
"Jadi kau benar-benar berurusan dengan para penjahat? Apakah kau ingat dengan nomor ponsel milik keluargamu?" Tanya Park Jong Ah pada gadis manis kecil itu.
Im Jee Sok mengangguk, Park Jong Ah kemudian menyerahkan ponselnya pada gadis kecil itu.
"Hubungilah dia sekarang, biarkan aku yang berbicara dengannya."
Im Jee Sok menggunakan ponsel Park Jong Ah dan menekan suatu nomor. Beberapa saat kemudian nomor tersebut menjawab panggilannya.
"Kakak! Ini aku..." Gadis cantik itu terisak saat mendengar suara sang Kakak. Masih terlihat jelas ketakutan di wajah gadis kecil yang malang itu.
"Im Jee Sok, kau kah ini? Apakah kau baik-baik saja?" Suara laki-laki seorang sana terdengar sangat hawatir.
"Ya, aku baik-baik saja. Ada orang baik yang menolongku dan sekarang aku berada di rumahnya."
"Bisakah Kakak berbicara pada orang yang sudah menolongmu? Berikan ponsel itu padanya."
Im Jee Sok menyerahkan ponsel itu pada Park Jong Ah, "Kakakku ingin berbicara padamu."
"Ya?" Lama tidak ada jawaban "Halo? Kau masih di sana?" Hingga akhirnya terdengar sebuah suara dari seorang pria.
"Ya..ya! Kau telah menyelamatkan Adikku. Terima kasih banyak, bisakah kau memberitahukan alamat rumahmu agar aku dapat menjemputnya sekarang?"
"Tentu, aku tinggal di apartemen X2, aku pun ingin menanyakan sesuatu padamu."
"Baiklah, tunggu kedatanganku dan kita akan membicarakannya nanti."
Panggilan pun diakhiri, Park Jong Ah tersenyum pada Im Jee Sok dan mengatakan bila Kakaknya akan datang kemari dan menjemput gadis cantik itu.
"Kakakku adalah pria yang sangat tampan, tapi orang-orang bilang dia sangat kejam dan juga dingin. Padahal menurutku dia tidak pernah berubah, dia selalu baik dan penyayang seperti dulu."
"Terkadang, orang akan menunjukkan sifat aslinya hanya pada orang-orang tertentu saja. Dan akan berpura-pura keras pada orang yang di anggapnya asing."
"Begitukah? Tapi kenapa?" Tanya gadis kecil itu dengan polosnya. Park Jong Ah membelai kepala Im Jee Sok dengan lembut sambil tersenyum.
"Mungkin dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang lain. Atau mungkin juga ia sedang menyembunyikan kerapuhannya dari orang lain."
__ADS_1
Saat kedua orang gadis itu tengah asik berbincang, suara ponsel mengejutkan mereka. Park Jong Ah melihat siapakah yang melakukan panggilan tersebut. Dan rupanya nomor itu milik Kakak dari Im Jee Sok yang di hunginya tadi.
"Aku sudah di bawah, bisakah kau mengantarkannya kemari?"
"Baiklah tunggu kami di taman dekat apartemen, sebentar lagi akan sampai di sana."
"Baik."
Panggilan pun di akhiri, Park Jong Ah kemudian membawa Im Jee Sok menuju taman tempat Kakaknya berada.
Di taman itu terlihat seorang pria yang tidak asing di mata Park Jong Ah. Senyum yang semula terpatri di wajah manis gadis itu perlahan memudar.
"Kakak!" ucap Im Jee Sok melepaskan genggaman tangan Park Jong Ah dan berlari menuju pria yang di panggilannya Kakak itu.
Seakan tak percaya, Park Jong Ah ingin berbalik dan meninggalkan tempat itu. Namun, lengan kecil Im Jee Sok lebih dulu menahan kepergiannya.
"Kakak, ini Kakakku Lee Min Im. Dia tampan bukan?"
Park Jong Ah tersenyum canggung pada Lee Min Im. Gadis itu lalu mengulurkan tangan pada mantan kekasihnya itu.
Lee Min Im menatap tak percaya, di hadapannya saat ini berdiri seorang wanita yang membuatnya hidup tersiksa selama tiga tahun terakhir.
Ia dengan enggan melangkah pada sang Dik dan membawa gadis kecil itu pergi tanpa sepatah kata pun. Park Jong Ah yang melihat sikap dingin dari Lee Min Im merasa hatinya kembali teriris.
Luka lama yang ia coba sembuhkan, kini kembali menganga dan berdarah lagi. Park Jong Ah melangkah memasuki apartemennya dengan deraan air mata. Pria yang dulu begitu hangat dan menyayanginya kini telah berubah drastis.
Sedangkan Im Jee Sok yang tidak mengetahui masalah dari kedua orang itu hanya bisa diam. Ia mengira sang Kakak memang begitu bila pada orang baru. Dan seperti yang di jelaskan oleh Park Jong Ah tadi padanya, ia berpikir bila Kakaknya begitu sebab ingin di hargai oleh orang luar.
Padahal jauh di dalam hati Lee Min Im saat ini, ia sangat merindukan mantan kekasihnya itu. Tapi pengkhianatan yang di lakukan oleh Park Jong Ah di masa lalu telah menggoreskan luka yang begitu dalam bagi Lee Min Im.
(Prof author: ya...itu kan gara-gara kamu yang slah paham duluan...๐)
Usai membawa Adiknya menuju kamar, ia lalu pergi ke bar mini di rumahnya. Di sana ia banyak menenggak minuman beralkohol. Hanya itulah yang di lakukan oleh Lee Min Im sehari-hari bila ia teringat akan kenangannya bersama Park Jong Ah.
...----------------...
__ADS_1
Sedangkan di apartemennya, Park Jong Ah juga tengah melampiaskan kekecewaannya dengan air mata. Dan ketika gadis itu ingin bangkit menuju Kulkas untuk mengambil beberapa kaleng bir, ponselnya berbunyi.
Itu adalah panggilan dari rumah sakit, Park Jong Ah menghapus air matanya dengan kasar, kemudian menyambar tasnya yang berada di atas meja dan bergegas ke rumah sakit.
'Tidak ada waktu untuk menangisi pria itu lagi. Sekarang aku adalah seorang Dokter, jadi aku harus fokus dengan karir dan pasienku.' Batin Park Jong Ah menyemangati dirinya sendiri.
"Dokter Park, pasien yang menderita cystic fibrosis kemarin kembali kambuh."
"Siapkan suntikan tobramycin segera!"
Park Jong Ah berlari menuju ruangan anak balita itu, sekuat tenaga ia mencoba menyelamatkan nyawa bayi kecil berusia tiga bulan itu.
Beberapa Suster tiba dengan membawa obat untuk balita itu. Setelah mendapatkan penanganan dari Park Jong Ah, barulah sang bayi dapat kembali bernafas dengan normal.
Ketegangan seluruh orang yang berada di ruangan itu berangsur mencair setelah sang bayi kini telah dapat bernafas lega.
Park Jong Ah meninggalkan ruangan bayi itu dan menghampiri kedua orang tua sang balita.
"Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Park Jong Ah pada sang Ayah dari balita tersebut. Pria itu kemudian mengikuti Park Jong Ah menuju ruangannya.
"Silahkan duduk!" Pria itu kemudian menarik kursi ke belakang dan duduk di seberang meja Park Jong Ah.
"Putri Anda, memerlukan perawatan khusus Tuan. Jadi kemungkinan besar dia akan tinggal di rumah sakit ini selama beberapa bulan kedepan, agar mendapatkan pertolongan bila penyakitnya kembali seperti tadi."
Ayah bayi itu tentu saja sangatlah sedih mendengar hal tersebut, tapi demi kebaikan putri bungsunya, ia harus menyetujui ucapan Park Jong Ah.
"Baik Dok, mohon bantuan Anda."
"Kami akan terus berusaha Tuan,"
Pria itu kemudian bangkit dan meninggalkan ruangan Park Jong Ah.
BERSAMBUNG....
โโโTunggu episode selanjutnya yang pasti akan sangat menarik!๐๐
__ADS_1
Tolong tetap dukung karyaku dengan menekan like,vaforit dan komentar๐โโโ