
Sudah beberapa minggu, Han Kyong Si berada di tempat gelap dan kotor dengan berbagai macam siksaan dari orang-orang Lee Min Im. Wanita cantik yang selalu nampak berkelas itu, sekarang terlihat lebih buruk dari para pengemis di jalanan. Tiap harinya, Han Kyong Si hanya dapat menangisi setiap rasa sakit yang diberikan oleh orang-orang yang ditugaskan Lee Min Im untuk penyiksaan itu. Namun, bukannya bertobat dan mengintropeksi kesalahan, Han Kyong Si justru makin membenci Park Jong Ah dengan menyalahkan semua kejadian ini wanita itu.
Kretek, kretek..!
Suara pintu terbuka dan beberapa orang masuk dengan membawa cambuk. Mereka mengayunkan cambuk itu ke tubuh Han Kyong Si yang penuh dengan luka. Bahkan, luka sebelumnya yang belum kering pun kini kembali berdarah.
"Ahk...! Ahk...!!" Teriakan dan tangisan Han Kyong Si seakan tak terdengar oleh orang-orang yang terus saja menyiksa dirinya.
Tap..tap...tap.
Samar-samarbHan Kyong Si mendengar suara langkah sepatu yang mendekat ke arahnya.
"Kini aku tahu dari mana otak bodohmu berasal."
Han Kyong Si mendongak dan melihat wajah dingin pria idamannya yang sudah menatap tajam kearahnya.
"Lee, kau sudah lama tidak mengunjungiku. Kau tahu, rasa sakit yang kurasakan saat ini, seakan sirna saat aku melihat wajahmu."
"Begitukah? Maka nikmatilah setiap siksaan yang akan kuberikan!" Ucap Lee Min Im dan memberikan kode pada anak buahnya untuk kembali menyiksa Han Kyong Si. Seorang pria datang dan membawakan kursi untuk Lee Min Im.
__ADS_1
"Orang tuamu datang ke tempatku dan memintaku untuk melepaskanmu. Apakah mereka pikir, aku ini adalah seorang yang dermawan? Hahaha... Baru kali ini aku melihat orang yang sebodoh itu." Tutur Lee Min Im sembari duduk di kursi.
'Ibu dan Ayah mendatanginya? Lalu apa yang dia lakukan pada orang tuaku?' Tanya Han Kyong Si dalam hati.
"Di mana mereka sekarang?" Lee Min Im mencengkeram pipi Han Kyong Si dengan kuat seraya berkata, "Kau tidak memiliki hak untuk bertanya!"
"Siksa terus dia! Dan perketat penjagaan. Aku akan menambahkan beberapa orang untuk bersiaga di sini." Titah Lee Min Im pada orang suruhannya.
"Dan bersiap-siaplah untuk melihat lautan darah!" Mata Han Kyong Si bergetar, ia tahu apa yang akan dilakukan kedua orang tuanya. Ia tidak ingin mereka terluka, tapi kini dirinya pun tidak dapat berbuat apapun lagi. Lee Min Im melangkah pergi dari tempat itu bersama orang-orang suruhannya dan meninggalkan Han Kyong Si sendirian.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Deru mobil Lee Min Im terdengar di halaman, Park Jong Ah bergegas menghampiri pria itu dengan membawa kue yang ia buat.
"Kau sudah pulang? Cobalah kue buatanku." Park Jong Ah menyodorkan kue buatannya dan langsung dicicipi oleh Lee Min Im.
"Rasanya manis, tapi sayang. Tak semanis orang yang membuatnya." Wajah Park Jong Ah bersemu merah. Dan itulah yang disukai oleh Lee Min Im dari Park Jong Ah. Tak perlu banyak usaha untuk membuat istrinya itu menampilkan senyum manisnya. Cukup dengan sedikit gerakan dan kata-kata manis, maka Park Jong Ah akan memberikan senyuman sehangat mentari pagi untuknya.
"Bisakah kau mengijinkanku untuk kembali bekerja? Aku sangat bosan dalam rumah sendiri. Bahkan Im Jee Sok jarang di rumah." Tutur Park Jong Ah sembari cemberut.
__ADS_1
"Sayang, kondisinya saat ini masih belum memungkinkan. Aku tidak ingin mengambil resiko untuk membahayakan dirimu lagi. Tunggulah sampai semuanya aman, maka kau dapat beraktifitas seperti sebelumnya."
"Apakah para penjahat itu masih belum tertangkap?" Tanya Park Jong Ah terlihat khawatir. Lee Min Im mencubit pipi cabi Park Jong Ah lembut dan membawanya untuk duduk.
"Mereka sudah kubereskan. Hanya saja, orang dibaliknya yang masih bebas berkeliaran dan belum mendapatkan ganjaran atas perbuatan mereka."
"Lee, aku hanya ingin hidup tenang." Lirih Park Jong Ah sembari bersandar ke lengan kokoh suaminya.
"Semuanya akan seperti yang kau inginkan, setelah mereka tidak lagi berani mengusik keluarga kita."
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Seorang pasien datang ke rumah sakit dengan kondisi yang begitu mengenaskan. Tubuhnya dipenuhi dengan luka-luka dan tulang bagian kakinya remuk.
"Orang ini adalah korban tabrakan tunggal di jalan XY. Temannya yang satu lagi langsung tewas di tempat. Saya harap Dokter dapat menyelamatkan nyawa orang ini, sebab dia adalah saksi mata dalam kasus penting yang tengah kami usut." Tutur polisi yang mengantarkan pasien tersebut.
"Baikalah, kami akan berusaha menyelamatkan orang itu semampu kami." Ucap Yo Ri dan membawa sang pasien masuk keruang UGD. Setelah beberapa jam bergulat dengan obat dan alat medis lainnya, Yo Ri beserta rekan sesama Dokter yang menyelamatkan nyawa pasien tersebut akhirnya berhasil. Kini, kondisi saksi mata yang di bawa oleh polisi tadi telah melewati masa berbahayanya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1