
Avi mengusap air mata nya dan merapikan rambut nya saat mendengar suami nya memintaa maaf karena tidak bisa menghantar mereka pulang.
Apa ini artinya suamiku masih memegang janji nya untuk tetap memilihku, jadi dia tidak akan meninggalkan aku...?
Abby kembali memangil istri nya saat tidak ada respon darinya.
"Ma,mama baik - baik saja kan?" Memastikan istri nya dalam keadaan baik.
"Iya pa, mama baik, hanya sedang ngantuk." Suaranya terdengar parau karena habis menangisi pikirannya sendiri yang takut akan di tinggal oleh suami nya.
"Apakah mama menangis..? Ma jangan salah sangka, bukankah aku sudah berjanji akan belajar mencintaimu tulus dan memulai hidup baru denganmu, aku hanya shock bahwa dia mengandung anak ku tapi tidak memberitahu." Menjelaskan karena tidak ingin Avi salah paham apalagi setelah mendengar suara istrinya yang habis menangis.
"Maafkan aku meragukan mu." Mengutarakan isi hatinya yang memperburuk suasana hatinya sendiri.
"Percayalah aku akan berusaha menepati janjiku padamu." Mencoba meyakinkan hati Avi yang mulai meragu.
"Apa kamu tidak akan rujuk kembali setelah tahu kalian mempunyai anak ?" Masih ingin kepastian dari Abby.
"Dia keguguran." Menjawan singkat apa yang sedang terjadi.
"Innalillahi.. benarkah pa? jadi bagaimana ini, semua berawal karena anak kita."
"Semua sudah ikhlas, kita kirim doa saja buat baby, sudah dulu papa pamit pulang ya." Menyudahi panggilan nya karena ingin pamit pulang.
"Ok, hati - hati di jalan pa." Mematikan telfon dan mencium hape milik nya, merasa seperti daya tubuh nya tercharge penuh, berdiri dari duduk nya di lantai dan pergi ke kamar mandi berendam di bathtub.
Epilog
__ADS_1
Dokter sudah keluar dari ruang operasi dan menyampaikan bila semua berjalan lancar dan Risa akan segera di pindahkan di ruang rawat semula, bayi dalam kandungan nya tidak terselamatkan karena begitu hebatnya pendarahan. Namun semua merasa lega dan iklas karena Risa baik - baik saja, hanya membutuh kan waktu untuk pulih kembali. Untuk itu Abby langsung menghubunggi istrinya menanyakan keadaannya.
***
Luna yang masih dalam masa perawatan karena demam berdarah masih terbaring di atas bed rumah sakit, dan membawa Linda datang menjenguk nya setiap hari, bergantian menjaga Luna dengan mama nya.
Dari kejauhan saat hendak melewati kamar Risa dia melihat Abby dan seorang laki - laki sedang duduk di depan kamar.
*Itukan Abby, bersama siapa dia , aku kira dia sudah meninggalkan wanita murahan itu ternyata aku salah.
Sebaiknya aku jalan sambil menunduk agar dia tidak mengenaliku, lihat saja aku akan menghajarmu lagi untuk sahabatku, ternyata kamu ngak kapok juga ya.. humm*.
Linda berjalan sambil menggertu namun tetap menundukan kepala nya hingga sampai tidak terlihat lagi oleh Abby.
"Heii kenapa wajahmu seperti dikejar hantu begitu ?" Bingung melihat Linda yang masih celingkan ke arah pintu.
"Tau tidak?" Napasnya mulai tidak beraturan.
"Hiss..aku serius tauk.." Ikut duduk di ranjang yang sama tempat Luna berbaring. "Ternyata aku salah, suami Avi masih berhubungan dengan si jalan*, barusan aku melihat nya duduk termenung di depan kamarnya." Bersemangat penuh emosi menyala nyala menceritakan apa yang barusan di lihatnya.
"Benarkah ? kamu ngak salah lihat kan ?" Bertanya kembali untuk meyakinkan sahabat nya.
"Cekk.. benerlahhh memangnya aku rabun. Wanita itu bener - bener ngak ada kapok nya, lihat saja besok aku akan mengintai dan akan menghajar nya lagi kalau ada kesempatan, kali ini aku tidak akan memberi nya kesempatan untuk mendekati suami Avi lagi." Berkobar kobar emosi Linda bahkan ekspresi nya sudah seperti orang kebakaran jenggot.
"Tapi sore ini aku sudah pulang, mama sekarang lagi mengurus administrasinya." Merasa kecewa karena tidak bisa melanjutkan aksi Linda terhadap Risa.
"Haa..itu lebih baik." Memainkan satu telunjuknya di hadapan Luna yang ikut duduk menghadap Linda. "Artinya kita bisa bekerjasama melancarkan aksi kita ha ha ha." Tertawa puas akan rencana balas dendam untuk sahabatnya.
__ADS_1
***
Risa sudah di pindahkan kembali ke ruang rawat nya, Abby meminta izin kepada mama untuk menemuinya sebentar saja karena akan berpamitan pulang, mama pun mengizinkan nya namun berpesan untuk tidak berlama - lama karena Risa masih butuh istirahat yang cukup. Abby mengiyakan permintaan mama dan masuk ke dalam menemui Risa.
"Ris..kenapa tidak memberitahu aku jika kamu mengandung anak ku, apa kamu begitu membenciku?" Berdiri di samping tempat Risa berbaring. "Aku minta maaf atas nama Bita anakku karena dia tidak sengaja namun mengakibatkan kamu keguguran." Menundukan wajah nya dan meraih tangan Risa namun Risa mengibaskan tangan nya.
"Pergilah aku tidak ingin bertemu denganmu lagi." Memiringkan tubuh nya dan memalingkan wajah nya, tak terasa air mata nya membanjiri kedua pipi nya.
Ya Tuhan, apakah ini karmaku hingga anakku terenggut tak terselamatkan karena khilafku menikah dengan kekasihku namun telah memiliki istri hingga menyakiti hati istrinya.
Risa bertanya dalam diam apa yang telah menimpa nya saat ini mungkinkah karma dari yang kuasa.
"Tapi Ris tolong maafkan aku, semua ini tidak akan terjadi jika aku tidak egois memaksakan napsuku untuk memilikimu seutuh nya namun akhirnya aku juga tidak bisa mempertahankanmu bahkan membahagiakanmu." Berharap Risa memaafkan kekhilafannya namun justru dia menutup kedua telinga nya dan berteriak memanggil mama nya.
"Mamaa.." Masih memalingkan wajah dan menutup telinga karena tidak ingin mendengar apa yang di bicarakan oleh mantan suaminya.
"Ok..ok.. aku keluar, jaga kesehatan semoga kamu lebih bahagia tanpaku." Berjalan keluar berpapasan dengan mama yang masuk karena mendengar panggilan anaknya. Lalu Abby berpamitan dan menyapaikan permintaan maaf nya untuk anak nya karena tidak sengaja membuat Risa kehilangan anak dalam kandungannya, dan mama menerima maaf nya dengan menjawab jika semua yang terjadi sudah kehendak sang pencipta. Mama pun menemui Risa yang tadi memanggilnya.
"Ada apa kak ?" Memegang tangan Risa sambil memijitnya pelan.
"Umm, kakak mau minum air putih ma." Terpaksa membohongi mama karena ingin Abby cepat meninggalkannya.
"Minumlah yang banyak, supaya kakak lekas sembuh." Memberikan sebotol air minum dengan pipet yang memudahkannya untuk minum saat berbaring.
"Terimakasih, ma .. apa Jhony masih di sini ?." Menanyakan Jhony yang dari semalam sudah menjaga nya.
"Iya ada di depan bersama adikmu." Menunjukan orang yang dimaksud anak nya sedang duduk di luar.
__ADS_1
"Suruh pulang saja ma, kata dokter besok kakak sudah boleh pulang, jika hari ini sudah bisa pergi ke toilet sendiri, makanya sekarang kakak belajar memiringkan tubuh agar tidak kaku." Menunjukan jika dirinya sudah bisa bergerak setelah tadi siang menjalani operasi dan sore ini sudah mulai belajar miring kanan dan kiri.
"Baiklah mama akan mengatakan padanya."