
Diana seketika menatap wajah Sherli kini. Apakah dia merasa tersinggung dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Istri dari Bosnya tersebut? Sepertinya begitu, dia merasa bahwa wanita ini terlalu ikut campur dengan hidupnya. Suka-suka dia dong mau memakai pakaian seksi atau telanjang sekalipun, sama sekali bukan urusan wanita bernama Sherli ini. Batin Diana merasa kesal sebenarnya.
"Ba-baik, Nyonya. Saya akan mengingat apa yang Nyonya katakan barusan," jawab Diana, menundukkan kepalanya menahan rasa kesal di hatinya kini.
"Bagus, sebagai sesama wanita saya merasa berkewajiban untuk saling mengingatkan, apalagi kamu adalah sekretarisnya suami saya. Pokoknya, saya tidak ingin melihat kamu memakai pakaian seksi kayak gini di depan suami saya, paham?" tegas Sherli penuh penekanan.
"Paham, Nyonya. Saya permisi dulu kalau begitu," pamit Diana lalu benar-benar meninggalkan ruangan tersebut.
Morgan hanya bisa tersenyum ringan seraya menggelengkan kepalanya. Sherli, sang istri tercinta benar-benar terlihat menggemaskan ketika sedang marah seperti itu. istrinya yang biasa bersikap lembut, tiba-tiba saja berubah menjadi garang dan tegas, sungguh sisi lain yang baru Morgan ketahui setelah menikah sekian lama dengan wanta ini.
"Hebat ya, Mas. Selama ini kamu ditemani oleh sekertaris seksi kayak gitu. Betah kamu ya seharian berkerja di kantor," decak Sherli terlihat kesal.
"Sayang! Sebenarnya kamu kenapa? Dari tadi marah-marah gak jelas, Mas beneran gak pernah jelalatan ke sekertaris Mas itu, sungguh!" jawab Morgan.
"Ya, itu karena aku baru tahu, kalau sebenarnya kamu memiliki sekertaris yang cantik dan seksi seperti si Diana itu. Lagian kamu gak pernah tegur dia gitu, pakaian dia terlalu seksi lho untuk seorang sekertaris? Atau, jangan-jangan kamu malah suka lagi melihat wanita berpakaian kayak gitu?" Sherli semakin menjadi-jadi. Dia tahu betul betapa mata keranjangnya suaminya itu.
Bukannya menjawab semua yang ditanyakan oleh istrinya, Morgan kini bangkit lalu berdiri dan berjalan menghampiri Sherli. Dia pun memeluk tubuh langsing wanitanya itu, juga mengusap punggungnya lembut dan penuh kasih sayang.
Refleks, Sherli seketika balas memeluk tubuh kekar suami tercinta. Dirinya menyandarkan kepala di bahu lebar Morgan Maxime suaminya. Dia tahu persis bahwa suaminya itu sedang mencoba untuk menenangkan perasaannya yang tiba-tiba saja meledak-ledak penuh emosi.
"Sayang ... Sudah cukup marah-marahnya. Ingat kata Dokter, kamu harus menjaga tubuh kamu, perasaan kamu juga harus di jaga lho. Jangan stres-stres apalagi marah-marah tidak jelas, nanti kamu sakit, sayang," lembut Morgan penuh kasih sayang.
"Iya maaf, Mas. Aku juga gak tahu kenapa tiba-tiba jadi seperti ini? Tapi, beneran lho, aku gak suka melihat si Diana itu berpakaian terlalu seksi kayak gitu. Kamu tahu, laki-laki melecehkan wanita itu karena ada kesempatan. Mas juga bisa tergoda nanti kalau terus-menerus disuguhkan dengan tubuh dia yang montok itu."
__ADS_1
"Gak akan, sayang. Tak ada tubuh yang seindah kamu. Tak ada yang semontok dan sesempurna kamu, jadi jangan pernah mengkhawatirkan masalah itu. Kalau kamu memang gak suka, Mas bisa pecat dia sekarang juga."
"Hah? Eu ... Jangan di pecat juga kali Mas. Kasian, siapa tau dia itu tulang punggung keluarga. Cukup diperingatkan saja, kalau masih ngeyel baru di pecat."
Morgan seketika mengurai pelukan. Dia menatap wajah Sherli dengan tatapan mata sayu seraya merapikan rambut panjangnya yang diikat di pucuk kepala. Senyuman manis pun dia sunggingkan, betapa dia tahu betul bahwa istrinya itu memiliki sifat yang baik dan lembut sebenarnya.
"Mas tahu kalau kamu sebenarnya lembut dan gak tegaan orangnya. Kamu bersikap seperti ini mungkin, karena kamu terlalu membucin sama Mas, betul?" canda Morgan tersenyum cengengesan.
"Dih! Ko jadi aku yang membucin?" tanya Sherli dengan wajah yang memerah.
"Ya iya lah, terus siapa lagi kalau bukan kamu, sayang? Kalau Mas sih sudah jelas, Mas bucin tingkat dewa sama kamu, dari pertama kali melihat kamu sampai sekarang. Jadi ingat waktu mengejar-ngejar kamu dulu, Mas sampai gak bisa tidur lho. Wajah cantik kamu serasa memenuhi otak Mas kala itu, apalagi sikap jutek kamu, beuh! Bikin Mas makin penasaran sama kamu lho," lirih Morgan, pikirannya seketika melayang ke masa lalu.
Wajah Sherli semakin memerah saja kini. Suaminya ini memang selalu pandai dalam hal menggombal. Di usia pernikahan yang sudah menginjak 5 tahun lebih itu, Morgan masih saja selalu menghujani dirinya dengan kata-kata romantis yang membuat hati seorang Sherli merasa berbunga-bunga tentu saja.
"Oke, Mas janji gak akan lama. Mas hanya akan memeriksa laporan yang tadi di berikan oleh Diana," jawab Morgan.
Cup!
Satu kecupan pun mendarat di bibir masing-masing sebelum keduanya benar-benar mengurai jarak. Morgan kembali duduk di kursi kebesarannya. Sedangkan Sherli kembali meringkuk di sofa seraya memejamkan kedua matanya. Dia akan menunggu dengan sabar sampai suaminya itu menyelesaikan pekerjaannya.
* * *
Semetara itu, wanita bersama Diana nampak menggerutu kesal usai di tegur oleh istri dari bosnya tersebut. Dia merasa tidak terima sebenarnya, dia juga kurang setuju dengan pernyataan bahwa tidak baik memamerkan tubuh indah seorang wanita, seperti belahan dada juga bagian kaki jenjangnya.
__ADS_1
Menurutnya bagian tubuhnya yang indah sudah sepatutnya di pamerkan, sebagai bentuk rasa bangga terhadap diri sendiri. Dia pun tidak merasa keberatan sama sekali jika bagian yang dia pamerkan itu di tatap oleh laki-laki mesum sekalipun.
"Dasar, mentang-mentang cantik seenaknya saja ngomong kayak gitu. Dia sih gak masalah memakai pakaian tertutup, dari wajahnya saja sudah cantik banget, nah aku? Kalau aku gak pakai pakaian seksi kayak gini, mana ada yang melirik-lirik aku? Secara wajah aku 'kan pas-pasan. Pantas saja Bos Morgan susah banget di godanya, orang istrinya cantik banget kayak gitu. Hmm ... Padahal tak masalah meskipun cuma dijadikan yang kedua," gumam Diana menatap pintu ruangan dimana bosnya berada bersama sang istri di dalam sana.
* * *
Di lain tempat. Gadis kecil bernama Senja nampak sedang berjalan-jalan di dalam rumah besar yang menjadi tempat tinggalnya untuk sementara waktu. Karena dirinya merasa kesal setelah seharian meringkuk di dalam kamar, Senja pun memutuskan untuk berkeliling sendirian.
"Wah? Beruntung sekali aku bisa tinggal di rumah yang sebesar ini," gumamnya, seraya memeluk boneka panda miliknya.
Gadis itu pun duduk di sebuah kursi tua yang berada di halaman belakang, dimana kolam renang membentang lengkap dengan airnya yang jernih. Dirinya nampak begitu menikmati pemandangan juga udara yang terasa begitu menyegarkan.
Seketika, Senja tiba-tiba saja membuka laci yang berada di antara kursi kayu tersebut. Dia pun mengeluarkan satu buah album yang nampak sudah usang. Dengan wajah polosnya, gadis kecil itu membuka setiap lembar album tersebut tanpa sungkan.
"Mom!" gumamnya secara tiba-tiba.
BERSAMBUNG
...****************...
PROMOSI NOVEL
__ADS_1