
Park Jong Ah menatap wajah Lee Min Im sesaat sebelum berterima kasih.
"Terima kasih sekali lagi senior Lee, untuk kedua kalinya kamu telah menyelamatkan hidupku. Tapi, bagaimana kau tahu bila saat itu aku sedang dalam bahaya?"
"Pertanyaanmu ini untuk yang bagaian mana?"
Park Jong Ah tetrkekeh pelan sebelum menjawab pertanyaan dari Lee Min Kim.
"Untuk semuanya, aku sangat penasaran bagaimana senior Lee bisa selalu datang tepat waktu untuk menyelamatkanku."
"Untuk kejadian di sungai, aku juga mendengar suara anak anjing itu dan saat aku berbalik kamu sudah menyebrangi batu. Aku ingat sungai itu memiliki arus yang deras jadi, aku bergegas untuk membantumu yang terlihat kesulitan menggunakan sebelah tangan. Dan aku datang di saat kamu melakukan kecerobohan."
Park Jong Ah tersenyemum mengingat kejadian waktu itu. Lee Min Im melanjutkan ceritanya "Untuk kejadian semalam itu hanya kebetulan. Saat itu aku juga ingin ke toilet dan mengajak teman satu tendaku untuk pergi bersama. Namun, kamu lebih dulu tiba di sana, jadi kami memutuskan untuk menunggumu keluar. Saat itulah penculik itu terlihat olehku, ketika dia sedang bersembunyi di belakang toilet. Kemudian kamu pun keluar dan dia menyekapmu. Saat dia lengah, aku langsung memukulnya menggunakan kayu hingga dia tersungkur dan Sin Jo menyergapnya. Sekarang penculik itu telah di bawa ke kantor Polisi dan So Ri juga baik-baik saja saat ini."
"Apakah penculik itu juga berasal dari desa?"
"Aku rasa tidak, karena penduduk tidak ada yang mengenalinya."
Obrolan mereka terhenti oleh kedatangan seorang Dokter yang ingin melakukan pemeriksaan pada Park Jong Ah
"Baiklah Nona Park, kalian sudah boleh pulang siang ini. Semoga sehat selalu, permisi!" Ucap Dokter itu pada Park Jong Ah sebelum pergi.
"Kau istirahatlah dulu, akupun ingin pulang. Sampai jumpa lagi." Lee Min Im berpamitan pada Park Jong Ah dan dibalas dengan anggukan oleh gadis cantik itu.
'Apakah ini termasuk dari keajaiban yang di maksudkan dalam batu itu?' Park Jong Ah berpikir sendiri mencoba mengingat keterangan yang tertulis mengenai batu ajaib yang terdapat di museum waktu itu.
Beberapa bulan setelah kejadian itu, Park Jong Ah kini menghadapi ujian Semester. Ini adalah babak penentuan yang sangat penting dalam hidupnya. Walaupun dulu ia lulus dengan nilai paling sempurna namun, ia tetap gugup kala mengulangnya kembali saat ini.
Di kehidupan masa lalunya, Park Jong Ah mendapatkan beasiswa ke Oxford Inggris. Tetapi sayang ditolaknya begitu saja demi mengikuti Kim Min Jun yang berkuliah di dalam negri.
__ADS_1
"Ok Jong Ah! Kesempatan kali ini tidak boleh kau sia-siakan!" Park Jong Ah menyemangati dirinya di depan cermin. Kemudian mengecek kembali penampilannya dan menyusul anggota keluarganya di ruang makan.
"Nam Jong, kau sebentar lagi kelas tiga SMP, berarti kau akan semakin dewasa. Ayah harap kau bisa mengikuti jejak Kakakmu yang mendapatkan beasiswa. Karena kamu adalah seorang lelaki dan lelaki harus bertanggung jawab dengan keluarganya. Bila kamu tidak bisa belajar mandiri sejak dini, kelak kau akan kesulitan dalam rumah tanggamu." Ucap Tuan Park menasehati putra bungsunya.
Sebagai orang tua yang memiliki penghasilan kecil sebagai pegawai negri sipil, tentu saja Tuan Park sangat menginginkan putra, putrinya mendapatkan pendidikan yang terbaik. Namun, untuk memasuki sekolah terbaik memerlukan biaya yang tidak sedikit. Itulah mengapa sang Ayah selalu memberikan nasehat pada Park Jong Ah atau pun Park Nam Jong agar mereka bisa mendapatkan masa depan yang lebih baik.
"Ayah, sudahlah! Jangan selalu kau paksakan kedua Anakmu untuk mengikuti maumu! Itu tidak baik, kita saat ini sedang makan." Nyonya Park kini yang berbicara. Dia adalah sosok ibu yang penuh pengertian.
Usai drama di meja makan, Tuan park mengantarkan kedua anaknya menuju sekolah mereka masing-masing. Karena jarak sekolah Park Nam Jong lebih jauh, jadi Ayahnya mengantarkan Park Jong Ah lebih dulu.
"Samapai jumpa Ayah!" Ucap gadis itu sambil melambaikan tangannya dan berlari menuju gerbang sekolah. Hari ini kedatangan tamu khusus sebagai pengawas ujian kali ini. Orang itu adalah seorang yang memberikan beasiswa ke luar negri untuk siswa bertalenta.
Orang itu sudah sejak dulu membiayai murid berprestasi dari sekolah ini untuk menempuh pendidikan di luar negri. Tujuannya adalah demi menghasilkan orang-orang yang akan berkerja padanya suatu saat nanti bila telah menyelesaikan masa pendidikan di luar negri.
Dan orang itu pula yang dulu memberikan tawaran pada Park Jong Ah untuk berkuliah ke Oxford Inggris. Kali ini Park Jong Ah akan mengambil kesempatan kedua itu dan memperbaiki kesalahan yang pernah di lakukannya dulu.
Waktu ujian di mulai, seperti data pada sebuah komputer otak Park Jong Ah mulai menampilkan jawaban demi jawaban pada lembar soal. Setelah dua puluh lima menit berlalu, Park Jong Ah menyerahkan lembar jawaban pada pengawas setelah mengoreksi jawabannya sebanyak tiga kali.
"Apakah kau yakin dengan jawabanmu? Jangan terburu-buru, kau akan menyesalinya nanti." Ucap pengawas itu memperingati.
"Saya yakin akan jawaban yang saya tulis. Tuan bisa memeriksanya kembali bila masih ragu dengan kemampuan saya." Jawab Park Jong Ah lalu membungkuk dan meninggalkan kelas ujian.
Park Jong Ah memilih ke perpustakaan untuk mempelajari beberapa hal dari buku yang ada di sana dan mengisi waktu sebelum jam ujian kedua. Buku dengan sampul biru yang di pilihnya dari atas rak. Saat buku itu di ambil oleh Park Jong Ah, gadis itu melihat sepasang bola mata yang juga tengah menatapnya.
"Aaaaa...!" Teriak keduanya bersamaan. Park Jong Ah berjongkok sambil menutup mata dan telinganya. Gadis itu nampak benar-benar terkejut.
Seorang pria muda tampan melangkah ke arahnya dan menyebutkan nama Park Jong Ah. Mendengar namanya di sebut gadis itu mendongak dan melihat Lee Min Im berdiri sambil menatapnya.
"Asataga!" Ucap Park Jong Ah sambil memegangi dadanya lalu perlahan mencoba berdiri.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau semestinya mengikuti ujian?"
"Oh hai ketua Lee! Ya, aku sudah menyelesaikannya dan hanya tinggal menunggu jam ujian yang kedua. Jadi, aku memilih datang kemari untuk mengisi waktu."
Lee Min Im mengangguk anggukan kepala mendengar jawaban dari Park Jong Ah kemudian membelalakan matanya terkejut.
"Kau menyelesaikan ujian pertama kurang dari setengah jam?"
Park Jong Ah tersenyum lalu menganggukan kepala. Lee Min Im sungguh tidak percaya bila di dunia ini ada orang yang benar-benar memiliki kecerdasan seperti Park Jong Ah.
"Kalau begitu boleh kah aku menemanimu?"
"Tentu, aku sangat senang ada lawan bicara. Aku sempat sedikit takut tadi saat melihat matamu di balik rak buku ini."
Keduanya pun tertawa bersama lalu melangkah ke sudut ruangan untuk mencari tempat membaca buku mereka.
"Apa yang ketua Lee lakukan di sini? Maksudku di Sekolah ini? Bukankah ketua *** telah menjadi seorang Mahasiswa."
Park Jong Ah baru menyadari kejanggalan yang ada di hari ini. Bukankah dulu dia hanya sendirian di perpustakaan sekolah saat tengah menunggu jam ujian kedua? Lalu bagaimana mungkin ada orang lain yang bersamanya bahkan orang itu tidak berasal dari sekolah yang sama dengannya.
Lee Min Im tertawa mendengar pertanyaan dari Park Jong Ah. Gadis itu terlihat sangat imut ketika mempertanyakan hal itu padanya.
"Panggil saja aku Lee, toh kita sudah tidak lagi berada di perkemahan. Aku sengaja ikut Ayah kemari untuk mengenang masa-masa bersekolah di sini dulu dan untuk bertemu denganmu."
"Oh ya! Aku sangat tersanjung akan hal itu."
Kemudian mereka mengobrol berdua dan membicarakan banyak hal. Menghabiskan waktu bersama di dalam perpustakaan.
BERSAMBUNG....
__ADS_1
Mohon dukungan kalian dengan memberikan komentar atau like dan favoritnya!
Semua itu sangat penting untukku...😊