Istri Tangguh Milik Tuan Arogan

Istri Tangguh Milik Tuan Arogan
Berhati Malaikat


__ADS_3

Sherli seketika memutar badan keluar dari dalam ruangan dimana suaminya baru saja melaksanan ijab qobul. Buliran air mata berjatuhan dengan begitu derasnya kini. Wanita bernama lengkap Iva Sherli Jovanka itu sama sekali tidak menyangka bahwa hatinya akan sesakit ini.


Dadanya bahkan terasa sesak. Rasanya? Jangan di tanya lagi, rasa sakit yang saat ini di rasakan oleh wanita bernama Sherli itu membuat tubuhnya terasa lemas. Dia pun hampir saja tumbang, wanita itu menggunakan tembok sebagai sandaran agar tubuhnya tidak benar-benar terjatuh di lantai.


"Anda baik-baik saja, Nyonya?" tanya Dokter yang kebetulan melintas di sana.


"Iya, Dok. Saya baik-baik saja," jawab Sherli mencoba untuk kembali berdiri tegak.


"Bukannya anda pasangan yang waktu itu melakukan Program bayi tabung?"


"Iya betul, Dok. Maaf, karena berbagai alasan, saya belum sempat kembali menemui Dokter."


"Kebetulan kita bertemu di sini, silahkan ikut ke ruangan saya. Sudah saatnya anda mengetahui perkembangan program bayi tabung yang anda lakukan itu, apakah suami anda juga berada di sini?"


"Eu, tidak Dok. Suami saya kebetulan sedang ada urusan penting."


"Ya sudah tak apa-apa, silahkan ikut dengan saya."


Sherli menganggukkan kepalanya, dia pun mengikuti sang Dokter ke ruangannya. Ada rasa senang yang kini terselip di dalam lubuk hati seorang Sherli. Apakah dirinya akan segera memiliki momongan? Dengan kata lain, sel telur yang waktu itu sedang di buahi berkembang dengan baik. Jika iya, maka embrio akan segera di tanamkan di rahimnya dan dia benar-benar akan mengandung buah hatinya bersama sang suami.


* * *


Di lain tempat.


Morgan baru saja selesai melakukan ijab qobul, dia menikahi Megan atas seizin istrinya tentu saja. Jika saja Sherli tidak mengizinkan, mungkin dirinya tidak akan pernah melakukan hal itu. Kebaikan sang istri benar-benar membuat Morgan merasa kagum, rasa cinta kepada wanita itu pun bertambah berkali-kali lipat kini.


Laki-laki itu menatap sekeliling mencari keberadaan sang istri. Namun, dia sama sekali tidak menemukan istrinya itu dimanapun. Dia pun mengalihkan pandanganya kepada Megan, wanita yang kini telah sah menjadi istrinya kembali.


"Mas," lemas Megan dengan nada suara pelan.


"Iya, Mas ada di sini? Apa kamu menginginkan sesuatu?"


Megan menggelengkan kepalanya.


"Lalu? Kamu mau duduk?"

__ADS_1


Megan kembali menggelengkan kepalanya membuat Morgan seketika mengerutkan kening.


"Aku ingin ke makam Jacky."


"Hah? Eu ... Keadaan kamu tidak memungkinkan, Megan. Mana bisa kamu ke sana dalam keadaan seperti ini?"


"Aku kuat ko, Mas. Sudah lama aku tidak ke sana. Aku ingin berdiri di depan makam putra kita bersama kamu."


Morgan seketika menarik napas panjang lalu menghembuskannya kasar. Dia pun mengusap wajahnya kasar, bagaimana bisa dia membawa istrinya itu ke makam Jacky dalam keadaaan sakit keras seperti ini? Namun, dia akan tetap mengusahakan hal itu dengan berkonsultasi terlebih dahulu kepada Dokter yang menanggani Megan.


"Mas bilang dulu sama Dokter ya."


Megan hanya mengangguk lemah.


"Jacky siapa, Mom?" tanya Sherli kecil yang juga berada di sana.


"Sayang, Jacky adalah putra Om. Dia sudah meninggal 18 tahun yang lalu," jawab Morgan mewakili istrinya untuk menjawab pertanyaan tersebut.


"Oh begitu? Boleh aku ikut ke sana?"


Sherli kecil menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil.


"Mas, sekalian kamu cari Sherli Istrimu. Dari tadi aku tidak melihatnya di sini."


Morgan mengangguk-angguk kepalanya lalu benar-benar keluar dari dalam ruangan tersebut.


* * *


Setelah berkonsultasi dengan Dokter terkait, Morgan hendak kembali ke ruangan dimana Megan di rawat. Namun, di perjalananan, dia melihat Sherli sang Istri baru saja keluar dari salah satu ruangan Dokter, lebih tepatnya Dokter kandungan.


"Sayang? Di sini kamu rupanya. Mas cari-cari kamu dari tadi lho, Mas kira kamu pulang duluan?" tanya Morgan segera berjalan menghampiri.


"Maaf, tadi aku pergi tak bilang-bilang," jawab Sherli menatap ke arah lain.


"Gak apa-apa, sayang. Kamu habis ngapain ke sini? Apakah kamu baru saja berkonsultasi dengan Dokter kandungan? Apa sudah ada kabar mengenai progam bayi tabung itu?"

__ADS_1


"Tidak ko, Mas. Eu ... Aku lelah, aku pulang dulu ya. Sampaikan salamku kepada mbak Megan, katakan kepada beliau kalau aku tidak bisa menemani dia di sini."


"Mas anterin pulang ya."


"Gak usah, aku bisa pulang naik Taksi ko. Mbak Megan lebih membutuhkan Mas. Aku pulang dulu ya."


"Sayang? Mas--" Morgan terpaksa menahan ucapanya, karena istrinya tercinta pergi begitu saja.


Morgan sadar betul bahwa hati Sherli pasti merasakan sakit yang tiada terkira. Dia pun tahu betul, bahwa meskipun istrinya itu mengizinkan dirinya untuk menikahi Megan, perasaan Sherli tetap saja akan merasa sangat terluka. Karena sejatinya istrinya itu bukan malaikat meskipun memiliki hati selembut malaikat. Sherli tetaplah seorang manusia biasa meskipun memiliki kebaikan layaknya malaikat.


"Maafkan Mas, sayang. Mas telah melukai hati kamu. Semoga masalah ini cepat selesai dan Megan bisa segera pergi dengan tenang," gumam Morgan, menatap punggung istrinya lekat sampai benar-benar menghilang di balik tembok dan tidak terlihat lagi.


* * *


Setelah berkonsultasi ke Dokter. Akhirnya Megan Queeni diizinkan keluar dari dalam Rumah Sakit untuk berziarah ke makam Jacky putranya. Dengan ditemani Morgan yang saat ini telah sah menjadi suaminya, juga Sherli kecil yang anak perempuan yang dia adopsi, Megan kini duduk di atas kursi roda tepat di depan makam sang putra.


"Apa kabar, Nak. Mommy dan Daddy datang, akhirnya Mommy bisa berada di sini dengan penuh percaya diri bersama Daddy-mu, Nak." Lirih Megan menatap sayu batu nisan bertuliskan nama sang putra.


"Maaf karena Daddy baru sempat datang kemari setelah sekian lama. Daddy terlalu sibuk dengan keluarga baru Daddy sampai melupakan kamu. Daddy datang untuk memenuhi janji yang sempat Daddy ingkari, Mommy kamu ini akan Daddy jaga sampai akhir hayatnya, meskipun terlambat Daddy harap kamu tidak terlalu kecewa," lirih Morgan dengan nada suara lemah. Bola matanya pun seketika memerah menahan sesuatu yang terasa menyesakkan dada.


"Kak Jacky, ini aku Sherli. Kaka istirahat yang tenang di sana ya. Tidak usah mengkhawatirkan Mommy, karena ada aku dan Om Morgan yang akan menjaga beliau." Giliran Sherli kecil yang berbicara dengan suara khasnya.


Tatapan mata mereka tertuju pada satu titik yang sama. Batu nisan bertuliskan nama sang mendiang seolah itu adalah wajah Jacky. Buliran air mata pun seketika membasahi wajah cantik seorang Megan. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata bahagia, karena dirinya akan segera menyusul sang putra ke atas sana tak lama lagi.


Senyuman merekah pun dia sunggingkan, tatapan matanya tiba-tiba saja menangkap sosok Jacky berdiri tepat di samping batu nisan tersenyum menatap ke arahnya kini. Wajah anak itu masih tetap sama meskipun waktu telah lama berlalu.


"Terima kasih karena kamu telah datang kemari untuk menjemput Mommy."


BERSAMBUNG


...****************...


PROMOSI NOVEL


__ADS_1


__ADS_2