
"Dia hamil!" Tutur Park Jong Ah yang membuat semua orang di ruangan itu tercengang.
"Apakah kau yakin? Maksudku kau bukanlah Dokter kandungan. Jadi bagaimana bisa kau mengetahui Yo Ri tengah hamil tanpa alat tes kehamilan?"
"Sebab denyut jantungnya ada dua. Coba kau dengarkan ini!" Titah Park Jong Ah pada Kang Dae. Dengan ragu-ragu, Kang Dae mengenakan stetoskop di telinganya. Dan benar apa yang diucapkan oleh Park Jong Ah, detak jantung Yo Ri bersahutan dengan satunya yang terdengar lebih kecil.
'Apakah..?' Perasaan Kang Dae menjadi tidak karuan. Ia takut bayi yang berada dalam perut Yo Ri saat ini adalah anaknya dari kejadian malam perpisahan dua bulan lalu.
"Tapi siapa Ayah dari janin Yo Ri? Aku tidak pernah dengar ia sedang dekat dengan pria manapun."
"Ya! Dan selama ini, Yo Ri hanya mencintai satu pria." Sambung Sarrah yang membuat semua mata tertuju padanya.
'Yo Ri memiliki pria yang dia cintai? Semoga saja pria itulah, Ayah dari anak ini. Tapi, aku sudah-' Pikiran-pikiran Kang Dae seketika terhenti saat Yo Ri telah siuman. Park Jong Ah bergegas menghampiri Yo Ri, dengan lembut ia membantu sahabatnya itu untuk duduk. Dengan wajah canggung Yo Ri menatap keseliling, baru ia saari, ada begitu banyak orang yang menatapnya saat ini.
"Apakah kau baik-baik saja? Bagaimana perasaanmu?" Tanya Park Jong Ah.
"Aku baik. Kenapa semua orang berkumpul di sini?" Mendengar pertanyaan Yo Ri, semuanya yang ada di ruangan itu saling bertatapan. Park Jong Ah memberanikan diri mewakili semua orang untuk bertanya tentang kehamilan Yo Ri.
"Apakah kau sudah tahu tentang kehamilanmu?" Yo Ri sedikit terkejut. Apalagi, hal itu ditanyakan oleh Park Jong Ah langsung di hadapan Kang Dae.
__ADS_1
'Ternyata ini sudah tidak bisa ditutupi lagi.' Ucap Yo Ri dalam hati. Dengan senyum getir, Yo Ri mengakui tentang kehamilannya. "Ya aku tau."
"Siapa ayah dari bayi itu? Apakah dia juga sudah tahu?"
"Te..tentu saja! Kami akan segera menikah."
"Benarkah? Kenapa kau tidak pernah menceritakan masalah ini kepadaku?" Tanya Park Jong Ah penasaran. Walaupun ia merasa bahagia atas kabar baik dari sahabatnya ini, namun Park Jong Ah masih belum mempercayai ucapan Yo Ri sepenuhnya.
"Aku, aku rencananya ingin membuat kejutan untuk kalian. Tapi ternyata ini sudah tidak bisa ditutupi lagi." Kilah Yo Ri berbohong. Ia berusaha sekuat tenaga menyembunyikan kecanggunannya saat ini. Dan kelihatannya, Park Jong Ah mulai percaya akan ceritanya.
Pengakuan Yo Ri barusan bagaikan mendapat permen, namun dengan rasa yang tidak disukai bagi Kang Dae. Ada sedikit perasaan mengganjal yang terasa tidak nyaman dalam hatinya.
"Pestanya masih berlangsung. Apakah kau ingin kembali ke pesta, atau ingin pulang?" Tanya Lee Min Im lembut. Kehamilan kedua Park Jong Ah membuatnya makin posesif. Sedikitpun pria itu tidak akan meninggalkan istrinya.
"Aku cukup lelah. Bagaimana bila kita kembali saja?"
"Baiklah, aku akan meminta seseorang untuk menyiapkan mobil kita."
"Kau sebaiknya juga lekaslah kembali. Kehamilanmu yang tergolong masih sangat muda ini, membutuhkan kondisi fisik yang lebih ekstra. Semuanya, aku permisi."
__ADS_1
Park Jong Ah dan Lee Min Im meninggalkan tempat acara pernikahan Edward berlangsung. Sarrah menatap tajam ke arah Yori Iya tidak mempercayai ucapan wanita itu sedikitpun. Satu persatu orang-orang keluar dari ruang istirahat dan hanya bersisa dirinya dan Yo Ri yang ada di sana.
"Mengapa kau tidak jujur saja? Mengapa kau tidak mengatakan, bila anakmu ini adalah anak Kang Dae?"
"Lalu? Apakah itu akan menguntungkan untukku?" Yo Ri balik bertanya pada Sarrah. Dengan pandangan mata kosong, Yo Ri kembali melanjutkan ucapannya.
"Mungkin, dia akan bertanggung jawab atas bayi ini dan menikahiku. Kami akan menjalani kehidupan normal layaknya orang tua pada umumnya. Tapi, bagaiman dengan hatinya? Kita semua tau, untuk siapakah Kang Dae telah menyerahkan cintanya. Aku akan menjadi makin tersiksa dengan perasaan yang bertepuk sebelah tangan ini. Dengan ketidaktahuannya, setidaknya aku tidak akan mengharapkan dirinya. Aku sudah cukup memiliki bagian dari dirinya dalam hidupku. Dan tidak akan ada seorangpun yang bisa merebut itu dariku."
"Aku sungguh tidak mengerti akan jalan pemikiranmu. Bukankah kau akan menjadi Ibu yang egois bila berpikir seperti itu? Bayimu memiliki hak atas Ayahnya. Apa jawabanmu, bila ia bertanya siapakah Ayahku, kelak?"
"Kau tidak perlu khawatir. Sebelum semua ini terjadi, aku sudah mempersiapkannya. Aku telah memiliki seseorang yang akan siap menjadi Ayahnya, walaupun itu hanya sebatas namakan namanya saja."
Rupanya Kang Dae belum benar-benar pergi. Ia mendengar semua percakapan antara Sarrah dan Yo Ri di depan pintu. Dengan perasaan jengkel, menyesal, dan juga kecewa, Kang Dae meninggalkan tempat itu.
''Jadi anak itu benar-benar anakku? Kejadian malam itu benar-benar membuahkan hasil? Oh Tuhan, apa yang sudah aku lakukan?'' Kang Dae tak henti-hentinya mengumpat saat sudah berada dalam mobil. Dia melajukan kendaraan roda empatnya menuju sebuah bar.
Dengan ditemani beberapa wanita cantik, Kang Dae menenggak semua minuman beralkohol di atas meja. Pria itu nampak sangat frustasi. Kang Dae biasanya hanya akan meminum minuman tanpa ingin ditemani oleh siapapun. Namun kali ini, ia tidak menolak akan sentuhan-sentuhan dari wanita-wanita malam yang berada di sisinya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1