
“Dari mana saja?” Tanya Lilac saat Al memasuki ruang inapnya, entah mengapa Lilac enggan jauh dari Al. Sejak tadi ia terus bertanya dimana suaminya berada pada adik iparnya itu.
Al memeluk istrinya yang sedang duduk di atas ranjang pasien, ia Ikut naik ke atas ranjang dan menyenderkan pipinya di dada sang istri.
Rasa takut kehilangan sejak tadi menghantui pikirannya, Al bahkan tidak mau membayangkan hal itu karena rasanya sangat terasa nyeri.
“Tadi aku bicara dengan Mom dan Dad di depan, sayang.” Jawab Al. Dia merasa sangat nyaman berada di dekapan istrinya, di usapnya perut rata sang istri. “Aku sudah berbicara pada mereka jika aku akan segera menceraikan Julia.” Ucap Al.
Al sedikit menjeda untuk memberi waktu kesempatan agar Lilac berkomentar, namun rupanya istrinya enggan berkomentar karena ia malah sibuk mengelus rambut suaminya.
“Keputusanku sudah bulat, jadi jangan larang aku seperti waktu itu saat aku bilang akan menceraikan Julia.” Ucap Al takut jika Lilac masih bersikap baik pada orang yang sudah berniat mencelakainya.
Lilac tersenyum, ya dia harus bersikap egois demi dirinya dan anak yang ada di dalam kandunganya. Demi menjaga si buah hati.
__ADS_1
“Lakukanlah dengan cepat, karena aku ingin cepat menjadi satu-satunya isteri mu, sayang.” Ucap Lilac. Entah mengapa dia sedikit berdebar dengan ucapan egoisnya itu.
Al mendongakkan wajahnya mencari wajah sang istri dan menatapnya dengan intens.
Hati Lilac semakin panas di tatap seperti ini. “Apa kamu keberatan dengan permintaanku sayang?” Tanya Lilac dengan pelan dia tidak ingin memicu perdebatan.
“Engga, justru aku senang mendengar ucapanmu.” Jawab Al dia langsung mendekatkan wajahnya di depan wajah Lilac, menghilangkan jarak hingga hidung keduanya saling menempel.
Napas keduanya pun saling bersautan, dada Lilac semakin bergetar. Mereka berdua sudah sangat sering bercinta namun hal seperti ini masih mampu membuat Lilac berdebar-debar.
Lilac memejamkan matanya menikmati rangssangan itu, desiran tubuhnya semakin bergejolak rasa geli dan gairah mulai melandanya.
“Sayang, cepat lakukan sesuatu. Aku sudah tidak tahan.” Ucap Lilac wajah memohonnya membuat Al terkekeh pelan. Mata sayunya sangat terlihat sexy, oh sungguh jika bukan sedang berada di rumah sakit Al pasti sudah menggempur wanita cantik ini.
__ADS_1
“Tidak bisa, kita sedang ada di rumah sakit, sayang.” Ucap Al yang membuat Lilac seketika kecewa pada suaminya itu.
“Aku tidak tahan.” Ucap Lilac dia segera menarik tengkuk leher suaminya dan segera me-lu-mat bibir ranum suaminya.
“Emmpphh.” Lenguh Lilac. Dia sendiri yang mencium suaminya namun dia sendiri yang bergairah.
Bibir Al adala bibir satu-satunya yang pernah ia nikmati, namun rasanya selalu bisa membuat tubuhnya berdesir, bergejolak dan meminta hal yang lebih.
Al membalas ciuman itu, dia terlihat tidak mau kalah di depan istrinya sampai lebih dulu memasuki rongga mulut sang istri dan mengajak lidah itu menari-nari di dalamnya.
Al mengangkat tubuh Lilac dan merubah posisi tidurnya menjadi duduk dan mendudukan Lilac di pangkuanya dengan posisi yang sangat intim, Lilac mengalungkan kedua lenganya di leher Al.
“Di luar masih ada adik dan kedua orang tuaku.” Ucap Al kembali memastikan jika Lilac akan melanjutkanya atau menghentikanya.
__ADS_1
“Kamu bisa bermain cepat tidak sayang?” Tanya Lilac sedikit ragu karena yang ia tau Al tidak pernah main cepat dan tidak pernah cukup sekali.