
Dr. Leon baru selesai memeriksa Lilac, Al terlihat sangat hawatir selama pemeriksaan. Di sangat sigap membantu Lilac untuk duduk, dia terus mengelus lengan istrinya dan berdoa dalam hatinya.
“Al…” lirih Leon sambil menghela nafasnya pelan.
“Ada apa Leon? Cepat katakan jangan menbuat ku hawatir. Apa istriku baik-baik saja?”Tanya Al dengan tidak sabaran.
“Tenang Al, istrimu baik-baik saja.” Ucap Leon.
“Baik-baik saja gimana Leon? Dia sampai mual-mual seperti tadi.” Ucap Leon. Sementara Lilac sudah tidak menanggapi keduanya dia lebih memilih mengoles hidungnya dengan aroma terapi agar tidak merasa mual lagi.
“Itu hanya salah satu gejala untuk ibu hamil, jadi mual-mual seperti itu sangat wajar di trimester pertama.” Jawab Leon.
“Wajar bagaimana Leon? Istriku saja belum hamil.” Celetuk Al spontan, lalu Al tiba-tiba diam saat mencerna kembali ucapan sepupunya.
__ADS_1
Tak.
Suara botol aroma terapi yang jatuh ke lantai karena Lilac kaget mendengar ucapan Leon, sementara Al dia langsung menutup mulutnya dengan sebelah tangan nya seolah kaget dan ingin teriak. Dia berdia dengan wajah tidak percaya.
“Leon! Kamu yakin istriku hamil? Jangan becanda seperti ini!” Ucap Al masih tidak percaya, wajah nya sangat serius namun juga merona entah karena apa.
Karena akhirnya bayi yang selama ini dia nanti-nanti akhirnya datang juga, Al sangat berdebar-debar saat ini tidak menyangka dengan berita yang ia dapat.
Al menatap istrinya yang masih diam mematung tanpa ekpresi, Al langsung meneluk istrinya dan menenggelamkan wajahnya di pundak istrinya.
“Terimakasih Sayang, terimakasih sudah memberiku ku seorang anak. Aku mencintai mu Lilac sangat sangat mencintaimu.” Ucap Al dia lalu melepaskan tubuh istrinya menatapnya sekilas lalu menciumnya bertubi-tubi. “Kita harus segera pulang ke rumah utama dan memberi kabar Mom dan Dad.” Ajak Al dia sudah tidak sabar ingin membanggakan dirinya di depan orang tuanya dan tentu saja memberi kabar bahagia untuk mereka.
“Tu-tunggu. Apa itu artinya di dalam perutku ada—“
__ADS_1
“Iya tentu saja sayang, di sini ada bayi kita berdua.” Ucap Al sambil mengelus perut Lilac, Lilac pun sepontan menatap perutnya.
Lilac kira ucapan Al yang katanya di dalam perutnya akan ada bayi mereka berdua, Lilac kira tidak akan pernah terwujud karena itu hanya ucapan asal yang keluar dari mulut Al.
Tapi nyatanya itu jadi kenyataan, lalu bagaimana dengan niatnya yang akan meninggalkan Al?
Lilac berdebar-debar, dia bingung dengan kenyataan ini. Entah hal bagus atau hal buruk saat mengetahui jika dirinya sedang mengandung, namun ada rasa aneh yang menyelimuti hatinya saat membayangkan wajah-wajah imut anak-anak nya kelak.
“Sayang, apa kamu senang?” Tanya Al dia berdiri saat selesai mencium perut Lilac, Al tidak tau isi hati Lilac. Apakah dia sangat terkejut sampai tidak bisa mengekpresikan kebahagiaan nya saat ini.
“Membayangkan wajah imut bayi-bayi ku nanti saja sudah membuatku senang, apalagi mengetahui jika aku akan menjadi seorang ibu.” Ucapnya tanpa sadar Lilac meneteskan air mata.
Dia masih bingung, senang dan sedih bercampur aduk, tapi yang jelas dia harus berbahagia tanpa memikirkan masa depan nya yang belum tau seperti apa.
__ADS_1