
Avi yang nampak gugup hingga tak sadar akan kata kata yang terlepas dari dalam bibir nya mengakui dirinya telah bertemu dengan Risa. Abby semakin menunjukan bahwa dirinya teramat kehilangan Risa dan memaksa istri nya mengatakan semua yang telah terjadi.
"Apa yang kamu katakan , sehingga dia meninggalkan aku?" berdiri dari kursi kejayaan nya dan berjalan maju mundur melewati istrinya, seraya tangan nya memilin dagu nya sendiri. Avi masih terdiam , takut salah menjawab .
"Katakan..!" Merasa belum juga mendapat jawaban , tangan nya satu menggepal dan satu ia selipkan dalam saku celana, sambil mengucapkan perintah singkat tapi penuh penekanan.
"Saat aku meninggalkan rumah, kami bertemu di kota De, dia tidak tega melihatku bersedih atas perbuatan mu huhuu, dan dia tidak mau memisahkan Bita darimu... hiks hikss.."
Merasa tidak ada respon dari sang suami Avi keluar dan berlari meninggalkan kantor , mengajak pak Ahmad kembali pulang.
***
Risa sangat bahagia karena akan mendapatkan buah hati dan Sari lebih bahagia karena sudah lama dia ingin punya ade tetapi apa daya dirinya menjadi anak bungsu. Risa pun meminta orang tua nya untuk datang ke kota nya, ingin menyampaikan berita bahagia sekaligus kecewa , namun dia telah iklas menerima jalan hidup nya bila harus menjadi single parent demi sang buah hati nya.
Keesokan hari nya kedua orang tua Sari dan Risa berangkat menuju kota De, kurang lebih 3 jam mereka sampai di sana. Seperti biasa mama selalu memanjakan anak anak nya dengan makanan buatan nya. Mereka makan siang bersama dan ini lah saat yang tepat buat Risa berbicara pada mereka.
"Pa, ma.. maafkan Risa." sesaat terdiam menatap kedua orang tersayang dalam hidup nya, berharap mereka akan menerima status baru nya.
"Maaf buat apa kak..?"
"Apa yang mesti di maafkan..?"
Papa dan mama bergantian menjawab dan merasa ada yang sesuatu yang membuat anak nya begitu serius.
__ADS_1
"Sesungguhnya Risa telah menikah dengan Abby dan .." Lidah nya mulai kaku saat ingin mengatakan bahwa dia tengah berbadan dua, takut membuat orang tua nya kecew.
"Dan .. ? apa kak ..?" Kedua orang tua nya tidak merasa terkejut karena mama sudah menduga saat Abby berani datang menemui Risa bahkan meminta izin membawa nya keluar, mama sangat tahu bagaimana perasaan Abby dan anak nya. Hanya mama mempercayakan semua yang terbaik pada Risa karena sudah lama melihat anak nya bersedih dan terpuruk.
"Risa hamil ma, pa.. tapi Risa memilih pergi, tidak tega melihat istri nya terluka." Mau tidak mau sudah ia memulai membicarakan semua yang tersimpan dalam hati nya , ahkirnya mengakui dirinya sudah menjadi calon ibu.
"Lalu apa yang membuat kakak cemas, jagalah calon cucu mama dengan baik, penuhi semua gizi nya dengan yang terbaik, jangan membuat nya bersedih, semua telah terjadi, jalani hidup penuh syukur, semua akan indah sayang..!"
Mama berdiri dan berjalan mendekat pada putri sulung nya itu lalu memeluk nya, membuat nya nyaman dan bahagia.
"Makasii ma, pa ... maafkan Risa yang selalu membuat kalian kecewa, dan malu akan kegagalan hidup Risa huhuuu... uuu..."
Risa tak kuasa menahan tangis nya, betapa terharu dirinya akan hati kedua orang tua nya yang sangat sabar dan menyayangi anak anak nya, bahkan disaat jalan yang salah mereka kuat menarik anak nya untuk tetap tegar dan mencari jalan yang lain agar tidak tersesat, bukan menyalahkan atau memarahi nya .
***
"Setiap mata mulai terbuka , kumelihat awan begitu indah, karena ada kamu di atas sana yang selalu setia menungguku , selamat pagi sayang, aku merindukan mu.." Doni setiap pagi selalu mengirim gombalan indah untuk kekasih nya, yang membuat nya bersemangat untuk memulai hari hari sibuk nya di kantor.
"Pagi juga kesayangan,semoga hari ini lebih bahagia , nanti siang aku akan menelfon ada yang ingin aku sampaikan , selamat bekerja , I love you."
Diseberang sana Dina selalu tersipu setiap membaca untaian cinta dari sang pemilik hatinya, dan membuat nya yakin akan bertunangan dengan nya.
Doni merasa heran tidak biasa nya kekasih hati nya mengatakan hal yang serius, itu membuat nya tidak bisa konsentrasi bekerja, hingga memutuskan menelfon nya langsung.
__ADS_1
Aku ada karena kau pu ada... lagu dari Raja band menjadi nada dering milik Dina , membuat Doni makin tersipu saat menghubungi pujaan hati nya, yang sesungguhnya sedang bertanya tanya apa yang terjadi hingga ada hal yang ingin di sampaikan.
"Yaa sayang, ada apa, aku sedang ada kelas, nanti aku telfon balik,bye."
Dina merasa telfon nya terus bergetar , lalu dia keluar kelas dan mengatakan akan menghubungi nya kembali, membuat nya tidak nyaman saat sedang mengajar .
Doni hanya melonggo, saat dirasa belum sepatah katapun keluar dari dalam mulut nya, tetapi Dina sudah mematikan sambungan telfon nya. Dan hanya pasrah menunggu hingga siang .
***
Jaya masih selalu menghubungi Risa, bertanya kabar tentang nya namun dia berjanji apapun yang terjadi tidak akan memberitahu Abby, seperti yang di minta oleh sahabat nya itu.
" Lama tidak bertemu, apa kabar Ris..?"
Satu pesan dia kirim untuk menanyakan keadaan sahabat nya, karena biasanya saat Abby dan Risa sedang tidak akur, dia akan meluapkan hati nya pada Jaya dan Doni, tapi kali ini tidak ada kabar berita setelah lama tidak bertemu.
"Kami baik baik saja om Jay... Om Jay lagi apa?"
Risa membalas seakan akan sedang bermain dengan buah hati nya, dan balasan pesan nya itu membuat Jaya bertanya tanya,
Tidak biasa nya Risa memanggilku om, dan kita..? siapa kita yang di maksud kita? apa Sari, tapi Sari kan memanggilku mas.
"Kita..? kamu sama siapa Ris dan kenapa kamu memanggilku om..?" Merasa aneh dan asing dengan bahasa sahabat nya Jaya pun langsung menanyakannya.
__ADS_1
"Kita.. adalah aku dan calon keponakan om Jaya. Iya aku sedang mengandung Jay. Doakan kami sehat selalu ya."
Risa pun menjelaskan tentang kehamilan nya, baginya sahabatnya adalah orang orang yang sangat baik dan peduli, maka dia membagi kebahagian nya juga. Namun berbeda pikiranya dengan Jaya, justru Jaya menangis mendengar berita bahagia dari sahabat nya, karena dia memikirkan betapa akan sulitnya saat saat melewati hari kehamilan tanpa suami,karena Jaya pernah mendengar bila orang hamil itu penuh dengan drama.