
Saat Bita berlari mendekat Abby dan istrinya pun masuk lalu memberi salam mama, setelah bersalaman mama mengajak Sari keluar mencari minuman di kantin rumah sakit.
Bita sudah tidak sabar bertemu Risa hingga banyak pertanyaan yang ia sampaikan.
"Tante Risa kenapa sakit?" Berdiri tepat disamping. Risa terbaring.
"Tante jatuh terpeleset sayang." Tersenyum manis sambil menatap putri kecil.
"Tante lari - lari ya, kata mama ngak boleh lari nanti jatuh, besok jangan di ulangin ya." Mengoyang - goyangkan jari telunjuk nya melarang Risa agar tidak lari - lari seperti hal nya dia saat bermain.
Mendengar ocehan Bita mereka tertawa lepas, begitu pandai dan cerewet nya sangat menghibur, sehingga tidak terasa canggung antara Avi dan Risa.
"Itu oom nya tante ya? dia ganteng sekali." Mendekat dan berbisik di telinga Risa namun mata nya menatap Jhony sambil tersenyum.
"Ha haa.." Terkejut mendengar pertanyaan Bita hingga lepas control tertawa keras sehingga ia menutup mulut nya dengan tangannya.
"Tante jangan tertawa nanti oom tahu." Ikut menempelkan tangan nya pada mulut Risa.
Jhony membalas senyuman Bita lalu ikut mendekat di sebelah Risa.
"Oom sama papa Bita gantengan mana?" Sesungguh nya bisikan Bita bisa di dengar oleh semua yang ada dalam ruangan, hanya saja Risa tidak ingin dia kecewa sehingga tetap mendekatkan telinga nya pada mulut mungil Bita yang ingin berbisik.
"Umm,oom deh, kan oom lebih putih." Menggandeng tangan nya sendiri sambil mengayun - ayunkan nya dan tersipu malu.
Melihat tingkah Bita Abby pun merasa terhibur, namun sedikit ikut menggoda Bita.
"A..begitu ya, nanti papa sama mama pulang berdua, kakak tinggal disini saja ya." Berdiri disamping Avi dan mengandeng tangan nya berpura - pura akan pulang.
__ADS_1
"Okay, kakak bobok sama tante Risa, oom ganteng bobo di sofa ya jagain kita." Memanjat tempat Risa yang sedang berbaring ingin ikutan tidur namun tidak di sangka kaki nya tersangkut selang infus dan seketika tubuh Bita oleng dan jatuh di perut Risa.
"Auu... sakitt." Risa teriak histeris hingga tak sadarkan diri, membuat mereka semua panik lalu Jhony berlari keluar memanggil suster, Bita pun menangis ketakutan lalu Avi menggendong nya keluar, tinggalah Abby sendiri dan ia pun merasa panik, mencoba menepuk lembut wajah Risa dan memanggil nama nya.
"Ris, Risaa.." Terkejut saat mendapati darah yang mengalir semakin deras dari balik selimut. dan semakin curiga saat menarik selimut melihat perut Risa yang nampak buncit.
Abby melonggo pikiran nya tiba - tiba melintasi pulau putri dimana mereka saling bercinta, menghabiskan waktu seharian menjadi suami istri, malam pertama yang begitu indah saat berdua saling meluapkan kerinduan dan saling bercumbu.
*Apa mungkin Risa hamil ? kenapa hanya tertimpa Bita sampai pendarahan, dan... perutnya sangat berbeda, ya... perutnya buncit seperti orang hamil..
Arghh... cobaan apa lagi ini Tuhan...? apa yang haris aku lakukan jika ini benar* ...
Pikiran nya semakin melayang - layang saat semua kenangan manis di pulau putri semakin meyakinkan apa yang di lihat nya hingga Jhony membuyarkan lamunan nya.
"Menyingkiralah suster akan memeriksa nya." Menarik tangan Abby yang menundukan wajah nya di hadapan Risa yang sedang pingsan.
"Ya." Menjawab singkat lalu meneruskan jalan keluar dan duduk di teras.
Abby menyusul dan ikut duduk di samping Jhony dan masih penasaran dengan jawaban singkat yang di ucapkan begitu saja tanpa ekspresi sedikitpun.
"Ya, maksudmu Risa beneran hamil?" Berdiri di hadapan Jhony sambil tangan nya mencabut dagunya yang tidak berjenggot.
"Iya, Risa hamil anak mu, puas..?" Emosi nya sudah tidak tertahankan lagi menjawab tegas pertanyaan yang di ulang - ulang oleh Abby, hingga membuat Abby melonggo dan lemas. Di saat itu juga Avi datang menggendong Bita yang sudah tidak menangis lagi dan mendengar apa yang di ucapkan oleh Jhony.
Avi lari berbalik arah suara langkah kaki nya terdengar oleh Jhony dan Abby yang saat itu tengah termenung menahan panas hati masing - masing.
"Ma.." Abby memanggil istri nya namun tidak mengerjarnya.
__ADS_1
Avi terus berlari sambil menangis hingga Bita yang bertanya dan memanggil diri nya tidak ia hiraukan sampai ia keluar dan mendapatkan taxi. Di dalam taxi Avi memeluk Bita dan menciumi kening putri nya membuat Bita bertanya tanya.
"Ma, mama kenapa menangis, mama sakit juga ya seperti tante Risa ?" Menatap ke atas melihat mata Avi yang mulai sembab.
"Tidak mama tidak menangis, kakak ingatkan angin yang kencang tadi membawa debu masuk ke dalam mata mama dan rasa nya pedih." Mengusap sisa air mata nya dan terpaksa berbohong kepada anak nya karena ia tidak ingin Bita bertanya lebih lanjut karena saat ini panas hati nya kembali membuat jantung nya berdetak tidak karuan.
"Sini kakak tiup, biar tidak pedih lagi ma." Berdiri dari gendongan mama nya lalu meraih mata Avi dan meniup nya asal membuat Avi tertawa gemas akan kepandaian anak nya.
"Terimakasih sayang nya mama." Mengajak Bita duduk dan memeluk nya.
Mereka sampai di halaman rumah nya, lalu Avi masuk dan memanggil mba Sum untuk menjaga Bita , Avi berjalan masuk dalam kamar nya dengan berbagai pikiran yang saling beradu .
*Avi kamu memiliki anak tiri dan anak mu juga akan memiliki saudara tiri jadi lebih baik kamu tinggalkan suamimu, sudah pasti dia akan kembali mencintai istri keduanya.
Tidak Avi, percayalah pada suamimu yang berjanji memilih kalian, beri kesempatan pada nya untuk membuktikan nya.
Ingat Avi bagaimanapun itu darah daging suamimu, sudah pasti dia akan memberi perhatian dan menyayanginya maka kalian tidak akan berarti lagi.
Bersabarlah Avi jangan dengarkan dia, yakin kan hatimu untuk terus mencintai suamimu*.
Aa... a... tidakk.. Berteriak hiateris saat tiba di depan pintu kamar nya menangis meronta dan menarik rambut nya sendiri hingga tertinggal beberapa helai di selipan jari - jari nya. Pikiran nya masih terngiang akan kata - kata Jhony.
Iya, Risa hamil anak mu, puas..
*Tidak.. ho..ho.o.. baru aku merasakan cinta darimu, pelukan hangat mu juga ciuman lembutmu, tapi sekarang aku harus menerima kamu memiliki anak bersamanya hikss.. hikss...
Cobaan ini begitu berat Tuhan. . tolong jangan biarkan siapapun merebut kebahagian keluarga kami lagi*. .
__ADS_1
Avi menangis tak henti - henti nya sambil berbicara dengan dirinya sendiri, bahkan meminta pada Tuhan untuk tidak mengambil kebahagian yang baru saja ia rasakan. Semakin menangis pikiran nya semakin kacau hingga semua barang yang ada di meja rias milik nya berterbangan bebas karena emosi yang membuat hatinya semakin kacau mengingat apa yang suami nya lakukan bersama Risa sampai membuahkan janin dalam rahim Risa.