Istri Tangguh Milik Tuan Arogan

Istri Tangguh Milik Tuan Arogan
Kesepian


__ADS_3

Ceklek!


Blug!


Megan membuka pintu rumahnya lalu menutupnya kasar setelah dirinya masuk ke dalam Rumah tersebut. Sepi dan hening, Rumah tersebut memang rapi juga dilengkapi dengan perabotan yang serba mahal. Namun, dia tetap saja merasa hampa karena hidup tanpa seorang pendamping.


2 tahun lebih dia hidup menjanda. Dia pun sudah menghabiskan waktu bersama banyak pria. Tapi, dirinya tidak dapat menemukan laki-laki seperti mantan suaminya.


Menyesal pun tiada guna. Hidup seorang Megan sudah terlanjur berantakan. Kecantikan yang dia miliki terasa tiada Arti kini. Megan Queeni benar-benar merasa terpuruk, jiwanya pun terkurung dalam penyesalan yang tidak berkesudahan.


Wanita itu pun meringkuk di atas kursi. Tatapan matanya nampak kosong menatap ke depan. Tiba-tiba saja, tenggorokannya merasa tercekik, rasa mual itu seketika menderanya kini.


"Huek!"


Megan segera menutup mulutnya menggunakan telapak tangan. Dia pun berlari ke arah toilet dan berjongkok seraya memuntahkan seluruh isi di dalam perutnya kini.


"Huek! Huek! Huek!" Megan tidak berhenti memuntahkan seluruh isi di dalam perutnya. Namun, rasa mualnya tidak berkurang sama sekali. Sepertinya ada yang aneh dengan perut ramping seorang Megan.


"Astaga, ada apa ini? Kenapa aku mual-mual seperti ini?" gumamnya mengusap ujung bibirnya kasar.


Dia pun bangkit lalu hendak keluar dari dalam kamar mandi. Namun, wanita itu seketika menghentikan langkah kakinya saat otaknya tiba-tiba saja mengingat sesuatu.


"2 bulan ini aku sama sekali tidak datang bulan." Gumamnya kemudian.


* * *


5 tahun kemudian.


Hari berganti dan waktu berlalu. Setiap hari di jalani oleh Morgan dengan begitu sangat bahagia. Setelah berkonsultasi ke Psikiater seperti yang diinginkan oleh istrinya, Morgan benar-benar sembuh dari rasa traumanya kini.


5 tahun sudah dia mengarungi rumah tangga dengan Sherli sang istri. Namun, keduanya masih belum dikaruniai momongan seperti yang diinginkan. Meskipun mereka sudah memiliki seorang putra yang tampan dan cerdas, tapi tetap saja, rumah besar mereka terasa sepi karena Dami semakin tubuh besar setiap harinya.


Putranya itu akan segera menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama tidak lama lagi. Morgan akan memasukkan putra sambungnya itu ke sekolah terbaik di kota tersebut. Hari ini adalah hari pertamanya masuk sekolah. Morgan dan juga Sherli spesial mengantarkan sang putra ke sekolah barunya.


Mereka bertiga pun sudah dalam perjalanan sekarang. Dami begitu excited, senyuman lebar nampak mengembang dari kedua sisi bibirnya kini.


"Sekolahnya masih jauh, Dad?" tanya Dami duduk di kursi jok belakang.


"Sebentar lagi, sayang. Kenapa? Kamu sudah tidak sabar ya?" jawab Morgan tersenyum lebar.


"Iya, Dad. Aku benar-benar sudah tidak sabar ingin segera sampai di sekolah baru aku itu."

__ADS_1


Sherli hanya bisa tersenyum, menoleh dan menatap wajah Dami sang putra. Waktu begitu cepat berlalu, dia tidak menyangka bahwa putranya sudah beranjak remaja kini.


Sampai akhirnya, mereka pun sampai di tempat tujuan. Gedung sekolah berlantai 2 dengan yang merupakan sekolah terbaik dan termahal di kota tersebut. Mobil pun mulai melipir dan berhenti tepat di depan pagar sekolah. Morgan dan keluarga kecilnya keluar dari dalam mobil.


"Sayang, putra Mommy yang baik dan pintar. Kamu baik-baik di dalam ya," lirih Sherli merapikam seragam putih biru sang putra.


"Baik, Mom, Dad. Kalian berdua hati-hati di jalan ya."


"Nanti Daddy minta Bram untuk jemput kamu ketika pulang sekolah. Ingat, jangan pulang dulu sebelum ada yang menjemput, oke?"


Dami mengangguk patuh seraya tersenyum lebar. Dia pun menyalami kedua orang tuanya secara bergantian. Satu kecupan pun dia terima di kedua sisi pipinya kini.


"Kamu masuk duluan, kami akan pergi kalau kamu sudah di dalam."


Dami lagi-lagi mengangguk patuh. Dia pun berjalan memasuki pagar lalu melambaikan tangannya seraya tersenyum manis. Morgan dan istrinya nampak melakukan hal yang sama. Keduanya melambaikan tangan seraya tersenyum begitu lebarnya.


"Putra kita sudah besar. Waktu begitu cepat berlalu ternyata," ucap Morgan, menatap punggung putra kesayangannya sampai benar-benar menghilang di balik pagar.


"Benar, Mas. Dami sudah besar, dia tampan seperti kamu. Aku benar-benar bangga sama dia."


"Kapan Tuhan bisa mempercayakan satu putra lagi untuk kita." Morgan seketika terlihat murung.


"Tak apa, Mas. Mungkin Tuhan masih ingin kita fokus mengurus satu putra saja, aku yakin jika waktunya tiba, Tuhan akan mempercayakan kita momongan lagi," jawab Sherli, menoleh dan menatap wajah Morgan suami tercinta.


"Hah? Rajin apa?"


"Rajin bikin anak, malahan bisa sehari tiga kali. Apa kita harus berdoa dulu sebelum melakukan hubungan suami istri?"


Plak!


Satu pukulan mendarat di bahu Morgan kini. Sherli membulatkan bola matanya seraya menatap sekeliling, tidak ingin orang lain sampai mendengar apa yang baru saja di ucapkan oleh suaminya itu.


"Argh! Sakit, sayang!" ringis Morgan tersenyum cengengesan.


"Lagian, Mas ini. Kalau ngomong itu asal aja. Kalau sampai ada yang dengar bisa malu 'kan?"


"Hahahaha! Gak ada yang dengar ko. Eu ... Gimana kalau kita pulang dulu, sebentaaaar aja!" rengek Morgan tersenyum cengengesan.


"Astaga, Mas. Kamu 'kan harus ke kantor! Bisa terlambat nanti."


"Tidak apa-apa, kamu lupa saya siapa? Mas Morgan mu ini adalah Direktur Utama di perusahaan Mas sendiri, jadi Mas bebas dong mau masuk kantor jam berapapun."

__ADS_1


Sherli menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya kemudian. Bagi Sherli, kapan pun, bahkan dimana pun suaminya meminta untuk dilayani dia akan siap sedia tanpa mengeluh sedikitpun, karena apa? Karena baginya, kepuasan seorang suami adalah kunci utama agar suaminya itu tidak mencari kepuasan di luar.


Terbukti, Morgan suaminya itu tidak pernah jelalatan kepada wanita lain, apa lagi sampai membeli kepuasan dari wanita, seperti yang selalu Morgan lakukan saat dirinya belum menikah dengan wanita bernama Sherli tersebut.


"Kita pulang sekarang?" tanya Morgan, tersenyum cengengesan dan langsung di jawab dengan anggukan oleh Sherli sang istri.


* * *


Di perjalanan.


Ckiiit!


Morgan tiba-tiba saja menghentikan laju mobilnya, saat mobil yang dikendarainya itu seperti menabrak seseorang. Sontak, keduanya pun segera keluar dari dalam mobil secara bersamaan dan menghampiri korban.


"Astaga, Mas. Ya Tuhan," decak Sherli saat melihat seorang anak perempuan tergeletak tepat di depan mobil mewah miliknya. Sontak, Morgan segera meraih tubuh mungil itu dan membawanya ke Rumah sakit.


Di Rumah Sakit.


Morgan dan juga Sherli menunggu di luar ruangan Unit Gawat Darurat. Keduanya nampak terlihat khawatir. Terutama Morgan, ingatan akan masa lalunya tiba-tiba saja memenuhi otaknya kini. Dirinya benar-benar merasa takut jika anak tersebut tidak terselamatkan.


"Kalau sampai anak itu meninggal, bagaimana?" lirih Morgan, dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


"Mas tenang dulu ya. Aku yakin kalau anak itu akan selamat. Mas juga tidak sengaja menabraknya," lirih Sherli mencoba untuk menenangkan.


Tidak lama Kemudian Dokter pun keluar dari dalam ruangan.


"Bagaimana keadaan anak itu, Dokter?" tanya Morgan, segera berjalan menghampiri dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


"Kalian kedua orang tuanya?"


"Bukan, Dok. Kami--" Morgan tidak kuasa untuk meneruskan ucapannya.


"Sebaiknya, segera beri tahu orang tua pasien."


"Apa lukanya serius?" tanya Sherli yang juga merasa khawatir.


"Begini, keadaan pasien--"


BERSAMBUNG


...****************...

__ADS_1


PROMOSI novel



__ADS_2