
Di Negara lain, Lee Min Im kini tengah bersiap menuju bandara. Kerinduan yang ditahannya selama enam bulan terakhir, kini akhirnya dapat ia akhiri. Lee Min Im berniat mengunjungi Park Jong Ah ke Inggris dan menjelaskan padanya tentang apa yang terjadi selama enam bulan terakhir.
Flash Back On...
Hari itu Lee Min Im yang tengah berjalan menuju sekolah Park Jong Ah tiba-tiba dihadang oleh sekelompok pria asing. Mereka menyerang Lee Min I'm secara membabibuta dan merampas tas yang dibawanya.
Tak hanya sampai di situ saja, para pria itu bahkan ingin membunuh Lee Min Im. Untung saja ,orang-orang suruhan orangtua Lee Min Im tiba disana dan membantunya.
Ternyata hal itu bukan hanya dialami olehLee Min Im saja, kedua orang tuanya bahkan sampai tewas di tangan orang-orang kejam itu. Untungnya sang adik masih bisa terselematkan walaupun mengalami trauma berat, akibat kejadian pembunuhan itu terjadi di depan mata nya langsung.
Kepergian orang tuanya, membuat Lee Min Im harus memikul tanggung jawab atas perusahaan. Kekacauan besar pun terjadi, banyak para pemegang saham yang ingin melepaskan diri dari perusahaan.
Hal itulah yang membuat Lee Min Im tidak dapat menghubungi Park Jong Ah selama Dua tahun terakhir. Fokus dan pikirannya banyak tersita untuk perusahaan dan bisnis keluarga. Bila ia lalai sedikit saja maka, segala usaha yang telah diperjuangkan oleh orang tuanya akan sia-sia.
Hal itu juga akan berpengaruh atas beasiswa yang diperoleh Park Jong Ah. Lee Min Im tidak ingin gadis yang dicintainya kehilangan impian. Jadi, walau harus menahan rasa rindu ingin bertemu atau barang sekedar mendengar suara sang kekasih, Lee Min Im akan berusaha untuk menahannya.
Hingga kini perusahaan telah kembali setabil dan dia dapat menemui sang kekasih di Negara lain, yaitu Inggris. Sebenarnya, tujuan Lee Min Im ke Negara itu bukan hanya untuk menemui sang kekasih. Melainkan juga demi melakukan perjalanan bisnis dengan salah satu pengusaha di Negara itu.
Flash Back Off...
Lee Min Im telah mendarat di Negara tempat Park Jong Ah menuntut ilmu. Pria itu sengaja tidak memberitahukan kedatangannya pada Park Jong Ah agar menjadi sebuah kejutan. Lee Min Im sudah tidak sabar untuk menjumpai Park Jong Ah dan melihat ekspreainya.
"Maaf Presdir Lee, malam ini kita akan menghadiri pesta perjamuan yang diadakan oleh keluarga Windsor."
"Baiklah, aturkan untukku jam kosong besok siang, aku ingin menemui seseorang." Mobil pun melaju menuju sebuah hotel yang telah dipesan oleh Sekretaris Lee Min Im.
Pesta megah kaum Bangsawan yang digelar oleh keluarga Windsor tentu saja menjadi sorotan publik. Begitu banyaknya tamu yang menghadiri pesta tersebut juga bukanlah orang-orang biasa. Mereka semua berasal dari golongan Bengsawan, pengusaha dan pejabat Negara.
Untuk pertama kalinya Park Jong Ah menghadiri pesta semacam itu. Di tengah-tengah golongan orang yang memiliki kasta jauh lebih tinggi tentu saja sangatlah terasa canggung baginya.
__ADS_1
Mungkin, bukan hanya dia satu-satunya tamu asal Korea. Tapi, banyak mata kini tertuju padanya, orang-orang itu seperti ingin menelanjangi Park Jong Ah saat itu juga.
'Apakah ada yang salah dengan gaun yang ku kenakan? Apakah aku tidak pantas mengenakannya? Atau make up ku terlalu berlebihan?' Tanya Park Jong Ah pada dirinya sendiri.
Edward mendekat padanya dan menyapa gadis itu layaknya para pengeran menyapa kaum putri dari kerajaan di negeri dongeng.
"Selamat malam Nona Park Jong Ah, kau terlihat cantik malam ini." Pujinya pada Park Jong Ah.
"Terimakasih Ed, ini semua berkat gaun yang kau berikan untukku."
"Tidak, kau memang sudah mempesona Park, gaun ini hanya menonjolkan pesona yang kau miliki."
Keduanya berbincang hangat di antara ratusan pengunjung yang menghadiri pesta tersebut. Tak ayal, hal itu membuat banyak mata memandang kearah kedua remaja itu.
"Apakah kau tahu siapa gadis yang bersama Edward itu? Putri bangsawan darimanakah dia?" Tanya salah seorang wanita yang menghadiri pesta itu.
Begitulah gosip diantara para tamu undangan di sana. Bila tidak membicarakan bisnis, kekayaan, ataupun kekuasaan yang mereka miliki, pastilah mereka akan menggunjingkan orang lain.
Hingga tiba waktunya untuk memilih pasangan dansa, Edward mengulurkan tangannya pada Park Jong Ah dan membawa gadis manis itu untuk ke lantai dansa bersamanya.
"Nona Park, maukah kau menjadi pasangan dansaku?"
"Tapi Ed, aku tidak pernah berdansa sama sekali sebelumnya. Aku tidak bisa." Bisik Park Jong Ah pada Edward yang masih menariknya ke lantai dansa.
"Tenanglah kau hanya perlu mengikuti langkah kakiku."
"Ta...tapi," belum selesai Park Jong Ah mengucapkan kata-katanya, musik telah mengalun merdu dan Edward memulai gerakannya. Membuat Park Jong Ah mau tidak mau harus mengikuti gerakan pria itu.
Tidak jauh dari tempa itu, seorang pemuda tidak bisa melepaskan pandangan matanya pada sepasang pasangan dansa. Entah apa hubungan diantara keduanya, tapi pandangannya selalu tertuju pada wanita yang mengenakan gaun hitam dengan corak merah di sisinya.
__ADS_1
Wanita itu terlihat begitu mempesona malam ini, sayangnya dia justru nampak sangat bahagia bersama pria lain. Kedua orang itu menikmati alunan musik dengan begitu bahagia.
Senyuman hangat selalu terukir di wajah sang wanita cantik itu. Bahkan hingga musik telah berhenti kedua orang itu masih saja saling melemparkan canda tawa.
Lee Min Im menunggu kedua orang itu meninggalkan salah satunya, lalu berencana menghampiri Park Jong Ah. Sayangnya hal itu mungkin tidak akan terjadi, sebab mereka masih saja saling berbincang. Jadi, dia memutuskan untuk menghampiri Park Jong Ah dan memberikan kehjutan untuk gadis manis itu.
Saat hampir mencapai tempat kedua orang yang ingin dihampirinya, Lee Min Im mendengar percakapan mereka.
"Nona Park, ada hal yang ingin ku bicarakan padamu. Bisakah kau ikut denganku? Kita akan ke tempat yang lebih tenang."
"Em, tentu."
Lee Min Im mengikuti keduanya secara diam-diam. Hingga mereka iba di sebuah taman yang berhiaskan bunga mawar dan lilin-lilin putih cantik.
"Nona Park, aku tau mungkin ini terdengar konyol, tapi aku sudah memikirkan ini sejak pertama kita bertemu di perpustakaan." Edward menjelaskan ucapannya lalu menatap manik coklat milik Park Jong Ah.
Sedangkan gadis yang baru pertama kali melihat pemandangan yang begitu indah, masih tidak mengerti akan arah pembicaraan yang dimaksud oleh pria dihadapannya itu, hingga Edward melanjutkan ucapannya.
"Aku menyukaimu. Maukah kau menjadi kekasihku?"
Park Jong Ah seketika menoleh ke arah Edward dan kemudian tertawa.
"Kau bercanda kan Ed?"
"Aku serius!"
BERSAMBUNG....
Tolong dukung karyaku dengan memberikan like,komen dan favoritnya ya...😉😉
__ADS_1