
Lilac berjalan menuruni anak tangga di kediaman keluarga Estevan, sejak tadi ia mencari-cari keberadaan suaminya.
Lima bulan sejak kejadian dimana Julia berniat Mencelakai Lilac, sejak itulah Al selalu berada di samping sang isteri. Ia bahkan tidak pernah pergi ke kantor dan selalu bekerja di dalam rumah.
“Bibi liat suamiku gak?” Tanya Lilac saat berpapasan dengan salah satu pelayan di kediaman itu.
“Tadi Bibi liat, Tuan Al ada di ruang kerjanya, Non.” Jawab pelayan itu.
“Makasih bi,” dengan segera Lilac berjalan menuju ruang kerja suaminya.
Ia mengintip Al dari balik pintu, pria itu terlihat sangat serius menatap layar laptopnya.
Tok… tok… tok…
“Sayang.” Panggil Al dengan wajah yang terlihat senang saat melihat sang isteri mendatanginya, ia berjalan mendekati Lilac yang hanya berdiri menunggu kedatanganya.
“Kamu mencariku?” Tanya Al sambil mengecup bibir sang isteri. “Atau Baby ku yang ingin bertemu dengan Daddy nya?” Tanya Al lagi pada perut yang sudah mulai membesar itu, Al mengusap dan mengecup berkali-kali perut sang isteri.
“Ko aku cuma sekali cium, anak ku dapat banyak.” Keluh Lilac karena dia merasa perhatian Al jauh lebih banyak kepada anaknya di bandingkan kepada dirinya.
“Mulai lagi…” keluh Al sembari tertawa, karena lagi-lagi Lilac selalu cemburu kepada anaknya.
__ADS_1
Al menggendong tubuh sang isteri yang dua kali lipat pebih berat dari sebelumnya, namun ia masih sangat kuat untuk mengangkat tubuh isteri dan anaknya.
Al mendudukan tubuh Lilac di pangkuanya, dan menatap wajah sang isteri lebih intens. “Mau di cium di mana?” Tanya Al. “Di sini?” Ia mencium kening sang istri.
“Di sini?” Al lalu mencium hindung sang isteri.
“Atau di sini?” Tanya nya lagi saat mencium leher Lilac.
“Ah aku tau, pasti di sini.” Ucap Al hensak menarik baju isterinya dan memperlihatkan dadanya, namun sayangnya Lilac menahanya sambil tertawa malu.
“Aku hanya becanda sayang, aku datang kesini mau nanya sesuatu padamu.” Ucap Lilac sambil membenarkan kembali pakianya.
“Apa sayangku?” Tanya Al dia memeluk sang isteri sambil mengusap-usap perut buncitnya.
“Tidak! Sampai kamu melahirkan.” Ucap Al dengan tegas, dia sangat menjaga Lilac. Dia tidak mau terjadi hal-hal yang tidak di inginkan seperti sebelumnya.
Lilac mengerucutkan bibirnya kesal karena Lilac merasa Al sudah berubah, dia lebih banyak mengurungnya di rumah dari pada mengajaknya pergi keluar. Bahkan untuk membeli pakian saja, pelayan tokoknya yang harus datang ke rumah.
Sungguh bukan ini yang Lilac mau.
“Aku tidak bermaksud mengekangmu sayang, aku janji sampai anak kita lahir kemanapun kamu mau pergi aku akan mengijinkanya.” Pinta Al sambil mengecup lengan sang isteri.
__ADS_1
“Aku ngerti kamu hawatir dengan anak kita, tapi kalau aku minta hal lain bolehkan?” Tanya Al.
Al mengangguk. “Katakan apa yang kamu mau sayang, biar aku menyuruh paman Le untuk mengurusnya.”
“Tidak perlu paman Lee, aku hanya butuh kak Penelope.” Ucapnya.
“Penelope?”
Lilac mengangguk. “Iya, dia janji akan mengurus acara ulang tahun ku. Aku ingin acara yang sangat meriah sebelum aku menjadi seorang ibu, apa boleh?” Tanya Lilac.
“Tentu saja, aku akan mengadakan acara meriah setiap ulang tahun mu.” Ucap Al.
“Tidak, aku minta hanya di tahun ini saja itu sudah cukup.” Jawab Lilac.
“Baiklah, kalau begitu cium aku.” Pinta Al.
“Mmuuaahh… mmuuaahh…”
Saat Al aakn membalas kecupan itu Lilac lebih dulu berdiri dan berlari kecil.
“Sayang mau kemana? Aku belum selesai.” Ucap Al.
__ADS_1
“Nanti malam saja, aku harus memberi tau kabar gembira pada Kak Lope.“ ucap Lilac. Namun saat Lilac hendak berbalik, dia tidak sengaja menyenggol bingkai photo hingga terjatuh.
Prang!