bilang ingin meminta kejelasan dariku ?" Terkejut saat mami meminta maaf dan tahu begitu detail kisah mereka.


"Mami bukan orang lain kan? kenapa kamu bertanya begitu, sebaik nya kamu meminta maaf pada Risa dan biarlah dia menjadi bagian keluarga kita, apa kamu tidak melihat betapa hancur hati istrimu ?"


Semua aku lakukan demi nama baik keluarga, untung Avi memberi ide yang sangat cemerlang.


Tidak salah aku menjodohkan mereka, Avi memang menantu idaman, cantik dan cerdik pastinya.


"Maaf , saya rasa tidak ada yang harus meminta maaf atau di maafkan, semua sudah takdir Tuhan." Papa Risa angkat bicara hingga membuat mami tersadar dari pikirannya yang sudah membawa nya terbang dari alam sadar.


"Iya benar tante, saya tidak pernah.." Belum selesai Risa berbicara mata nya teralihkan oleh beberapa sorot lampu mobil yang berhenti di halaman rumah nya dari suara mesin mobil terdengar seperti lebih dari satu mobil yang sedang berhenti di depan.


"Apa kalian sedang ada acara..?" Mami ikut memperhatikan suara bising yang mulai menampakan beberapa orang keluar dari dalam mobil yang nampak dari balik kaca jendela rumah Risa.


"Tidak ada tante, mungkin orang salah alamat." Menggelengkan kepala nya dan menggerakan kedua bahunya.


"Lebih baik kita pulang saja mi.." Abby meminta pulang namun saat ia hendak berdiri tubuh nya terasa kaku melihat seorang kakek berjalan mendekat kepintu dan mama Risa sudah beranjak membukakan pintu hingga benar benar menampakan wajah sang kakek.


"Selamat malam, permisi.. apakah saya bisa bertemu dengan orang tua nak Risa?" Kakek mengatakan maksud kedatangan nya.


"Masuklah kek, saya mama nya Risa dan di dalam ada papa nya juga." Mempersilahkan kakek masuk.


"Pak Hadi Djaya.." Mami terkejut melihat seorang Hadi Djaya pemilik Hotel ternama di beberapa kota yang sama dengan Hotel Pratama namun Hotel Djaya lebih sukses dari miliknya.

__ADS_1


"Sedang ada tamu rupanya, nyonya Pratama apa kabar, senang berjumpa dengan anda." Tersenyum mendengar nama nya di sebut oleh mami dan memberikan salam untuk semua yang ada di ruangan.


"Silahkan duduk pak, perkenalkan saya papa nya Risa." Mengarahkan jari jempol nya ke arah putri nya setelah memperkenalkan dirinya.


Sementara Abby hanya tersenyum dan memberi salam kepada pak Hadi Djaya yang dia kenal sebagai kolega nya.


"Begini pak, ibu.. maaf menggangu acaranya.." Berbicara santun dan lemah lembut menatap bergatian orang orang yang ada di ruang tamu.


"Tidak apa apa lanjutkan saja pak." Mami tersenyum ramah menatap penasaran apa yang ingin di sampaikan olehnya.


"Baiklah malam ini saya jauh jauh dari kota De datang menghantar cucu pertama saya yang ingin melamar putri bapak dan ibu, yaitu nak Risa." Beralih memandang Risa yang dari tadi terdiam dan menundukan kepalanya.


"Apaa.. Risa kek, cucu kakek..?" Sontak membuat Risa terkejut bahwasanya dia tidak mengenal sang kakek apa lagi cucu nya.


Sementara Abby merasa resah karena dia sangat mengenal kakek dan cucu nya.


Menatap keluar jendela kaca yang menampakan seorang lelaki tinggi dan gagah sudah bersiap dengan seikat bunga di tangan nya.


"Iya cucu kakek sangat mencintaimu , bahkan sejak kalian di bangku kuliah." Menatap wajah Risa penuh harap untuk menerima lamaran cucu nya. "Ben.." Menyebut nama Ben, seketika bergeraklah orang yang berdiri menunggu nya di depan pintu.


"Semua nya saya serahkan kepada anak saya pak, jika memang Risa menyetujuinya maka berlanjutnya tetapi jika tidak saya mohon maaf." Papa Risa menyerahkan semua keputusan di tangan putri nya sambil menganggukan kepala menatap putrinya yang sedang di rundung masalah namun ada saja kejutan menghampurinya bersamaan.


"Baiklah saya juga tidak akan memaksa namun saya berharap nak Risa mau mempertimbangkan nya setelah bertemu dengannya langsung." Juga menganggukan kepalanya tanda setuju dengan saran orang tua Risa.


Sementara mami dan Abby saling memandang dan hanya mereka yang tahu arti dari pandangan keduanya tetapi Avi tidak perduli dengan urusan mereka dia asyik memainkan hape yang ada di tangannya.

__ADS_1


"Permisii.. boleh saya masuk..?" Tersenyum memandang wajah sang pujaan hati bahkan tidak menghiraukan ada banyak orang di dalam sana.


"Jhony... apa apa iniii..?" Berdiri tersentak mendengar suara Jhony yang meminta izin masuk.


"Aku bawakan seikat mawar merah kesukaanmu dan kubawakan sesosok pujaan hatimu." Menyerahkan seikat mawar merah di tangan nya dengan berlutut dengan satu kaki bertumpu menahan tubuhnya di hadapan Risa yang sudah berdiri.


"Humm..huemm.." Abby sengaja berdehem keras hingga semua yang ada disana beralih menatap nya.


"Ough.. Abby...nyonya Pratama maaf aku tidak melihat keberadaan kalian.. bagaimana apakah kalian mendukung ku untuk melamar wanita cantik ini." Hanya melirik sekilas dan beralih tersenyum kagum memandang wajah polos pujaan hatinya.


"Yaa..yaa.. tentu saja pak Jhony Darma Djaya." Menjawab ragu ragu saat istri nya menatap nya ingin tahu apa yang akan di katakan suaminya.


Avi menghentikan aktifitasnya memainkan hape nya dan tangan nya dia lingkarkan di lengan kekar sang suami.


"Maaf sepertinya ini acara keluarga, saya mohon pamit, Risa ingat mami selalu membuka pintu untukmu terimakasih karena sudah mau mengerti perasaan menantu mami." Berdiri mendekat ke arah Risa dan orang tuanya meminta izin untuk pulang dan mengingatkan Risa untuk tetap bersilahturahmi. "Semuanya saya mohon diri." Hanya menundukan kepalanya.


"Baiklah terimakasih atas kunjungannya." Papa dan mama ikut berdiri memandang tamu nya yang berpamitan pulang.


"Berusahalah sekuat kuatnya." Menepuk pandak Jhony, namun Abby tidak ingin menatap nya bahkan senyum pun tidak ingin di tambah dia merasa geram karena Avi tidak seperti biasanya yang tak ingin sedetik pun melepaskan tangan nya.


"Selalu broo.." Menjawab singkat dan tetap memandang ke arah Risa.


"Duduklah kita bukan abg lagi.." Risa menyuruh Jhony untuk duduk karena merasa malu dengan tingkah konyol Jhony.


"Kita memang bukan abg tapi aku merasa kembali seperti anak smp yang baru puber pertama ha ha haa." Seperti sedang berada di rumah nya sendiri bahkan merasa hanya sedang berdua dengan wanita pujaannya.

__ADS_1


Sedangkan kakek hanya geleng geleng kepala karena baru pertama kali melihat cucu nya bisa bertingkah lucu, bahkan kedua orang tua Risa tertawa mendengar candaan Jhony.


"Tunggu..bukankah kakek yang waktu itu ada di dalam lift di acara pertunangan Doni..?" Merasa tidak asing dengan wajah sang kakek seperti pernah mengenalnya namun belum begitu mengingatnya.


__ADS_2