
Kang Dae sayup-sayup membuka mata ia mendapati dirinya telah berada di kamar apartemen miliknya. Pria berparas tampan itu bangun sembari memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Kepingan, demi kepingan Ingatkan yang terjadi semalam, mulai bermunculan di ingatannya.
"Aku harus mencari Yo Ri. Dia harus menjelaskan semuanya padaku." Seru Kang Dae, lalu bergegas turun dari ranjang dan meraih jaketnya yang berceceran di lantai.
Dengan menggunakan taksi online, Kang Dae menuju Rumah Sakit tempat Yo Ri bekerja. Ia menanyakan keberadaan wanita itu pada para suster yang berjaga di sana. Namun, tak seorangpun dari mereka yang mengetahui keberadaan Yo Ri. Dengan frustasi, Kang Dae keluar dari rumah sakit. Ia mencoba menghubungi Sarrah, untuk bertanya apakah ia mengetahui keberadaan Yo Ri.
"Apakah kau tahu di mana Yo Ri?"
Sarrah yang baru saja bangun tidur kebingungan atas pertanyaan aneh dari Kang Dae. Ia mencoba mencerna pertanyaan itu sebelum menjawab.
"Tidak. Setelah pesta kemarin, Yo Ri belum ada menghubungiku sama sekali."
"Baiklah. Kabari aku hilang kau mengetahui keberadaan Yo Ri."
Kang Dae menutup panggilan telpon dan kembali melanjutkan pencariannya. Setelah berjalan cukup lama, baru ia sadari bila dirinya belum memakan apapun semenjak pagi tadi. Jadi, Kang Dae berhenti di sebuah restoran yang tak jauh dari tempatnya. Entah memang kebetulan, ataukah Tuhan yang sedang berbaik hati padanya. Di restoran itu, Kang Dae melihat Yo Ri sedang duduk berdua bersama seorang pemuda yang cukup tampan. Keduanya nampak tengah membahas sesuatu yang serius. Perlahan ia mendekati tempat duduk Yo Ri dan pemuda asing tersebut untuk mendengarkan pembicaraan di antara keduanya.
"Pesta pernikahan ini akan di adakan minggu depan. Kau bisa mengundang sahabatmu atau juga keluargamu bila kau mau."
"Apakah kau yakin atas keputusanmu saat ini?" Pria muda itu kembali menanyakan keputusan Yo Ri. Ini sudah kelima kalinya ia menanyakan hal tersebut pada Yo Ri. Keputusan yang terdengar tanpa pikir panjang itu, membuatnya merasa cemas. Ia takut, suatu saat nanti Yo Ri akan menyesali keputusannya itu.
__ADS_1
"Tentu. Aku bukanlah orang yang suka menyesali langkah yang sudah aku ambil." Jawab Yo Ri tenang. Meskipun hatinya mengetahui perbuatannya saat ini tidaklah benar. Namun, ia pun tidak memiliki pilihan lain. Mau tidak mau, ia harus segera menemukan seorang Ayah untuk calon bayinya.
"Baiklah kalau memang begitu. Bagaimana dengan bayimu akhir-akhir ini? Apakah dia kembali bertingkah?''
"Tidak. Dia semakin mengerti dan pintar."
'Apa? Jadi mereka akan menikah? Dan anakku akan memanggil pria lain sebagai Ayahnya? Tidak akan ku biarkan.'
Dengan langkah tegap, Kang Dae menghampiri tempat duduk Yo Ri dan pria yang akan menjadi suaminya. Tanpa aba-aba, ia menarik pergelangan tangan Yo Ri. Membuat wanita berparas cantik itu, meringis kesakitan.
"Lepaskan dia! Siapa kau?" Cegah pemuda itu menahan sebelah tangan Yo Ri yang bebas.
"Kau Yang harus melepaskannya! Aku adalah Ayah dari bayi yang ia kandung."
"Senior Kang, berhenti! Lepaskan tanganku, kau menyakitiku!"
Kang Dae berhenti dan melepaskan genggaman tangannya. Ia menatap tajam ke arah Yo Ri.
"Kau ingin pria itu menjadi Ayah dari anakku? Jangan mimpi!"
__ADS_1
"Da..dari mana kau tau ini adalah bayimu?"
Dengan senyum miring, Kang Dae mendekat ke arah Yo Ri, membuat wanita itu memundurkan langkah. Melihat ketakutan di wajah Yo Ri, Kang Dae makin mendekatkan dirinya. Langkah Yo Ri terhenti saat punggungnya telah menempel pada dinding dan tidak dapat lagi menjauh.
"Sampai kapan kau berencana menyembunyikannya dariku?"
"Aku-"
"Bahkan kau tega membuat anakku memanggil pria asing sebagai Ayahnya?"
"Lalu kenapa?!" Bibir Yo Ri mulai bergetar. Hatinya tak mampu lagi mendengar pertanyaan-pertanyaan dari Kang Dae. "Apakah bila aku mengatakan tentang kehamilanku akan mengubah hatimu pada Park Jong Ah?"
Kang Dae tak dapat menjawab pertanyaan Yo Ri, ia sendiri tau bagaimana besar rasa cintanya pada wanita yang telah menjadi istri orang lain itu.
"Maaf Dokter Kang, aku bukanlah pengemis. Aku tidak ingin mendapatkan belas kasihan darimu. Apa yang kita lakukan malam itu, bukanlah sebuah penyesalan bagiku. Dan kehadirannya, adalah sebuah anugrah terindah bagiku. Aku harap, kau dapat membiarkan aku hidup tenang bersama dirinya. Biarkan aku memiliki bagian dirimu dalam kehidupanku."
"Biarpun begitu, aku tidak mungkin membiarkan anakku memanggil orang lain sebagai Ayahnya. Aku akan bertanggung jawab atas kalian. Ku mohon beri aku kesempatan untuk menjadi bagian dalam kehidupannya."
Mendengar permintaan Kang Dae, hati Yo Ri sedikit tergerak. Ia amat bahagia membayangkan kehidupan yang akan ia jalani bersama Kang Dae di kemudian hari. Namun Yo Ri juga takut, ia takut, bila dalam hati Kang Dae dirinya hanya akan menjadi Ibu dari anak mereka. Sedangkan nama wanita yang benar-benar terukir disana bukanlah namanya.
__ADS_1
"Berikan akau waktu untuk memikirkan hal ini."
BERSAMBUNG....