
"Jaga mulut kalian, kakak saya tidak seperti yang kalian tuduhkan." Sari mulai tersulut emosi mendengar caci maki dua wanita yang menyerang kakak nya sementara Risa hanya terdiam di kursi roda tanpa membalas sepatah katapun hinaan untuknya. Lalu mendorong kursi roda untuk pergi menjauh dari wanita wanita gila di hadapan nya.
Ya Tuhan kenapa aku selalu saja di anggap sebagai penggoda padahal aku sudah bertobat di hadapanmu.
Risa menangis dalam diam nya, sehingga dia hanya pasrah akan tuduhan yang terus saja di lontarkan padanya meski perih menyayat hati nya.
"Eitss.. mau kemanaa buru buruu ? Diam di sini..!"
Menahan kursi roda yang Sari dorong untuk menghindari ocehan wanita yang tidak punya hati.
"Huhh.." Mendesah kesal karena kursi nya tertahan dan Sari tidak ingin kakak nya jatuh jika dia mendorong paksa.
Luna berinisiatif menghampiri wanita yang dia kenal sebagai mama mertua sahabat nya , bermaksud mencari bala bantuan untuk memberi pelajaran kepada wanita yang telah merusak rumah tangga anak nya.
"Siang tantee... wahh tante makin cantik dan keren saja." Memuji dengan pede nya supaya usaha nya tercapai.
"Maaf, siapa ya ?" Berdiri menenteng tas branded dan bertanya penasaran karena merasa asing dengan wanita yang menyapa nya.
"Kami sahabatnya Avi tante, menantu tante hee.. kami pernah melihat foto tante di Facebook Avi.. benarkan tante ?" Menujuk Linda yang ada di kejauhan dan menceritakan bagaimana dia mengenalinya.
"Ow..iya benar saya mami mertua nya." Memberi salam sambil tersenyum. "Maaf saya buru buru mau membesuk teman , duluan yaa.." Berpamitan hendak berjalan pergi.
"Umm.. mami mertua, ehh tante.. maaf.. apa tante tidak ingin melihat wanita yang menjadi pelakor rumah tangga anak dan menantu tante nehh..?" Membujuk sambil menampakan wajah nya yang penuh kebencian.
"Apaa.. pelakor ? kamu seriuss ? berani sekali dia menggoda anak ku. Dimana pelakor itu..?" Terkejut sambil membuka kaca mata yang bertengger di hidung nya menambah kewibaawaan nya namun kini berubah menjadi wajah penuh angkara murka mendengar ada pelakor dalam rumah tangga putra semata wayang nya.
__ADS_1
A... ****** loh wanita gatel, sekarang kamu menghadapi mertua yang sangat menyayangi menantu terbaiknya ha ha habiss riwayatmu..
Luna tertawa puas saat mendengar mami mertua Avi tersulut emosi yang sengaja ia bakar.
"Ayo tante, itu dia orang nya." Berjalan mendahului dan wajah berapi api hendak membakar habis habisan martabat Risa dengan dukungan dari mami mertua sahabatnya.
"Ini diaa pelakor tidak tau dirii itu tante, yang sengaja menggoda anak tante untuk menghabiskan uang nya dan memporak porandakan keluarga Avi." Penuh semangat menyiram bensin di atas kobaran api yang telah dia siapkan untuk menghabisi kehormatan Risa.
"Tantee.." Risa terkejut melihat mami Abby ada di hadapan nya.
"Risaa.. kamu kenapa? sakit ?" Terkejut melihat Risa duduk di kursi roda dan tidak menghiraukan kobaran api Luna yang sempat membakar hati sebelum melihat siapa wanita yang di tuduhkan.
"Tante sadar tantee.. dialah yang merusak rumah tangga anak tante, dia benar benar licik tante sudah menggoda Abby." Berteriak tidak terima saat melihat mami justru merasa khawatir melihat kondisi Risa.
"Saya sudah sembuh tante dan sekarang sudah boleh pulang." Menatap penuh keraguan.
"Tante maafkan saya." Menunduk pasrah.
"Tidak tantelah yang bersalah karena memisahkan kalian, tante tahu betul bagaimana watak Abby, ini no tante lain waktu kita bicara bersama, maaf tante buru - buru membesuk teman tante." Memberikan kartu nama dan berlalu dari hadapan Risa dan Sari.
Sari melanjutkan mendorong kakak nya sampai keluar pintu rumah sakit dan mama sudah lama menunggu di sana.
"Kenapa lama sekali ?" Mama merasa heran karena kakak beradik itu lama sekali keluarnya.
" Maaf ma, tadi menunggu lama perawat yang melepaskan jarum infus kakak." Mengaruk kepalanya yang tidak terasa gatal hanya saja binggung memberi alasan pada mama. "Ok ayo kita pulang, amit amit jangan sampai kesini lagi, sehat sehatt sehattt.." Menjitak kepalanya sendiri kemudian jidat kakak nya dan hendak beralih ke jidat mama namun tiba tiba tangan nya berhenti mengantung.
__ADS_1
"Hem.. mau ngetok kepala mama neh..?" Menyipitkan sebelah mata sambil tersenyum menatap Sari.
"Ha ha haaa.. tidak ma hanya amit amit gitu lohh wkwkwk.." Terkekeh setelah menyadari kelakuan nya yang tengil.
Setelah berjalan ke parkiran mobil yang sudah sengaja di siapkan di depan pintu terdekat rumah sakit Sari bersama keluarga melajukan mobil nya menuju rumah mama.
"Ma kapan papa pulang , kakak merindukannya." Bersandar di pundak mama yang ada di sampingnya.
"Adek juga merindukan papa." Tidak mau kalah apa lagi dia merasa sebagai anak paling di manja oleh sang papa.
"Mama pun merindukan papa kalian hee, sore ini papa pulang." Tertawa ikut mengungkapkan kerinduan pada suaminya.
"Bagaimana kalau kita menjemput papa di bandara ? surprise buat papa." Risa mengusulkan menjemput papa nya di bandara.
"Papa sudah bilang jika akan pulang mengunakan taxi." Menyampaikan pesan papa jika akan pulang menggunakan taxi bandara.
"Mamaa ini seperti tidak mengenal papa saja, mana mau papa merepotkan orang lain, ayolahh ma.. mama payah mentang - mentang sudah tua jadi ngak romantis lagi." Merajuk dan mengalihkan wajah nya ke arah pintu kaca mobil.
"Ha ha haa hayo loh ma, kakak merajuk tuh, memang papa pulang jam berapa seh ma?" Melirik dari kaca yang ada menggantung di hadapannya.
"Ya sudah kita putar balik aja sekalian jalan jalan papa jam 4 sudah sampai, panjang nanti cerita nya kalau kakak sudah merajuk begini.. banyak mau nya." Membalas lirikan Sari dan tersenyum senyum menyindir putri sulungnya yang sedang merajuk padanya.
"Aa... mama terbaikk dehh muach muachh.." Memeluk tubuh mama lalu mencium pipi nya mesra saat kemauan nya memberi surprise papa di kabulkan.
"Bagaimana kalau kita makan mie goreng seafood." Menawarkan menu favorit saat pergi bersama papa di waktu mereka masih sekolah.
__ADS_1
"Nanti aja dek kalau sudah jemput papa, jadi ingat jaman kita masih kecil, papa paling suka tuh makan mie goreng." Memberi saran menunggu menjeput papa terlebih dahulu agar berasa seperti dulu kala.
"Kak, mobil di belakang perasaan ngikutin kita terus deh." Menatap spion mobil penasaran.