
Sherena, Mikayla dan juga Penelope melihat kedua bayi mungil itu dengan mata berbinar, seolah sedang melihat malaikat kecil.
“Matanya sangat indah.” Gumam Penelope.
Mikayla mengangguk sambil menyentuh-nyenuh kecil jari-jari kecil itu.
“Aku pengen bikin bayi juga, Kak Leon.” Ucap Sherena pada Leon yang menggendong bayi perempuan.
“Aku juga.” Gumam Theo pelan tanpa sadar karena terlalu pokus menggendong bayi mungil berjenis kelamin laki-laki itu dengan tubuh yang sangat tegang dan kaku, karena ini pertama kali baginya.
Mikayla melirik pada Theo karena mendengar samar ucapanya, Theo hanya pokus pada bayi itu dengan senyum di wajahnya.
“Aku baru pertama kali melihat dia tersenyum seperti itu,” gumam Mikayla dalam hatinya.
Kedua pria itu terlihat sangat senang menggendong bayi yang bukan miliknya itu, Leon seketika menatap Sherena saat hatinya ingin memiliki bayi seperti Al.
__ADS_1
Begitu juga dengan Theo, dia diam-diam melirik ke arah Mikayla yang sedang tersenyum menatap bayi itu. Entah mengapa suasana seperti ini saja membuat hati Theo menghangat dadanya sejak tadi berdebar-debar.
“Kalian!!! Berani-beraninya menyentuh bayi-bayiku!” Pekik Al saat masuk kedalam ruangan dimana isteri dan anaknya di rawat.
Al menyewa seluruh lantai dua demi kenyamanan sang isteri dan anak-anaknya, namun sepupu-sepupunya itu malah mengganggu jam tidur anak-anaknya.
Semua orang menatap Al dan segera beranjak takut jika mereka akan kena marah, “simpan kembali anakku pada tempatnya! Aku saja belum menggendongnya, kalian berdua berani menduluiku!” Pekik Al kesal pada kedua sepupunya itu, di tatapnya tajam kedua orang itu saat meletakan kembali anak-anaknya.
“Kamikan hanya menggendongnya, kenapa kamu berisik sekali.” Ucap Theo.
“Disini kan banyak ruangan kosong, kami akan menunggu keluarga yang lain di ruang tv.” Ucap Sherena dengan cepat berlari keruangan lain. Penelope menatik Mikayla dan ikut menyusul gadis itu.
“Kalian pulang lah, disini sangat sesak jika ada kalian.” Ucap Al. Padahal tuangan tempat Lilac di rawat itu sanagat luas, bahkan seperti sebuah Apartemen yang memiliki beberapa kamar dengan ruang tamu dan juga tuangan lainya.
Selain itu seluruh rungan yang ada di lantai dua ini sudah di sewa oleh Al, tapi Al masih mengeluh jika tempat itu sempit karena adanya Theo dan Leon.
__ADS_1
“Kamu jangan seperti itu pada sepupumu sendiri, Al!” Ucap Mom Aily sambil menjewer telinga Alterio yang sejak tadi berlaga di depan sepupunya.
“Aduh ampun Mom, lepasin. Masa Al di jewer di depan kedua anak Al sih Mom, kan malu.” Keluh Al.
“Makanya bersikap baiklah pada dua sepupumu ini.” Ucap Mom Aily.
“Iya-iya Mom.” Jawab Al.
“Isterimu mencarimu Al, dia ingin makan di suapin sama kamu. Lebih baik cepat temui Lilac.” Ucap Mom Aily.
“Oke Mom. Nitip anakku jangan sampai di sentuh mereka lagi.” Ucap Al. Sejak tadi Al bolak balik ke kamar Bayi dan isterinya.
“Kalian berdua, cepat menikah dan buat cucu untuk ibu kalian. Mereka pasti akan senang.” Ucap Mom Aily pada Leon dan juga Theo. “utututuuuu cucung Oma lucu sekali.” Ucap Mom Aily sambil menggendong salah satu dari mereka.
Thoe dan Leon hanya diam saja, mereka berdua tidak menjawab ucapan Momnya itu.
__ADS_1