
Morgan benar-benar hilang kendali. Setelah mengetahui perselingkuhan sang istri, laki-laki itu benar-benar merasa hilang arah. Dirinya mengabiskan waktu semalaman hanya dengan bermabuk-mabukkan, hal yang sebenarnya sudah lama sekali dia tinggalkan.
Morgan sempat berjanji bahwa dia tidak akan pernah menyentuh minuman memabukkan itu lagi. Namun, dirinya melanggar janjinya sendiri karena rasa kecewanya yang teramat dalam yang dia dapatkan saat ini.
Sebenarnya selama ini Morgan hanya mata keranjang saja, tapi dia sama sekali tidak pernah melakukan kesalahan yang sama selama 10 tahun ini. Morgan sudah menahannya sedemikan rupa, jika hanya makan malam biasa atau menggoda seorang wanita, itu adalah hal yang masih wajar dia rasa.
"Cukup, Tuan bos. Tuan sudah mabuk berat,'' pinta Bram yang memang tidak beranjak sedikitpun dari samping Morgan karena dia benar-benar merasa khawatir.
"Haaaa! Biarkan saya minum satu gelas lagi, Braaaaam!" pinta Morgan dengan suara meliuk-liuk layaknya seorang yang sedang mabuk.
"Baiklah, hanya satu gelas saja. Saya akan mengantarkan Tuan setelah itu.''
"Pulang? Untuk apa saya pulang? Carikan saya seorang wanita. Saya ingin bermalam di hotel dengan seorang wanita, Bram."
Bram hanya menarik napas berat. Mana mungkin dirinya menuruti keinginan Tuannya yang satu itu? Mencarikan seorang wanita? Memangnya dirinya germo apa? Pemuda berusia 27 tahun itu pun mengusap wajahnya kasar tidak tahu harus berbuat apa?
Glegek! Glegek! Glegek!
Suara whiskey yang melintasi tenggorokan Morgan seketika membuyarkan lamunan Bram. Dia pun menatap wajah Morgan dengan tatapan sayu penuh rasa iba. Ternyata, memiliki harta yang melimpah, kedudukan tinggi bahkan istri yang cantik sekali pun tidak membuat kehidupan seorang Morgan bahagia.
"Sudah cukup, Tuan. Saya antarkan Tuan pulang sekarang juga," imbuh Bram hendak membantu tubuh Morgan untuk berdiri tegak. Namun, karena tubuhnya sudah dalam keadaan mabuk berat, Bram pun merasa kewalahan. Alhasil, tubuh Morgan pun ambruk di atas lantai kini.
Bruk!
__ADS_1
Morgan seketika tersungkur. Tubuhnya tidak sadarkan diri saat itu juga. Morgan benar-benar berada di titik terendah di dalam hidupnya kini, rasa sakit yang dia terima akibat pengkhianatan sang istri benar-benar membawa Morgan ke dalam lubang kehancuran.
* * *
Keesokan harinya.
Morgan merentangkan kedua tangannya. Kedua mata laki-laki itu nampak di kedipkan kasar, kepalanya benar-benar terasa pusing karena terlalu banyak minum semalaman.
"Kamu sudah bangun, Mas?'' tiba-tiba terdengar suara Megan Queeni, istri yang telah mengkhianati dirinya.
Morgan pun mengusap kedua matanya kembali. Menatap tubuh sang istri yang perlahan memudar karena apa yang dia lihat itu bukanlah sesuatu yang nyata. Senyuman Megan perlahan mulai menghilang, begitu pun dengan tubuhnya yang seketika lenyap dari pandangan.
"Megan? Astaga, kenapa saya harus berhalusinasi seperti ini?" gumam Morgan mengusap wajahnya kasar.
Laki-laki itu pun berdiri tegak dan hendak berjalan ke arah tangga menuju lantai 2 dimana kamarnya berada. Namun, Morgan seketika menghentikan langkah kakinya saat mendengar suara Megan memanggil namanya kini.
"Mas Morgan," sahut Megan membuat Morgan seketika memejamkan kedua matanya mengira bahwa dirinya masih sedang berhalusinasi.
''Ya Tuhan, kenapa suara Megan terus saja terngiang-nguang di telinga saya?'' gumam Morgan hendak meneruskan langkah kakinya.
"Ini aku, Mas."
Morgan seketika kembali menghentikan langkah kakinya. Dia menoleh dan mencari sumber suara, laki-laki itu pun akhirnya tersadar bahwa apa yang dia dengar dan dia lihat bukanlah sebuah khayalan melainkan benar-benar nyata. Megan benar-benar berdiri tidak jauh dari tempatnya berada saat ini.
__ADS_1
"Kamu?" gumam Morgan kemudian.
Megan seketika berjalan menghampiri. Tiba-tiba saja wanita itu berlutut tepat di hadapannya kini. Kedua matanya bahkan berlinang air mata menangis sesenggukan menunjukkan penyesalan.
"Aku mohon maafkan aku, Mas. Aku benar-benar menyesal, aku khilaf Mas. Sungguh, hanya kamu laki-laki yang aku cintai. Kamu pikir kenapa aku memaafkan kesalahan kamu waktu itu? Karena aku cinta sama kamu, Mas. Aku mohon maafkan aku sekali ini saja, hiks hiks hiks!'' tangis Megan seketika pecah. Tangisnya bahkan terdengar pilu, tapi tetap saja tidak dapat menyentuh titik terdalam relung hati seorang Morgan.
"Permintaan maaf kamu tak ada gunanya, Megan. Lebih baik kamu pergi dari sini sebelum saya mengusir kamu secara tidak sopan,'' tegas Morgan penuh penekanan.
"Apa kamu lupa putra kita meninggal karena siapa? Gara-gara kamu, Mas. Tapi apa? Aku memaafkan kamu, tulus. Sekarang giliran aku yang berbuat kesalahan Mas langsung menceraikan aku begitu saja, Mas benar-benar egois. Jacky meninggal gara-gara kamu, Mas Morgan!'' teriak Megan penuh emosi.
"Iya, semuanya gara-gara saya. Saya memang salah, jangan pernah memaafkan saya, dan lepaskan saya. Kita jalani hidup kita masing-masing dan kamu pun bebas melakukan apapun begitu pun sebaliknya."
"Mas jahat!"
Morgan tidak menanggapi ucapan istrinya. Dia mulai menaiki satu-persatu anak tangga perlahan mulai naik ke lantai dua. Sementara Megan, dia masih saja berteriak histeris memanggil nama suaminya, tapi tetap saja diabaikan.
"Morgan Maxime, aku pastikan akan membuatmu menyesal. Kamu pasti akan bertekuk lutut dan meminta untuk kembali kepadaku, Morgan!" teriak Megan seperti orang yang sedang kesetanan.
BERSAMBUNG
...****************...
PROMOSI NOVEL
__ADS_1