
Lilac merasakan sesuatu yang mengganggu tidurnya, basah kenyal menggerayangi leher jenjang nya. Tidurnya terusik karena sesuatu yang dingin sejak tadi mengusap perutnya, akhirnya iapun membuka matanya.
“Al apa yang kamu lakukan?” Tanya Lilac saat tau siapa orang yang sejak tadi mengelus perutnya dan juga menciumi lehernya itu.
“Tidurlah kembali sayang, kamu harus banyak istirahat.” Ucap Al namun dia tidak melepaskan sedikitpun aktifitasnya yang sudah ia lakukan sejak tadi.
“Bagaimana aku bisa istirahat jika kamu terus menggangguku.” Ucap Lilac dia bangun dari tidur nya dan segera menyalakan lampu kecil yang ada di atas nakas kirinya. “Jam berapa sekarang.” Ucap Lilac sambil menatap jam.
Seketika Lilac terdiam melihat waktu menunjukan jam 12 malam, itu artinya Al sudah bersama dengan Julia semala 3 jam lamanya.
Dadanya terasa amat sangat sesak, harusnya ia tidak boleh begini karena bagaimana pun Julia adalah istri sah suaminya.
__ADS_1
Al yang sejak tadi menatap Lilac dia pun beralih menatap jam yang sejak tadi di tatap sang istri.
“Maaf karena lama membuatmu menunggu.” Ucap Al, Lilac pun segera melirik ke arahnya.
“Kamu tidak perlu meminta maaf, aku tidak menunggu mu jadi jangan merasa terbebani.” Ucap Lilac ia bergegas mematikan lampunya dan kembali membaringkan tubuhnya.
“Aku cukup lama ngobrol dengan Dad mengenai kehamilan mu, dia memberi selamat padaku dan memberi beberapa saran saat merawat mu sayang.” Ucap Al dia segera membaringkan tubuhnya di sisi istrinya dan menyandarkan kepalanya di dada sang istri. “Peluk aku, Ungu.” Ucap Al dan wanita itu hanya diam.
Lilac memalingkan wajahnya dia berusaha menutupi rasa senang yang sejujurnya dirinya sendiri tidak mau berbuat egois seperti itu, tapi itu artinya suaminya tidak bercinta dengan Julia hal itu membuat Lilac tidak bisa menutupi rasa senan nya.
Lilac mengangkat lenganya untuk mengelus kepala sang suami, Al pun tersenyum karena ternyata benar jika Lilac cemburu melihat Al menemui Julia.
__ADS_1
“Bagaimana pun kak Julia adalah istrimu, aku tidak punya hak untuk melarang mu menemuinya.” Ucap Lilac dengan dada yang kembali sesak. “Aku sadar diri jika aku hanya istri keduamu, bahkan tidak ada yang tau jika aku adalah istrimu.” Ucap Lilac tanpa sadar telah mengeluarkan isi hatinya.
Al bergerak untuk menatap wajah sang istri dan menempelkan hidungnya di hidung istrinya.
“Kamu berhak menerima keadilan itu, apapun yang kamu katakan aku akan menurutinya sayang. Jadi belajarlah menjadi istri yang egois, karena aku suka itu.” Ucapan Al malah membuat Lilac bergerak lebih dulu untuk mencium pria itu, tentu saja Al menyambutnya dengan sangat baik karena sejak tadi ia sangat menunggu saat-saat dimana dirinya bisa kembali menyentuh istrinya.
Walaupun Dad Rion sudah memberi tahunya jika dirinya tidak boleh menyentuh istrinya saat trimester pertama, Al janji akan melakukan nya dengan sangat lembut agar tidak melukai anaknya yang ada di dalam rahim sang istri.
Al mengerutkan keningnya karena rupanya sang istri lebih sangat bernafsu dibanding dirinya, namun hal yang jauh membuatnya bingung adalah kelihaian Lilac dalam berciuman.
Bukankah beberapa waktu lalu istrinya itu snagat payah dalam hal berciuman, lalu kenapa saat ini wanita ini sangat ahli sampai membuat dirinya kekurangan nafas karena istrinya sama ekali tidak memberi celah dirinya untuk berhenti.
__ADS_1