Istri Keduaku Adalah Cinta Pertamaku

Istri Keduaku Adalah Cinta Pertamaku
Cerai


__ADS_3

Risa terkejut tapi tidak bisa berkata kata karena takut masker nya rusak dan akan berpengaruh ke wajah nya. Maka ia langsung berdiri dan pergi meninggalkan mereka, bukan hendak menghindari tetapi membersihkan wajah nya yang sudah terasa kaku tertarik oleh masker yang sudah mulai mengering .


"Ris.. tunggu aku ingin..."


Doni berteriak memanggil Risa ketika melihat teman nya itu kabur setelah melihat kedatangan mereka, tapi ternyata risa memberi isyarat dengan mengakat kelima jari nya yang mengartikan kata tunggu.


"Huhh.. aku kira Risa takut melihatmu datang, makanya punya wajah gantengan sikit kayak aku jiahaahhaa.." Jaya memecah kesunyian siang itu dengan banyolan nya pada Doni.


"Mau minum panas atau dingin mas..?" Tanya Sari pada kedua teman kakak nya.


"Mas Jay, mau kopi panas Sar, rasa nya ngantuk kali hari ini." Dengan wajah berseri nya mengangkat satu tangan nya dan memesan kopi panas untuk nya sendiri , seolah sedang berada di cafe.


"Umm... banyak mau nya neh anak, macam rumah sendiri, bikin malu saja." Doni merepet pelan di sebelah Jaya namun wajah nya beralih kepada Sari dan tersenyum ramah.


"Haiiisst... aku dengar , merepet pulak, Sari saja mau kenapa kamu yang sibuk hahh..?!"


"Ga apa apa kok mas, mas Doni mau kopi juga atau yang lain?" Sari mencoba mendamaikan suasana cek cok yang menurut nya seperti ada kerinduan antara mereka namun hanya saling menutupi rasa itu.


"Haaa... sampai juga kamu Don di rumah mungil ku.."


Risa datang dengan wajah nya yang terlihat semakin cerah dan bersih hingga menampakan kecantikan alami nya yang jarang sekali dia make up .


"Maaf , aku harus memaksa Jaya untuk menemuimu, sebenarnya dia memegang janji nya padamu, hanya saya aku ada hal yang sangat penting."


Bagaimanapun Doni tidak ingin sahabatnya itu di anggap tidak menepati janji nya , maka dia menjelaskan keadaan sebenarnya, dan mengatakan maksud kedatangan nya.


Mendengar penjelasan Doni , Jaya tersenyum dan mengangguk anggukan kepala nya, seolah membenarkan perkataan Doni.

__ADS_1


"Hal apa itu yang penting, sampai kamu mau meninggalkan kursi kejayaanmu wkwkwk"


Risa sudah menduga akan kedatangan nya tidak lain karena memenuhi kemauan suami nya. Dia tidak akan menyerah begitu saja.


"Abby tidak terima kamu meninggalkan nya, bahkan dia sering tidak pulang, dan mengacuhkan istri pertama nya, apa lagi saat dia tahu kalian bertemu jadi dia menyalahkan Avi atas kepergianmu."


Risa dan Jaya mendengarkan penjelasan inti masalah mereka dan Risa tiba tiba mual mual saat Sari membawa dua gelas kopi panas.. Jaya nampak gelisah hingga tanpa sadar ia mengikuti Risa yang berlari menuju wastafel yang ada di dapur.


"Apa kamu baik baik saja? yakin ingin pergi dari suami mu, lalu bagaimana nanti anak mu?"


Jaya teramat khawatir akan keadaan sahabat nya hingga dia tidak bisa mengontrol pertanyaan nya yang tidak sengaja Doni dengar saat mengikuti mereka yang panik berlari ke dapur.


"Apa..? anak..? Ris... kamu hamil..?"


Doni langsung memastikan yang dia dengar dari mulut sahabat nya itu, karena dia sangat terkejut.


"Hemm.. aku hamil, aku yang salah , aku khilaf saat itu aku tidak berpikir panjang dan tidak memikirkan orang lain. Maaf kan aku, tapi aku tetap akan meminta cerai , aku mohon Jay bantu aku mengurus nya di pengadilan agama."


Risa meraih tangan sahabat nya, menarik lembut berharap mau membantu proses penceraian mereka yang hanya bisa di selesaikan di pengadilan agama karena status mereka yang menikah di bawah tangan.


"Tapi kenapa aku, matilah kalau Abby tahu."


Jaya menggaruk garuk rambut nya yang tertata rapi seolah ada mahkluk yang telah mengigit kulit kepalanya, wajah nya nampak panik karena harus melawan sahabat juga boss nya yang penuh abisi terhadap kekasih hati nya, cinta pertama nya, namun justru Jaya yang harus memisahkan nya.


A... benar benar mati kutu aku, kalau saja dia tahu aku sudah membantu Risa pergi dari nya, habis akuu makkk...


"Abby bilang akan melepaskanmu, tapi dia ingin mendengar langsung dari mu,jika kamu memang bahagia tanpa nya,tapi waktu itu dia tidak tau kamu hamil."

__ADS_1


Doni merasa serba salah, merasa tidak kuasa melihat Risa yang sedang hamil anak Abby tapi harus berpisah sebelum anak nya bisa melihat ayahnya .


"Maka jangan katakan padanya kalau aku hamil, aku mohon, tolong jangan biarkan dia mengetahuinya."


Kedua tangan nya sudah mengatup di depan dada, mata nya berlinang air mata, bahkan kedua sahabat nya ikut berurai air mata, hingga Jaya terbawa emosi dan mencaci Abbh.


"Semua ini karena keegoisan Abby, semua karena dia tidak punya pendirian, shitt... Dia tidak mau melepaskan mu tapi mau menikah dengan orang lain, cihh ... laki laki macam apa dia, bodoh nya kenapa dulu aku tidak melarang nya menikah arghhh...!."


Doni dan Risa hanya mampu terdiam melihat Jaya meluapkan emosi nya, Doni beralih duduk di samping Risa dan berjanji akan merahasiakan kehamilan nya.


"Maafkan aku Ris, kamu harus menderita begini, jika saja waktu itu aku mencegah nya memaksa mu menikah, semua tidak akan terjadi. Baiklah besok datanglah ke kantor ku, kita bicarakan dengan Abby baik baik."


Mendengar Doni meminta Risa datang ke kantornya, Jaya bangun dari duduk nya dan menarik kerah baju Doni dan tersulut emosi.


"Apa kamu bilang..? datang ke kantormu..? Cuiihh... jangan berharap, aku tidak akan membiarkan Risa pergi kesana, apa kamu tidak merasa iba melihat Risa yang tengah hamil muda, hahh..?! Suruh Abby datang sekarang juga, kita bertemu di kantorku..!"


Risa dan Doni sama sama terkejut, baru kali ini mereka melihat Jaya benar benar emosi, Risa menarik tangan Jaya meminta nya melepaskan Doni, agar tidak terjadi perkelahian. Risa pun menangis melihat sahabatnya bertengkar karena begitu peduli padanya.


"Maafkan aku, gara gara aku kalian sampai bertengkar, aku sangat menyesal hal ini terjadi."


Doni pun menyesali perkataan nya yang tidak ia pikirkan masak masak, lalu meminta maaf pada kedua sahabatnya.


"Akulah yang harus minta maaf, aku tidak berpikir panjang, baiklah aku akan menghubungi Abby dan meminta nya datang."


"Sekarang, tidak ada besok besok..!" Jaya langsung menyela Doni dan memaksa Abby untuk datang sekarang. Wajah nya nampak merah padam, menunjukan bahwa ia benar benar sedang menahan amarah.


"Iyaa.. iyaaa, ini aku telfon dia." Doni hanya berani melakukan perintah Jaya karena dia tahu betul Jaya jarang sekali marah, tapi kali ini sungguh di luar kebiasaan nya yang mampu bercanda dan santai di setiap masalah.

__ADS_1


__ADS_2