Istri Tangguh Milik Tuan Arogan

Istri Tangguh Milik Tuan Arogan
Tersiksa


__ADS_3

Dami sontak menghentikan langkah kakinya yang baru saja hendak menaiki anak tangga pertama. Seketika itu juga, Morgan segera berjalan menghampiri dan menggendong tubuhnya erat. Tentu saja hal tersebut membuat Sherli seketika merasa heran.


Dia menatap wajah Morgan yang tiba-tiba saja berubah muram, bahkan terlihat khawatir lengkap dengan bola mata yang memerah kini. Apakah ada sisi lain yang masih belum dia kertahui tentang suaminya itu? Batin Sherli seketika diliputi tanda tanya.


"Jangan naik, Daddy mohon. Kamu bisa jatuh nanti," gumam Morgan semakin erat mendekap tubuh Dami kini.


"Engap, Dad. Daddy kenapa?" tanya Dami merasa heran.


"Iya, Mas kenapa? Apa Mas baik-baik saja?" tanya Sherli segera menghampiri sang suami.


Morgan seketika menurunkan Dami dan berjongkok tepat di hadapannya kini. Dia meletakkan kedua telapak tangannya di kedua sisi pipi mungil Dami kemudian.


"Dami sayang. Jangan naik turun tangga, apa lagi sampai berlari di tangga. Daddy takut kamu jatuh nanti. Maaf karena teriakan Daddy telah mengejutkan kamu, sayang. Daddy--" Morgan tidak kuasa untuk meneruskan ucapannya.


"Daddy kenapa? Aku baik-baik saja, Dad. Aku sudah besar, Daddy tidak usah khawatir. Aku juga akan berhati-hati. Daddy jangan sedih seperti ini. Aku tidak suka melihat Daddy Morgan bersedih," sahut Dami segera memeluk tubuh sang ayah erat.


Morgan tentu saja segera membalas pelukan putra kesayangannya itu. Dia berjanji di dalam hatinya, bahwa kejadian dulu tidak akan pernah terulang lagi. Rasa trauma Morgan benar-benar belum sepenuhnya hilang, malah semakin menjadi-jadi kini membuat jiwanya kian merasa tersiksa sebenarnya.


"Daddy antarkan ke kamar kamu, mau?" lirih Morgan mulai mengurai pelukan.


"Mau, Dad."


Morgan hendak menggendong Dami kembali.


"Gak usah di gendong, Dad. Aky udah besar ko," pinta Dami kemudian.


"O iya, ya sudah pegang tangan Daddy." Morgan membuka telapak tangannya dan segera di sambut oleh Dami, kedua tangan mereka pun seketika saling ditautkan erat.


Laki-laki itu benar-benar menuntun Dami berjalan menuju kamar yang memang telah dia siapkan spesial untuk putra kesayangannya itu. Tanpa dia sadar, dirinya melupakan rencananya bersama sang istri yang semula hendak ke kamar mereka. Membuat Sherli sedikit banyaknya merasa kecewa.


"Apa aku harus cemburu, karena suamiku sendiri lebih mementingkan putraku dari pada aku istrinya?" gumam Sherli membuat baby sister yang juga berapa di sana seketika merasa heran tentu saja.


"Hah? Ibu bilang apa tadi?" tanya sang baby sister.


"Tidak ko, saya tidak bilang apa-apa," jawab Sherli tersenyum dipaksakan.


Dia pun naik ke lantai 2 dimana kamar suaminya berada. Sherli akan mencari sendiri kamar tersebut dan memberikan waktu kepada Morgan untuk bermain bersama Dami di kamarnya. Perlahan, dia pun mulai menaiki satu-persatu anak tangga, tatapan mata wanita itu nampak menatap sekeliling rumah yang terlihat lebih luas jika di lihat dari ketinggian dimana dia berada saat ini.

__ADS_1


Sejenak terlintas di dalam otak kecil seorang Sherli, apakah suaminya itu tidak merasa kesepian tinggal di rumah sebesar ini hanya sendirian? tanya Sherli di dalam hatinya. Akhirnya dia pun sampai di kamar yang berada di lantai 2. Dirinya membuka pintu tersebut dan masuk ke dalamnya.


"Waaah! Kamarnya luas sekali!" decak Sherli menatap sekeliling kamar berukuran luas tersebut.


Kamar yang di dominasi dengan warna abu muda itu pun nampak sangat rapi, tidak terlalu banyak perabotan di dalamnya. Kaca rias yang bertengger di salah satu sudut pun nampak kosong.


"Ranjangnya besar juga ternyata," gumamnya lalu berjalan ke arah ranjang dan berbaring di atasnya kemudian.


Beberapa saat setelahnya wanita itu pun benar-benar memejamkan kedua mata seketika tertidur lelap. Nyaman, berada di kamar itu terasa begitu nyaman. Dinginnya AC terasa menyejukkan.


* * *


2 jam kemudian.


Sherli yang sedang terlelap seketika mengerutkan kening saat merasa ada yang menggerayangi tubuhnya. Dia menggeliat kegelian, bulu kuduknya pun merinding tegang. Wanita itu terpaksa membuka kedua matanya kemudian.


"Mas Morgan? Mas lagi apa?" tanya Sherli membulatkan bola matanya. Rasa kantuk yang semula dia rasakan pun seketika lenyap begitu saja.


"Maaf karena Mas terlalu keasikan bermain dengan Dami, kamu sampai ketiduran seperti ini."


"Kamu marah?"


"Tidak!"


"Yakin?"


Sherli memalingkan wajahnya lengkap dengan bibir yang di kerucutkan sedemikian rupa, tapi terlihat sangat menggemaskan di mata Morgan tentu saja. Wanita itu bahkan menurunkan telapak tangan suaminya yang saat ini sedang memainkan benda kenyal yang menjadi benda favorit sang suami.


"Kamu beneran marah? Astaga, sayang! Hahahaha! Wajah Kamu semakin cantik kalau sedang marah kayak gini. Gemes deh, muach!" Morgan meng*cup bibir sang Istri mesra.


"Dami sedang apa sekarang, Mas?"


"Dia sudah tidur. Sekarang ditemani sama baby sister. Tadi kami main dulu sebentar."


"Sebenarnya tadi Mas kenapa? Apa ada sesuatu yang Mas sembunyikan dari aku?"


Morgan seketika terdiam.

__ADS_1


"Kenapa Mas diam saja? Aku sudah tahu semuanya, Mas. Mbak Megan sudah menceritakan kenapa Jacky bisa terjatuh dari tangga."


Morgan seketika merubah raut wajahnya. Dia yang semula tersenyum lebar lengkap dengan tatapan me*um menggoda, kini terlihat muram dengan bola mata yang memerah menahan sesuatu yang terasa menyesakkan dada.


"Kenapa Mas diam? Apa Mas masih belum bisa melupakan kejadian itu?"


Morgan diam seribu bahasa. Bibirnya terasa kelu hanya untuk mengucapkan satu patah kata pun.


"Sayang," lirih Sherli meletakkan kedua telapak tangannya di kedua sisi rahang seorang Morgan.


Dia menatap lekat kedua bola mata suaminya yang benar-benar memerah, seolah ingin menyelami relung jiwa suaminya lewat tatapan mata keduanya. Sayu, tatapan Morgan benar-benar sayu, kesedihan terlihat jelas dari pancaran matanya kini. Tatapan me*um dan wajah ceria seorang Morgan seolah sirna seketika.


"Sebenarnya Mas bukanlah seorang ayah yang baik. Saya penyebab meninggalnya Jacky, sayalah yang telah membunuh dia sebenarnya. Mas adalah ayah jangan jahat, Sher!" lirih Morgan akhirnya mengeluarkan suaranya. Terdengar berat dan menahan kesedihan yang selama ini dia pendam sendirian.


"Kata siapa Mas ayah yang jahat? Mas adalah ayah sempurna, terutama untuk Dami. Jangan pernah berfikiran seperti itu. Aku memang tidak tahu kejadian persisnya seperti apa, tapi jangan pernah menyalahkan diri sendiri. Yang berlalu biarlah berlalu."


"Takdir manusia sudah ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Jodoh, kesedihan, kesenangan dan kematian manusia telah di atur oleh yang maha kuasa. Termasuk takdir putra Mas itu."


"Jadi, aku harap Mas bisa melupakan kejadian naas itu dan membuka lembaran baru. Yang harus Mas lakukan sekarang adalah mendoakan putra Mas, semoga dia tenang di alam sana," ucap Sherli panjang lebar.


"Terima kasih, sayang. Terima kasih karena telah mengatakan hal itu. Sebenarnya selama ini mas menderita, Mas bermain dengan banyak wanita hanya untuk mencari kesenangan semata agar Mas bisa melupakan semua itu."


"Akan tetapi, melakukan itu semua hanya memberi ketenangan sekejap. Hati Mas kembali dilanda rasa bersalah yang tidak berkesudahan setelahnya. Mas benar-benar tersiksa, Sher. Mas--"


Sherli meletakkan jari telunjuknya di bibir sang suami. Tentu saja hal tersebut membuat Morgan tidak meneruskan ucapannya.


Cup!


Satu kec*pan pun mendarat di bibirnya kini. Sherli tersenyum menatap wajah sang suami tercinta. Betapa akhirnya dia tahu sisi lain dari seorang Morgan Maxime. Sisi yang tidak ada seorang pun yang tahu selain dirinya kini.


"Sekarang Mas punya aku dan Dami, hidup Mas tidak akan pernah merasa kesepian lagi. Aku berjanji akan membahagiakan Mas dan mengabdikan hidup aku sebagai istri yang berbakti."


Setelah mengucapkan semua itu, Sherli segera memanjangkan suaminya di atas ranjang. Dia dengan sengaja bersikap seagresif mungkin agar sang suami merasa puas dengan pelayanannya sebagai seorang istri.


BERSAMBUNG


...****************...

__ADS_1


__ADS_2