
Di kediaman keluarga Lee Min Im, pria berusia 25 tahun yang sedang menikmati sebotol anggur di tangannya. Ia memandangi nomor seorang gadis yang pernah menghubunginya tempo hari. Hingga sebuah panggilan masuk ke ponselnya dari nomor yang berbeda.
"Aku sudah mencari informasi mengenai orang-orang yang telah menculik Adikmu. Dan ternyata mereka adalah orang-orang yang sama dengan tiga tahun lalu. Aku rasa, kalian harus lebih berhati-hati lagi. Sebab mereka tidak akan berhenti mencari masalah dengan kalian, sebelum berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan."
"Baiklah, terimakasih tas bantuanmu. Aku akan lebih berhati-hati lagi dalam menjaga Im Jee Sok."
Panggilan pun diakhiri, Lee Min Im menuju kamar sang Adik dan melihat gadis kecil itu tengah asik menonton kartun di tv kamarnya.
Lee Min Im melangkah masuk dan menghampiri sang Adik. Im Jee Sok yang melihat kedatangan Kakak laki-lakinya lalu tersenyum manis.
"Kak, bolehkah aku bertemu dengan Kak Park Jong Ah? Dia adalah wanita yang baik, aku sangat ingin berteman dengannya."
Lee Min Im tidak menanggapi ucapan sang Adik, dia hanya tersenyum dan mengusap kepala gadis kecil itu.
Melihat tidak ada respon dari sang Kakak, Im Jee Sok kembali mengulai pertanyaan yang sama, "Apakah boleh Kak?"
"Tidak untuk saat ini, kau pun tau bila di luar sana masih sangat berbahaya."
"Tapi, aku tidak memiliki teman sama sekali.." ucap Im Jee Sok dengan nada sedih. Hal itu sukses membuat Lee Min Im tidak tega, tapi ia juga tidak ingin membahayakan sang Adik. Jadi Lee Min Im hanya bisa mengucapkan sebuah janji, agar sang Adik tidak bersedih lagi.
"Aku akan membawamu menemuinya lain kali. Tapi untuk saat ini, kau harus jadi anak yang baik, ok?"
Im Jee Sok mengangguk dan tersenyum, ia tau sang Kakak tidak pernah mengingkari janjinya. Jadi Im Jee Sok akan menunggu Lee Min Im membawanya untuk bertemu dengan Park Jong Ah kembali.
Lee Min Im meninggalkan kamar Im Jee Sok dan melangkah ke sebuah ruangan pribadinya. Ia tidak pernah mengijinkan seorang pun memasuki tempat itu. Bahkan ia rela membersihkan ruangan itu dengan tangannya sendiri.
Di dalam ruangan itu, terdapat sebuah lukisan seorang gadis manis yang tengah tersenyum lebar. Lukisan itu berukuran sangat besar, dan masih banyak lagi lukisan-lukisan sang gadis di ruangan itu.
Bahkan ada juga foto-foto mereka yang terlihat sangat bahagia. Lee Min Im akan menghabiskan sebagian waktunya di ruangan itu bila tidak sedang sibuk dengan urusan perusahaan.
Di temani dengan beberapa botol bir di ruangan itu, Lee Min Im menikmatinya sambil memandangi wajah gadis dalam lukisan besar itu.
Teringatnya kenangan bersama gadis yang ada di dalam lukisan itu. Senyuman, kelembutan dan kebaikan hatinya membuat Lee Min I'm tidak dapat melupakan gadis itu walau sudah tiga tahun lebih terpisah.
__ADS_1
Park Jong Ah, nama yang selalu di sebutnya dalam setiap mimpi. Gadis manis yang sudah memenuhi hati dan pikirannya, namun juga tega mengkhianati cinta tulus darinya.
Dering ponsel menyadarkan Lee Min Im dari lamunannya. Ia melihat ke layar gayanya dan menemukan sang asisten tengah menghubunginya saat ini.
"Hem"
"Tuan, seorang investor dari Inggris ingin bertemu denganmu besok siang di sebuah Cafe. Dia adalah putra dari Tuan Smith pemilik perusahaan telekomunikasi."
"Baiklah, aturkan jam temukan dengannya."
"Baik Tuan."
...----------------...
Di tempat lain, Kang Dae melihat Park Jong Ah yang sedang tidak bersemangat. Gadis itu lebih banyak murung hari ini, jadi dia berinisiatif untuk mengajak gadis itu ke suatu tempat usai bekerja di rumah sakit nanti.
Park Jong Ah menyetujuinya, ia pun sadar bila saat ini yang di pelukannya adalah sebuah hiburan untuk mengurangi rasa sesakndalam hatinya.
Menjadi seorang Dokter di sebuah rumah sakit besar dan melayani begitu banyak pasien, membuat waktu berjalan sangat cepat.
Dan di sebuah rumah makan, keduanya menikmati makanan yang di pesan oleh Kang Dae. Suasana hati Park Jong Ah mulai membaik, gadis manis itu dengan lahap menyantap makanan yang tersaji.
Mereka juga menikmati bir yang ada di restoran itu. Keduanya terlihat seperti sepasang kekasih yang menikmati makan malam bersama.
"Ahh... bir di sini memanglah yang terbaik."
"Kau menyukainya? Kalau begitu, bagaimana bila kita datang kemari setiap pulang kerja."
"Aku setuju!"
Park Jong Ah benar-benar peminum yang unggul, Kang Dae sudah lebih dulu menyerah di buatnya dan gadis itu masih dengan santai menenggak minuman beralkohol tinggi itu tanpa perubahan ekspresi sama sekali.
"Apa yang terjadi padamu sebenarnya? Mengapa kau terlihat sangat sedih hari ini?"
__ADS_1
Park Jong Ah tersenyum miring dan terus menenggak minuman itu tanpa berniat untuk memberikan penjelasan pada Kang Dae tentang apa penyebab kemuramannya hari ini.
"Maaf Tuan, Nona, restoran kami akan tutup, bisakah kalian menyelesaikan pembayarannya?" Tanya pelayan wanita di sana dengan lemah lembut.
Kang Dae bangkit dan mengeluarkan dompetnya, ia mengambil kartu ATM dan menyerahkan itu pada sang pelayan.
Setelah menyelesaikan pembayaran, Park Jong Ah dan Kang Dae kembali ke apartemen mereka. Karena Park Jong Ah terlalu banyak minum, Kang Dae membantunya saat berjalan dengan memaparkan gadis itu.
"Kau tau senior, dua kehidupan yang aku jalani selalu saja mempermainkanku. Tapi untungnya kau selalu ada untukku. Aku berjanji, kali ini aku tidak akan menyebabkan masalah untukmu seperti dulu."
Ucapan Park Jong Ah tentu saja membuat Kang Dae kebingungan. Tapi ia menganggap itu di sebabkan karena Park Jong Ah terlalu banyak minum dan berada di bawah pengaruh alkohol sehingga gadis itu bicara asal.
Kang Dae membantu Park Jong Ah menuju apartemennya dan merebahkan gadis itu di atas ranjangnya. Di sana Kang Dae melihat wajah manis gadis itu yang tidak pernah berubah.
Usai membantu Park Jong Ah, Kang Dae pun kembali ke bilik apartemennya dan mengistirahatkan diri.
Di setiap Kang Dae memejamkan matanya, ia selalu terbayang akan senyum cerah yang di miliki oleh gadis pujaanya semenjak mereka sama-sama berkuliah di Oxford dulu.
Kang Dae ingin sekali menyatakan perasaannya itu pada Park Jong Ah, tapi ia takut akan merusak hubungan baik di antara mereka dan membuat Park Jong Ah menjauhinya. Jadi, pria itu hanya dapat memendam itu semua agar ia dapat terus berada di sisi Park Jong Ah.
BERSAMBUNG...
***thank you banget buat yang udah mau baca novel karyaku...
maaf kalau masih kurang memuaskan...
mohon di maklumi aja ya,kalo beberapa penulisanku kurang tepat๐ณ
sekedar bocoran,aku bukanlah orang yang punya pendidikan tinggi jadi beberapa hal yang aku tulis harus aku cari lewat google๐
aku cuman lulusan SD,jadi maaf banget kalau misalnya cerita yang aku buat agak ga nyambung...
untuk kalian yang udah mau dukung karya ku...
__ADS_1
I LOVE YOU ALL...๐๐๐***