
"Pasien yang bernama An Ju di bangsal 15 ini sepertinya salah rumah sakit."
Suster yang bersama dengan Park Jong Ah merasa bingung mendengar ucapan wanita itu. "Maksudnya Dok?"
"Menurutku, rasa nyeri di dada kirinya itu hanyalah sebuah halusinasi. Sebab, tidak ada yang salah sekalipun dari hasil MRI dan rantogennya. Apa lagi dari catatan medis yang dimilikinya, setiap rasa sakit itu datang ia akan merasakan sakit tapi tidak berdenyut. Hanya merasa seperti terhimpun sesuatu yang besar menimpa dadanya."
Suster itu nampak berpikir, memang benar yang di ucapkan oleh Park Jong Ah. Pria itu selalu mengeluh sakit dan seperti terhimpit, hanya saja tidak ada luka atau gejala dari penyakit lain yang timbul dari beberapa hasil pemeriksaan pria itu.
"Lalu menurut Anda, apakah pasien An Ju mengalami gangguan mental?"
"Kemungkinan besarnya begitu. Kita akan mencarikan Dokter Psikis untuk menanganinya."
"Baik Dokter Park."
Keduanya kemudian berpisah di depan ruangan Park Jong Ah. Dokter muda itu masuk ke dalam ruangan pribadinya dan kembali berkutat dengan beberapa data pasien lain.
Tok..tok
Terdengar suara ketukan di pintu, saat Park Jong Ah mendongak, ia melihat pria tampan tengah tersenyum ramah padanya.
"Bagaimana pasien pertamamu hari ini?"
"Senior Kang, tidak terlalu buruk hanya saja dia memerlukan Dokter spesialis gangguan mental dan bukannya gangguan organ dalam."
"Benarkah? Mengapa kau bisa berpikir demikian?"
Park Jong Ah menutup laptop di hadapannya dan menyerahkan hasil pemeriksaan milik An Ju pada Kang Dae. Pria itu menyambut map itu dari tangan Park Jong Ah dan mulai membacanya.
"Dari pengakuan pria itu sendiri, dia tidak pernah mengalami insiden kecelakaan apa pun yang menyebabkan nyeri pada dada kirinya. Dan dari hasil itu menunjukkan semua organ dalamnya baik-baik saja."
"Hem, kau benar! Oh ya, lupakan masalah ini. Aku ingin mengajakmu makan malam nanti. Anggap saja untuk merayakan kedatanganmu di rumah sakit ini."
"Em, baiklah! Kau tentukan saja tempatnya, biar aku yang bayar nanti."
"Ok, kalau begitu selamat berjumpa malam nanti."
Kang Dae kemudian pergi dari ruangan Park Jong Ah. Gadis itupun kembali berkutat dengan. data-data pasien di atas meja kerjanya.
Setelah seharian bekerja di rumah sakit, sore ini Park Jong Ah pergi keluar bersama Kang Dae dan menikmati makan malam mereka bersama.
__ADS_1
Kedua orang itu memasuki restoran sederhana yang terletak tak jauh dari rumah sakit tempat mereka bekerja. Restoran saat itu sedang ramai pengunjung, hingga kedua orang itu berbagi tugas dan Kang Dae akan memesan makanan untuk mereka.
"Malam ini pesanlah apa pun yang kamu inginkan."
"Baiklah kalau begitu, aku pasti tidak akan sungkan lagi." Ucap Kang Dae tertawa dan memesan makanan, sementara Park Jong Ah bertugas mencari meja kosong untuk tempat mereka duduk.
Park Jong Ah menemukan sebuah negara kosong di sudut ruangan dan dekat dengan jendela, hingga mereka dapat menikmati suasana malam di tempat itu.
Tak lama, Kang Dae pun tiba dengan beberapa botol soju di tangannya bersama pelayan yang membawakan pesanan mereka ke meja tempat Park Jong Ah duduk manis saat ini.
"Wah... aku sangat merindukan makan-makan ini selama di Inggris." Ucap Park Jong Ah dengan mata berbinar menatap hidangan di atas meja mereka.
"Aku tau persis perasaan itu!" Jawab Kang Dae lalu mulai memasukkan setiap daging ke dalam panci panas.
Keduanya benar-benar menikmati makan malam itu dngan penuh canda tawa dan sambil mengenang cerita masa perkuliahan mereka sewaktu di luar negri dulu.
"Apakah kau memiliki sebuah rekomendasi untuk tempat tinggalku di sekitar sini?"
"Ya, apartemen di sebelah banyak yang kosong. Dan tempatnya tidak jauh dari rumah sakit, jadi kita tidak membutuhkan angkutan apapun untuk menuju ke sana."
"Ha itu sangatlah bagus. Kebetulan aku masih belum memiliki cukup uang untuk membeli sebuah mobil baru, jadi kurasa apartemenmu itu adalah tempat yang cocok."
Sebenarnya Kang Dae sudah sejak lama menyukai Park Jong Ah. Tapi, ia tidak bisa mengungkapkannya karena takut akan mengecewakan sahabat baiknya Edward. Jadi pria itu hanya mampu menyimpan perasaannya hingga kini gadis itu telah kembali ke negara asal mereka dan bekerja di tempat yang sama pula.
"Mungkin besok, karena aku tidak memiliki jadwal praktek."
"Baiklah, aku akan membantumu mengurus tempat tinggalmu. Dan akan ku pastikan kamarmu adalah kamar yang terbaik."
Park Jong Ah tersenyum akan ucapan Kang Dae, pria itu tidak pernah berubah. Ia selalu baik dan pengertian seperti di kehidupannya yang lalu.
Usai makan malam bersama, Nam Jong tiba dengan motornya di depan restoran. Park Jong Ah tadi menghubungkannya dan meminta Adiknya itu untuk menjemputnya di sana.
"Perkenalkan dia Adikku Park Nam Jong." Ucap Park Jong Ah memperkenalkan Adik satu-satunya itu.
Kang Dae tersenyum dan mengulurkan tangan pada pria muda itu
"Aku Kang Dae, teman kuliah Kakakmu sewaktu di Inggris dulu."
"Apakah kau yang memberikan sepatu itu? Apakah dia yang memberikannya?" Tanya Nam Jong bergantian pada Park Jong Ah dan Kang Dae.
__ADS_1
Hal itu membuat Kang Dae menjadi bingung, tapi Park Jong Ah segera menjelaskan bila Nam Jong salah paham saat ini.
"Bukan, yang dia maksud adalah Edward. Sebelum aku kembali ke Korea, dia memberikan beberapa bingkisan untuk keluargaku."
"Bukan? Kalau begitu maafkan aku." Ucap Nam Jong Lalu membungkusnya tubuhnya.
Kang Dae kini mengangguk mengerti, Park Jong Ah tersenyum dan berpamitan pada Kang Dae. Kemudian gadis itu menaiki motor sang Adik dan pergi meninggalkan halaman restoran.
Hari ini, Park Jong Ah sibuk berbenah beberapa pakaian dan barang yang akan dibawanya menuju apartemen yang akan ditinggalnya nanti.
Ia juga telah meminta sang Ibu untuk memesankan beberapa barang keperluan dapur untuknya di toko online dan mengirimkannya ke alamat apartemen miliknya.
"Apakah kau sudah menyiapkan pakaian hangatmu? Sebentar lagi akan memasuki musim dingin."
Park Jong Ah resenyum dan memeluk sang Ibu. Bagi Park Jong Ah, Nyonya Park adalah sosok Ibu yang sangat luar biasa di mata putra dan putrinya. Dia sangat memanjakan Park Jong Ah dan Park Nam Jong.
Tidak pernah membedakan laki-laki atau perempuan, cerdas apapun tidak. Wanita itu akan memperlakukan keduanya dengan cinta kasih yang sama.
"Kau adalah Ibu yang terbaik," Nyonya Park kemudian melepaskan pelukan putrinya itu lalu tersenyum sambil mengelus lembut pipi Park Jong Ah.
"Kau ini, semua Ibu di dunia ini akan melakukan hal yang sama pada putra dan putrinya. Jadi tidak akan ada Ibu yang buruk, sudahlah! Segera kemarin barangmu, lihat Adikmu sudah menunggu di bawah."
Dengan menenteng koper dan tas di tangannya, Park Jong Ah menuruni tangga. Dan benar yang di ucapkan oleh Ibunya, bila Nam Jong telah menunggu kedatangannya dengan wajah masam.
"Kau lama sekali!"
Pria itu lalu masuk ke dalam mobil dan di ikuti oleh Park Jong Ah. Keduanya lalu menuju apartemen yang baru di beli oleh gadis itu.
BERSAMBUNG...
☆☆☆halo readers...
tekan like dan jadikan favorit ya...
jangan lupa kunjungi novelku yang lain juga ya...
dijamin ga kalah seru deh!
judulnya cold hearted a girl,what's wrong with my bos dan taruhan berhadiah cinta☆☆☆
__ADS_1