Istri Keduaku Yang Nakal

Istri Keduaku Yang Nakal
Bab 89 - Lahiran.


__ADS_3

Al berjalan mondar mandir di depan ruang operasi, dia tidak bisa diam melihat isterinya sendirian di dalam karena dirinya tidak boleh masuk. 


“Berhentilah membuatku pusing, Al.” Ucap Theo yang kini juga berdiri dan bersandar di tembok di lorong itu. 


“Kau ini tidak tau gimana hawatirnya aku? Kelak kau juga pasti merasakan perasaan aku saat ini Theo.” Ujar Al lalu kembali berjalan bolak balik. 


Tiba-tiba Leon berjalan dengan beberapa dokter yang siap membantu persalinan Lilac, “Leon, ijinkan aku masuk kedalam. Aku jarus menemani isteriku di dalam.” Pinta Al pada Leon karena tadi dialah yang melarang Al masuk menemani Lilac. 


“Lihat tubuhmu saja bergetar seperti itu, bagaimana kamu bisa menemani isterimu di dalam?” Ucap Leon. Ya memang saat ini tubuh Al bergetar, karena ini pertama kali baginya melihat sang isteri kesakitan. Apalagi dia akan menjadi seorang Ayah dan melihat menyambut kedatangan Anaknya.


Tentu saja hal itu membuat Al berdebar-debar, merasa bahagia dan takut secara bersamaan. 


Prrtt. 


Theo menahan tawanya dan tentu saja langsung dapat tatapan tajam dari Alterio. 


Alterio kembali menatap Leon, “Leon, please aku mohon biarkan aku masuk.” Mohon Al. 


Leon yang melihat Al benar-benar ingin masuk merasa kasian dan tidak enak bersamaan, bagaimana pun di dalam adalah isteri dan anak pertamanya. 


“Baiklah tapi jangan sampai pingsan.” Pinta Leon, lalu berjalan masuk kedalam dan di ikuti oleh Al yang berjalan dengan menahan getaran di tubuhnya.

__ADS_1


Theo menghela napasnya lega, sejujurnya dirinya ikut hawatir melihat Al. Tapi sebisa mungkin dirinya terlihat baik-baik saja. Theo lalu menatap ketiga wanita yang sejak tadi sibuk dengan percakapan mereka yang tidak berpaedah. 


Theo mempertajam pendengaranya, berusaha menguping apa yang sedang mereka bicarakan. 


“Sudah ku bilang kalian tidak perlu memikirkan nama lain selain nama yang ada di liar angkasa atau nama bunga-bungaan.” Ucap Sherena percaya diri.


“Kenapa? Bukankah nama Angela bagus untuk anaknya Lilac, yah anak kecil kan seperti malaikat, nama itu sangat cocok.” Ucap Mikayla. 


“Tidak, nama Sharon juga bagus. Aku ingin keponakanku bernama Sharon.” Ucap Penelope. 


“Ish kalian nih, lebih baik nama-nama benda yang ada di angkasa seperti Venus, Bulan, Matahari seperti itu, nama Kak Al juga kan berasal dari langit.” Ucap Sherena. “Oh atau, nama bunga-bungaan seperti Nama ibunya Bunga Lilac. Nah anaknya bagus jika namanya Rose, Eser atau—“


“Kemboja.” Ceplos Mikayla. 


Penelope dan Theo yang diam-diam mendengarkan ikut tertawa.


“Ko bah kun kun sih?” 


“Iyah kemboja kan kembangnya orang meninggal.” Celetuk Sherena. 


Sepontan Mikayla menutup mulutnya dengan cepat, dia tidak tau jika bunga itu bermakna seperti itu. 

__ADS_1


“Maaf aku gak tau.”


“Sudah jangan berisik, sebaiknya kalian bertiga berdoa agar persalinanya lancar. Ibu dan anaknya selamat.” Ucap Theo. 


“Ah benar juga.” Ucap Sherena. 


Penelope dan Sherena langsung berdoa sementara Mikayla merutuku Dosen gila itu dalam hari setelahnya berdoa untuk keselamatan sahabatnya dan juga calon keponakanya.


Tidak lama setelah itu terdengar nyaring suara bayi yang baru saja lahir. 


Theo dan yang lain langsung mendekati pintu ruang operasi saat pintu itu terbuka. 


“Bagaimana dokter kondisi Kakak ipar saya?” Tanya Penelope dengan raut wajah hawatir.


“Anak dan ibunya selamat, dan dalam keadaan sehat. Tapi—“ 


“Tapi apa dok?” Tanya semua orang bebarengan. 


“Sepertinya Ayah dari anak itu yang tidak baik-baik saja.” Ucap Dokter bebarengan dengan Al yang datang dengan tubuh lemas, dia nyaris terjatuh karena tidak kuat menopang bobot tubuhnya. Dengan segera Theo menangkap tubuh sepupunya itu.


.

__ADS_1


.


To be continued…


__ADS_2