
Lilac terkejut dengan ucapan Al, rasanya seperti mimpi saat mendengar suaminya itu akan menceraikan Julia. Antara senang dan rasa tidak enak menjadi satu.
“Kenapa? Apa karena aku punya anak dan dia belum punya? Tolong jangan seperti itu Al, dia akan terluka.” Ucap Lilac. Sebagai seorang wanita Lilac pun akan terluka jika berada di posisinya.
“Bukan sayang.” Ucap Al dia mencium lengan istrinya. “Sejak awal Julia menolak untuk hamil, dia lebih mementingkan karier nya dibanding memberiku keturunan.” Ucap Al.
“Tapi Al, aku merasa tidak enak dan—“
“Sssttt jangan pikirkan apapun, kamu hanya perlu memikirkan aku, kamu dan anak kita.” Ucap Al sambil memeluk dan mengajak istrinya untuk tidur.
Namun Al tentu tidak langsung menceraikan Julia karena wanita itu pagi-pagi sekali sudah pergi tanpa memberi tahunya dan hanya bilang pada Mom Aily jika dirinya pergi untuk bekerja.
Tentu saja hal itu tidak di pedulikan Al, karena Al lebih pokus pada Lilac.
Tidak terasa sebulan berlalu begitu cepat, kehamilan Lilac yang sudah hampir lewat dari dua bulan sangat Lilac nikmati karena semua perhatian tertuju padanya dari semua penghuni kediaman Estevan.
__ADS_1
“Sayang, jangan banyak bergerak. Ayo kita pergi kekamar.” Ucap Al dia memeluk Lilac dari belakang dan menenggelamkan wajahnya di pundak istrinya.
Aroma tubuh yang sangat Al sukai.
“Iya sayang, ada Penelope dan Bibi yang bantu Mom kamu istirahat saja di kamar.” Ucap Mom aily yang tengah sibuk dengan alat masaknya.
“Yuk naik ke atas, Mom juga menyuruhmu untuk istirahat.” Ucap Al lagi. Mulutnya memang berbicara untuk segera beranjak dari tempat itu, namun tubuhnya seolah enggan lepas dari tubuh Lilac dan mulai menciumi pundak yang terbuka itu dengan mata terpejam.
“Sayang, hentikan aku sedang memotong mangga.” Ucap Lilac karena dirinya sudah mulai tidak pokus akibat ciuman bertubi-tubi di pundak dan lehernya.
“Kalau begitu biar aku yang memitong mangganya.” Ucap Al langsung mengambil pisau dan magga yang di pegang Lilac tanpa merubah posisinya berdiri.
Al memang memitong mangga itu, namun bibirnya tetap tidak mau berhenti menciuminya.
“Kak kamu ini tidak kenal tempat dan waktu yah?” Keluh Penelope.
__ADS_1
“Kau ini selalu saja mengganggu ku! Lope lebih baik kamu cepat cari kekasih agar tidak mengomel setiap waktu.” Ketus Al sambil menatap sinis ke arah adiknya itu.
Lilac dan Mom Aily terkekeh saat melihat Penelope mendengus kesal pada kakaknya.
“Minggir Al, aku harus mencuci tanganku.” Ucap Lilac.
“Ayo kita cuci bareng.” Ajak Al dia berjalan ke samping dengan tubuh keduanya yang masih menempel, Al sangat enggan berjauhan dengan istrinya itu. Walau Lilac sangat malu dia bergegas mencuci kedua lengannya dan juga lengan Al.
Mungkin bagi mereka sudah terbiasa melihat Al yang tidak bisa lepas dari Lilac sejak saat kehamilan istrinya itu, namun bagi Julia yang baru melihatnya sejak tadi dia merasa sangat kesal dan benci.
“Al, aku ingin berbicara berdua denganmu. Aku akan tunggu di kamar.” Ucap Julia dia meninggalkan koper yang tadi di bawanya, sementara semua orang terkejut karena kedatangan Julia yang tiba-tiba.
Al kembali menatap Lilac. “Sayang aku ke atas dulu yah, jangan cemburu kami hanya akan berbicara.” Ucap Al, dia mencium kening Lilac lalu mengusap perut istrinya itu.
Lilac hanya mengangguk dan membiarkan Al pergi.
__ADS_1