
Tok! Tok! Tok!
"Mom, aku mau tidur sama Mommy! Aku gak mau tidur sama Mbak. Hiks hiks hiks!"
Pintu pun di ketuk, suara tangis Dami pun seketika terdengar dari luar sana. Tentu saja hal itu membuat Morgan dan juga Sherli segera bangkit dengan tergesa-gesa. Seketika itu juga, sang junior yang semula sudah menegang kini lemas, begitupun dengan tubuh sang pemiliknya.
"Astaga! Baru juga mau mulai," decak Morgan mengusap wajahnya kasar.
Sementara Sherli, dia segera mengenakan kimono handuk yang sama seperti suaminya. Seketika itu juga dia berjalan menuju pintu lalu membukanya kemudian.
Ceklek!
Pintu pun di buka lebar. Dami nampak sedang di bujuk oleh baby sister agar anak itu bersedia tidur dengannya untuk malam ini. Akan tetapi, tangis Dami malah terdengar semakin kencang. Memang selama ini, Dami tidak pernah tidur malam selain dengan ibunya.
Padahal, Morgan suaminya sengaja memesan kamar yang terpisah agar mereka bisa menikmati malam pertama mereka, karena malam ini mereka memang menghabiskan malam di kamar hotel dimana mereka mengadakan acara pernikahan.
"Sayang, sini tidur sama Mommy dan Daddy," lembut Sherli, meraih tubuh mungil sang putra lalu menggendongnya.
"Tapi, bu. Ibu 'kan--" ucap sang baby sister merasa tidak enak sebenarnya.
"Tidak apa-apa. Dami tidak akan bisa tidur kalau tidak tidur dengan saya."
"Eu ... Maafkan saya bu, gara-gara saya tidak bisa menenangkan Dami, ibu jadi terganggu. Sekali lagi maafkan saya."
"Tidak apa-apa. Mbak bisa kembali lagi ke kamar."
"Baik, bu," jawabnya kemudian. Setelah itu, sang baby sister pun kembali ke kamarnya.
Sherli membawa tubuh sang putra ke dalam kamar. Jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, sebenarnya dia merasa tidak enak karena harus menunda malam pertamanya gara-gara Dami. Namun, lebih dari apapun, putranya adalah hal yang paling utama saat ini. Jika malam ini mereka tidak bisa melakukan malam pertama, maka mereka bisa melakukan di malam berikutnya.
"Sayang, sini bobo sama Daddy," pinta Morgan yang sudah dalam keadaan berbaring.
"Daddy? Mom, aku harus memanggil Om Morgan dengan panggilan Daddy?" tanya Dami dengan begitu polosnya.
__ADS_1
"Iya, sayang. Dia Daddy kamu sekarang, 'kan Mommy sudah jelaskan sama kamu waktu itu," jawab Sherli membaringkan putranya tepat di samping sang suami kini, dan dia pun berbaring tepat di samping Dami.
"Hmm ... Baiklah, aku akan memanggil Om dengan sebutan Daddy sekarang. Dad ... Apa tidak apa-apa kalau aku tidur di sini malam ini?"
"Tentu saja tidak apa-apa Dami sayang. Daddy justru senang bisa tidur bertiga seperti ini," jawab Morgan, entah dia benar-benar tulus atau tidak, dalam mengatakan hal itu, hanya dia sendiri yang tahu.
"Tapi kata Mbak, aku tidak boleh tidur di sini. Nanti bisa-bisa aku gangguin Mommy sama Daddy."
"Hah? Hahahaha! Kata siapa?" Morgan seketika tertawa ringan.
"Kata Mbak. Memangnya kalian mau ngapain sih?"
Sherli hanya bisa tersenyum kecil mendengar celotehan putranya tersebut. Anak berumur 7 tahun itu memang selalu ingin tahu lebih tentang banyak hal, dan dia pun harus selalu bisa menjelaskan apapun yang di tanyakan olehnya. Namun, untuk yang satu ini dirinya sama sekali tidak bisa menjelaskan apapun.
"Sayang, putranya Mommy yang paling tampan. Katanya kamu mengantuk? Kita tidur sekarang ya. Ini udah malam lho," pinta Sherli kemudian.
"Baik, Mom," jawab Dami patuh. Dia pun seketika memejamkan kedua matanya mencoba untuk terlelap.
Morgan menatap wajah Dami dan juga sang istri secara bergantian. Rasanya seperti mimpi baginya karena mulai malam ini dan malam-malam selanjutnya dirinya tidak akan merasa kesepian lagi setiap malam. Ada Dami, dan Sherli yang akan selalu menemani dirinya setiap malamnya.
"Sttt!" Bisik Morgan mengedipkan satu matanya menatap wajah sang istri dengan tatapan mata genit.
Sherli hanya bisa mengerutkan kening. Entah apa dia benar-benar tidak mengerti dengan isyarat suaminya, atau dirinya memang sengaja membuat Morgan merasa penasaran.
"Sttt!" Morgan kembali melakukan hal yang sama.
"Apa?"
Morgan seketika melirik ke arah kamar mandi. Tentu saja hal itu membuat Sherli seketika menahan tawanya sedemikian rupa. Apa suaminya itu ingin mereka melakukannya di dalam kamar mandi?
"Ke kamar mandi?" bisik Sheri kemudian.
Morgan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum cengengesan. Pelan tapi pasti, Sherli mulai melepaskan lingkaran tangan Dami yang saat ini melingkar sempurna di perut rampingnya dengan sangat hati-hati. Setelah itu dia pun turun dari atas ranjang.
__ADS_1
Tentu saja, hal itu membuat Morgan seketika tersenyum kegirangan. Dia pun melakukan hal yang sama dengan istrinya. Laki-laki itu segera menggendong tubuh istri tercinta dan membawanya ke dalam kamar mandi.
'Banyak jalan menuju Roma, hahahaha!' (batin Morgan).
Ceklek!
Pintu kamar mandi pun di buka dan di tutup pelan. Keduanya pun masuk ke dalam sana kemudian. Perlahan, Sherli pun turun dari atas pangkuan suaminya dan berdiri dengan menyandarkan tubuhnya di tembok kamar mandi kini.
"Maafkan aku, Mas. Gara-gara Dami, kita jadi harus melakukannya di sini," lirih Sherli menatap sayu wajah suaminya kini.
"Kenapa harus minta maaf segala? Justru rasanya akan lebih anu kalau kita melakukannya di sini."
"Hah?"
"I love you, sayang. Terima kasih karena kamu hidup Mas terasa sempurna kini, kamu benar-benar paket komplit."
"Paket komplit?" Sherli tentu saja seketika mengerutkan kening.
"Maksudnya, Mas bukan hanya mendapatkan seorang Istri yang cantik dan lembut, tapi juga seorang putra yang selama ini Mas dambakan."
Sherli seketika tersenyum manis. Satu kec*pan pun dia layangkan singkat di bibir suami tercinta. Sukses, kecupan singkat penuh arti itu sukses membangunkan ha*rat di dalam jiwa seorang Morgan Maxime.
Pendakian panjang pun di mulai, Morgan mulai menarik tali kimono yang melingkar di pinggang ramping istrinya. Seketika itu juga, pemandangan indah pun tersaji di depan mata.
Apa yang selama ini dia bayangkan kini benar-benar berada di hadapannya. kedua mata Morgan seketika membulat sempurna. Dirinya tidak pernah melihat tubuh seindah Istrinya.
"Ko malah bengong?" tanya Sherli melingkarkan kedua tangannya di leher Morgan kini.
"Baru kali ini Mas melihat tubuh wanita seindah kamu, sayang. Ternyata bukan hanya wajah kamu saja yang cantik, tapi tubuh kamu juga cantik. Mas benar-benar beruntung memiliki Istri sempurna seperti kamu," lirih Morgan sebelum akhirnya memuntahkan ha*rat yang selama ini telah dia tahan.
Malam yang dingin pun seketika terasa panas. Dinginnya lantai kamar mandi tidak serta merta membuat keduanya menahan keinginan dalam memburu sebuah kenik*atan. Suara desa*an demi desa*an pun kini terdengar saling bersahutan.
BERSAMBUNG
__ADS_1
...****************...