
Setelah tertidur selama dua hari, Lee Min Im akhirnya membuka mata. Dan hal pertama yang ia temui adalah seorang gadis tertidur pulas di sisi brankarnya. Gadis manis itu memegangi tangan Lee Min Im erat.
Lee Min Im tersenyum bahagia melihat Park Jong Ah yang mau menjaganya di rumah sakit itu. Ia mengangkat tangan kirinya yang bebas untuk mengusap surai kepala Park Jong Ah. Merasakan adanya pergerakan, Park Jong Ah mulai mengerjakan mata. Ia mendapati Lee Min Im tengah tersenyum hangat kepadanya.
"Kau sudah bangun? Apakah kau lapar? Aku akan mengambilkan bubur." Ucap Park Jong Ah dan bangkit ingin meninggalkan Lee Min Im.
Akan tetapi laki-laki langsung memeluknya erat. Lee Min Im bertanya-tanya dalam hati, 'akankah semua ini mimpi? Bila ia, bisakah dirinya tetap berada di alam mimpi ini?'
Park Jong Ah pun membalas pelukan itu, ia yang telah mengetahui keseluruhan cerita perjuangan Lee Min Im untuk membuatnya berada di posisi ini dan kesalah pahaman dia antara mereka pun tak lagi menyimpan sakit hati pada laki-laki itu.
"Maafkan aku, kumohon maafkan aku!"
Park Jong Ah melepaskan pelukan keduanya dan memukul manja pundak Lee Min Im.
"Kau berhutang banyak penjelasan padaku! Sekarang diamlah, aku akan membawakanmu bubur."
Lee Min Im tersenyum dan mengangguk patuh, ia menatap kepergian Park Jong Ah dan bertanya-tanya, 'Penjelasan apa?'
Tak lama Park Jong Ah pun tiba dengan semangkuk bubur di tangannya. Ia menyerahkan bubur itu pada Lee Min Im.
"Aku masih lemah, bisakah kamu menyuapiku?"
"Baiklah! Tapi setelah kau menghabiskan sarapanmu, aku ingin kau menjelaskan semunya tanpa ada yang kau tutupi lagi."
"Baiklah, aku berjanji akan menjelaskan apapun padamu."
Park Jong Ah pun membantu menyuapi Lee Min Im hingga bubur di dalam mangkuk telah di habiskan oleh pria tampan itu.
Saat Park Jong Ah ingin meminta Lee Min Im untuk menceritakan semua kejadian yang menimpanya lima tahun terakhir, seorang pria gagah tiba dengan membawa gadis kecil.
"Kakak!" Im Jee Sok berlari ke arah ranjang Lee Min Im dan memeluk tubuh laki-laki itu.
__ADS_1
"Selamat pagi Presdir, Dokter Park." Sapa Ban Swon, asisten kepercayaan Lee Min Im.
"Apakah Kakak baik-baik saja? Kau sudah tidur selama dua hari. Dan tau kah kau betapa sabarnya Kak Park menunggu kesadaranmu?"
"Ah, benarkah? Kalau begitu aku harus berterima kasih pada Dokter Parkir yang mau meluangkan waktunya demi aku." Ucap Lee Min Im seraya melirik ke arah Park Jong Ah.
"Tentu! Kau harus segera menikahi Dokter Park, sebagai kompensasi atas waktunya yang sudah terbuang." Dan ucapan gadis kecil itu sontak saja membuat Lee Min Im dan Park Jong Ah tertawa bersamaan.
Mereka bertiga kini berbincang hangat, kehadiran Im Jee Sok membuat suasana dalam ruangan itu makin ceria. Niat Park Jong Ah yang yang ingin mendengar cerita Lee Min Im mengenai kejadian lima tahun lalukan di tundanya. Walaupun Park Jong Ah sudah mendengar cerita itu dari Ban Swon, namun ia masih belum puas dan ingin mendengar dari Lee Min Im sendiri.
"Aku harus pergi dulu, ada beberapa pasien yng masih harus aku periksa."
"Tidak bisakah kau hanya merawat Kakakku saja?" Tanya Im Jee Sok dengan nada memelas.
"Maaf sayang, aku adalah Dokter di rumah sakit ini. Dan ada banyak pasien yang masih memerlukan bantuanku. Lagi pula, Kakakmu sudah baik-baik saja, jadi ini giliranku yang harus menjaganya."
"Em, baiklah..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di sebuah bandara, sepasang muda mudi yang tengah menunggu keberangkatan pesawatnya asik berbincang. Ya, walaupun hanyalah si gadis muda yang bersemangat dia antara keduanya.
"Sayang, mengapa kita harus kembali ke London begitu cepat? Bukankah kau masih memiliki waktu untuk berada di sini?"
"Aku memiliki sesuatu yang harus ku urus di sana. Dan kau juga sudah harus kembali kepada orang tuamu."
"Tapi kenapa? Apakah kau merasa tidak nyaman akan kehadiranku?" Tanya gadis itu dengan nada sedih dan suara bergetar.
"Bukan, tadi Paman Sam telah menghubungiku dan memintamu untuk kembali. Dia mengatakan bila Ibumu sedang skit, jadi kau diminta untuk segera kembali."
Raut gadis itu pun pucat seketika setelah mendengar keadaan sang Ibu. Ia tak lagi berbicara pada laki-laki di sebelahnya, pikirannya sedang melaglang buana ke tempat keluarganya berada.
__ADS_1
Seketika suasana yang ceria tadipun berubah menjadi sunyi, bahkan ketika mereka telah duduk di kursi dalam pesawat. Gadis itu tetap saja melamun seraya memandang ke luar jendela.
Melihat wajah murung gadis di sampingnya, Edward mencoba untuk menghibur tunangannya itu dengan memberikan semangat.
"Tenanglah, aku rasa Bibi Hanah, akan baik-baik saja. Dia adalah wanita yang kuat," Ucapan Edward malah membuat gadis itu terisak. Bulir bening pun membanjiri wajah cantiknya dan membuat Edward gelabakan sendiri.
"Hei, mengapa kau malah mengais?"
Tanpa sadar Edward memeluk tubuh tunangannya itu untuk menjadi tempat bersandar, berharap hal itu dapat menenangkannya.
"Aku takut Ibu akan meninggalkanku, hanya dia yang aku miliki di dunia ini."
Ya, Sarrah Hellard adalah putri tunggal dalam keluarga Hellard. Ayahnya sudah sejak lama meninggal dunia, dan sang Ibu memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang pria keturunan Jackson pengusaha ternama di Jerman dan kini telah menjabat sebagai presiden negara besar itu.
Semenjak Sarrah menginjak usia remaja, sang Ibu telah sering jatuh sakit akibat penyakit jantung yang di deritanya. Bahkan beberapa kali wanita paruh bayar itu mengalami gagal jantung dan hampir saja kehilangan nyawanya.
Tuan Jackson memanglah Ayah yang baik di mata orang luar, tapi di mata Sarrah, ia tak lebih dari pria egois yang hanya mementingkan bisnisnya saja.
BERSAMBUNG....
...**CERITA INI HANYALAH KARANGAN DARI AUTHOR BELAKA!...
...BILA TERJADI KESAMAAN NAMA, TEMPAT DAN KARAKTER, ITU SEMUA HANYALAH KEBETULAN YANG TIDAK SAYA SENGAJAKAN....
Yang satu aplikasi, tolong follow Author dong....😢
kasihanilah author kalian ini yang punya follower sedikit😭
dan buat yang udah kasih dukungan...
aku ucapin terimakasih sebanyak-banyaknya karena udah mau kasih dukungan dan setia untuk mengikuti cerita ini...
__ADS_1
I L♡VE Y♡U READER'S...😙😙😙**