
Pintu itu pun terbuka, Penelope dan kedua orang tuanya ikut masuk ke dalam ruangan Lilac.
“Kak Al?!” Panggil Penelope sambil menatap lurus dengan wajah tegang.
“Ada apa Lope?” Tanya Mom Aily dia mengikuti arah pandang putrinya.
“Kak Al dan Lilac gak ada di sini Mom, kemana mereka?” Tanya Penelope dengan wajah hawatir.
“Sepertinya mereka di kamar mandi.” Jawab Dad Rion acuh dambil duduk di salah satu sofa di sana sambil memainkan ponselnya.
Penelope dan Mom Aily pun bernapas dengan lega, dia takut jika mereka pergi kemana tanpa sepengetahuan nya dan terjadi lagi hal-hal yang tidak di inginkan.
“Syukurlah, Mom kira kemana. Mungkin Al sedang membantu istrinya di dalam.” Ucapnya pada Penelope. “Kita tunggu saja di sini.”
Sementara di dalam kamar mandi, Al tertawa sambil mendongakan kepalanya ke belakang. Ia duduk di atas closet dengan Lilac yang duduk di pangkuanya menghadap dirinya dengan wajah merengut.
“Sayang, kamu kebangetan! Bagaimana jika tadi kita ketauan?!” Pekik Lilac kesal.
Karena di detik-detik terakhir saat keluarganya akan masuk ke ruangan itu, Lilac sempat memaksanya segera masuk kedalam kamar mandi namun Al malah melanjutkan aksinya sampai keduanya mendapatkan pelepasan barulah Al berlari menggendong istrinya masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Lilac memukul pelan dada sang suami, namun Al malah terkekeh.
“Astaga aku hanya tidak habis pikir, ternyata bermain di waktu genting itu sangat menantang.” Ucapnya jujur karena entah mengapa Al punya kepuasanya tersendiri.
“Ayolah sayang, aku tidak mau seperti itu lagi.” Jawab Lilac dengan wajah cemberut.
“Kamu yakin sayang? Bukanya tadi kamu yang menginginkanya?” Tanya Al dia langsung kembali memainkan puncuk dadanya dan memelintirnya.
“Tidak, tidak akan terjadi lagi— ahh.” Lenguh Lilac saat merasakan sesuatu yang bergerak di dalam dirinya.
Iya Al mendenyutkan benda pusaka miliknya yang masih menyatu di dalam tubuh Lilac sehingga hal itu kembali menggoda istrinya.
“Hentikan di luar ada mertuaku sayang, mereka sedang menunggu kita.”
“Sekali lagi yu, aku tidak cukup hanya sekali.” Pinta Al.
Lilac segera berdiri dari duduknya dan melepas penyatuan mereka, dia tidak gila seperti suaminya itu. Akan sangat memalukan jika Dad dan Mom sampai menyadari kelakukan mereka.
“Sayang…” rengek Al dia segera memeluk Lilac dari belakang.
__ADS_1
“Cepatlah lakukan proses penceraian mu dengan Julia, sayang. Setelah itu aku ingin menagih janjimu untuk pergi keluar negeri.” Ucap Lilac namun Al terlihat tidak menggubris ucapanya. “Bersamamu, jadi setiap hari kita bisa melakukanya.” Lanjut Lilac.
Ucapan terakhir Lilac menyadarkanya dia pun tersenyum dan membantu sang isteri menautkan kembali braa yang sempat di lepaskanya.
“Janji setiap hari kan?” Tanya Al lagi untuk memastikan.
Setelah tubuhnya rapi Lilac balik menatap Al, “tentu saja.” Jawabnya singkat dengan senyuman manis.
Cup! Kecupan singkat mendarat di bibir Al.
“Rapihkan pakaianmu sayang, ayo kita keluar.” Ajak Lilac.
Al pun bergegas merapihkan pakianya dan memapah istrinya keluar dari kamar mandi.
“Dad kalian ada di sini?” Tanya Al seolah-oleh baru melihat mereka. “Lilac sedikit pusing jadi aku ikut menemaninya.” Alasanya.
Dad hanya melirik sekilas pada putranya itu, lalu beralih menatap Lilac.
“Bagaimana kondisimu dan cucuku, Lilac?”
__ADS_1
Lilac menatap Dad Rion dengan senyuman di bibirnya, Dad Rion memang tidak pernah banyak berbicara karena dia selalu menyetujui semua keputusan isterinya saat pertama kali bertemu.
Mendengar Dad Rion begitu menghawatirkanya, Lilac jadi tenang karena itu artinya tidak ada satupun yang tidak menerimanya di keluarga ini.