
“Tu- Honey. Kenapa dia semakin keras?” Tanya Lilac karena wanita itu sekarang selain mengolesinya dia juga mengurutnya atas anjuran dokter.
“Jangan berhenti, lakukan lah terus.” Ucap Al dengan mata terpejamnya dia menopang tubuhnya dengan kedua tangan yang menahan ke ranjang.
Wajah Lilac dan Al merona, Al menahan hasratnya mati-matian. Tapi rasa nikmat dan enak yang baru pertama kali Al rasakan membuatnya tidak ingin melepas kesempatan ini, Al sangat menikmati sentuhan Lilac.
“Apa dia sudah mulai sembuh? Aset mu mulai berdir Honey. Dia mengeras dan memanjang.” Ucap Lilac dengan senang namun dia melupakan sesuatu jika itu adalah hal sensitive untuk di ucapkan.
Al menatap sayu Lilac, “itu baru setengah nya, dia belum nerdiri sempurna.” Ucap Al.
“Wah benarkah? Pantas saja jika ini di bilang aset berharga, baru setengahnya saja sudah sebesar dan sepanjang ini.” Ucap nya lagi membuat Al menalan salivanya susan.
Al menatap tubuh Lilac dan entah mengapa pikiran liar nya mulai mengelilingi otaknya, dia melihat tubuh polos Lilac di bawah sana.
“Apa kamu sadar dengan ucapan mu?” Tanya Al karena dia yakin jika Lilac tidak mengerti dengan ucapanya sendiri.
Lilac sontak menatap pria dengan wajah yang sudah merona dengan wajah sayu penuh gairah.
__ADS_1
“Kemarilah, aku tidak tahan lagi ingin bercinta dengan mu Honey.” Ucap Al sambil menarik sikut Lilac. Lilac yang sadar atas ucapan Al sontak membuatnya terkejut.
“Aaaaahhhh!!!” Teriak Lilac dan Al secara beramaan, jika Lilac berteriak karena sadar apa yang sedang mereka lalukan saat ini dengan ucapan Al yang mengajaknya bercinta, lain hal nya dengan Al pria itu berteriak karena saat Lilac terkejut wanita itu malah meremas bagian telur nya dan membuat Al ngilu dan nyeri secara bersmaan.
“Ke-kenapa kamu berteriak juga Honey? Harus nya aku tang teriak dan marah!” Ucap Lilac dengan kesal namun dia terlihat hawatir karena lagi-lagi Al terlihat sedang kesakitan sambil meringkuk di atas ranjang nya.
“ kenapa kau pencet telur nya bodoh! Harusnya batangnya saja yang kamu urut!” Pekik Al dengan seribu rasa sakit di bagian telur nya itu.
Lagi-lagi Lilac merasa bersalah, dia mendekati Al untuk melihat kondisinya.
“Maafkan aku, aku sangat kaget barusan.” Ucap Lilac.
“Sudahlah, ambilkan pakaian ku. Dan pergi mandilah,” ucap Al dengan posisi yang dama dia masih menahan sakit nya, namun ia enggan di lihat istrinya itu jika dirinya sedang menderita.
Lilac dengan telaten mengambil pakaian tidur untuk Al dan menaruh nya di samping pria itu. Lalu Lilac juga mengambil handuk untuk nya dan dengan cepat masuk kedalam kamar mandi atas perintah Al.
“Sial aku gagal lagi!” Pekik Al, padahal dia sudah menyusun rencana untuk bercinta dengan Lilac secepatnya karena wanita itu ingin bercerai denganya. “Harusnya aku tidak buru-buru dan mengikuti rencanaku yang sebelumnya.” Pikir Al.
__ADS_1
Awalnya Al akan menyentuh Lilac sedikit demi sedikit sampai wanita itu terbiasa dengan sentuhanya, dan menghilangkan trauma yang pernah ia lakukan pada istrinya itu. Namun karena permintaan Lilac yang ingin secepatnya bercerai, membuat Al ingin secepatnya segera memiliki Anak dari Lilac.
Walau masih dalam keadaan ngilu, Al memakai pakain nya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia memejamkan matanya dan sengaja tidur lebih dulu, Al tmasih sangat malu untuk menatap Lilac karena kejadian tadi. Dan tentu saja Al masih sangat marah, karena Lilac dua kalli membuatnya kesal malam ini.
Setengah jam berlalu, Lilac keluar dari kamar mandi dan mencari pakian di lemarinya.
“Apa-apaan ini? Kenapa pakian nya begitu transparan dan kekurangan bahan begini?” Gumam Lilac. Dia bingung harus memakainya atau tidak. “Siapa yang menyiapkan pakaian seperti ini sih?” Tanya nya, karena memnag dirinya sama seklai tidak membawa apapun selain tubuhnya karena Al sebelum nya sudah memberi tahunya jika semua kebutuhanya sudah di siapkan di sini.
Melihat pakaian nya pun semuanya hanya berbentuk gaun dan pakian-pakaian yang tidak enak untuk di pakai saat tidur.
Lilac menatap lemari milik Al, dia tersenyum saat mengingat di dalam lemari itu ada baju kaos bigsize.
Lilac dengan cepat memakai kaos putih tipis milik Al. “Ah sempurna, ini lebih nyaman di pakai tidur.” Ucap Lilac dia berjalan ke keluar walk in closet dan menuju ranjang nya.
Lilac menatap sekeliling, di sana berbeda dengan kamar lainya, tidak ada sofa panjang. Hanya ada beberapa kursi kecil.
“Bagaimana ini?” Gumam Lilac dia melihat Al yang sudah tidur di atas ranjang besar dan bersih itu. “Nyaman sekali, tidak apa-apa kan jika aku tidur di sini? Aku harus bangun lebih pagi agar dia tidak sadar jika aku tidur di sampingnya.” Gumam Lilac. Dia naik ke atas ranjang secara perlahan dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang itu.
__ADS_1
“Nyaman sekali.” Ucapnya sambil memejamkan matanya.