Istri Tangguh Milik Tuan Arogan

Istri Tangguh Milik Tuan Arogan
Permintaan Terakhir


__ADS_3

"Apa? Kamu gila? Saya sudah punya istri, mana mungkin saya menikahi kamu, Megan. Permintaan kamu sungguh tidak masuk akal," jawab Morgan tegas tapi dengan nada suara yang sedikit di tahan.


Perlahan, Megan membuka penutup kepalanya. Buliran air mata pun seketika mengalir dengan begitu derasnya kini. Morgan tentu saja membulatkan bola matanya merasa terkejut, meskipun dia tahu betul bahwa orang yang menderita penyakit ganas seperti itu, pasti akan kehilangan mahkota di tubuhnya, yaitu rambut.


Ya ... Kepala Megan benar-benar plontos. Tampak putih berkilau tanpa sehelai rambut pun. Rambut panjang yang selalu dia rawat benar-benar hilang, begitu pun dengan kecantikan yang selama ini selalu dia banggakan.


"Kamu lihat aku, Mas? Aku tidak bohong ketika aku mengatakan bahwa umurku tidak akan lama lagi. Hidupku benar-benar mengenaskan. Kecantikan, kesombongam, dan keangkuhan yang selalu aku tunjukan semuanya telah lenyap. Aku hanya seonggok tubuh tanpa jiwa."


"Semua yang berharga di dalam hidupku telah di hilang. Putra yang aku sayang, suami yang aku cintai, dan kecantikanku, semuanya telah sirna. Aku bukan Megan yang dulu lagi, aku hanya manusia yang sedang menunggu untuk di cabut nyawanya."


"Padahal, aku akan sangat bahagia jika nyawa ku di ambil sekarang juga, karena dengan begitu aku tidak perlu merasakan rasa sakit ini. Rasanya sakit sekali, Mas. Tulangku seperti di tusuk jarum tajam, rasanya sangat menyiksa," lemah Megan, kedua matanya nampak memerah, lengkap dengan buliran air mata yang mengalir dengan begitu derasnya kini.


Morgan menarik napas berat, dia pun mengusap wajahnya kasar. Mana mungkin dirinya menikahi mantan istrinya? Bagaimana dengan Sherli, wanita yang sangat dia cintai? Perasaanya pasti akan sangat terluka jika dia harus berbagi suami dengan wanita lain.


"Maaf, Megan. Sepertinya saya tak bisa menuruti keinginan kamu ini. Saya tidak bisa membagi cinta saya untuk wanita lain. Saya sudah berjanji kepada istri saya untuk setia apapun yang terjadi, dan saya tak ingin melanggar janji saya itu," jawab Morgan menundukkan kepalanya.


"Aku makin kagum sama istri kamu, Mas. Kamu telah benar-benar berubah, seharusnya kamu seperti ini juga kepadaku kala itu."


Morgan hanya tersenyum getir. Tidak ada gunanya mengingat masa lalu. Semua itu hanyalah sebuah kenangan yang menyakitkan baginya.


"Kamu cukup menikahi ku secara agama. Tak perlu di daftarkan ke negara segala, karena semua itu tak ada gunanya ketika aku sudah mati kelak, tapi Mas, aku juga hanya akan melakukan hal itu jika istrimu mengizinkan," lemahnya tatapan mata Megan semakin terlalu sayu.


Megan Queeni tiba-tiba saja mengernyitkan kening. Wajahnya pun seketika meringis menahan rasa sakit. Hidung wanita itu pun mengeluarkan darah segar. Hal tersebut terjadi karena sel kanker yang ada di dalam tubuh Megan telah menjalar hampir ke seluruh tubuhnya.


"Hidung kamu? Hidung kamu berdarah, Megan. Ya Tuhan!" Morgan seketika merasa panik.

__ADS_1


"Memang selalu seperti ini, tubuhku sakit semua sebenarnya," jawab Megan, dia pun mendongakkan kepalanya, meski terlihat meringis kesakitan. Namun, Megan mampu menahan rasa itu seolah telah terbiasa.


"Saya panggilkan Dokter dulu," ujar Morgan segera berlari ke keluar dari dalam ruangan.


Tidak lama kemudian, Dokter pun kembali dengan 2 orang perawatan. Salah satu dari mereka nampak menyuntikkan sesuatu ke dalam pergelangan tangan Megan kini. Selang beberapa lama, dia pun terlihat tenang. Sedikit demi sedikit kedua matanya pun mulai terpejam.


Ternyata Megan baru saja diberikan obat penahan rasa sakit, juga obat penenang. Hal tersebut membuat wanita itu seketika tertidur lelap. Bukan tanpa alasan Dokter melakukan hal tersebut, semua itu semata-mata karena kanker yang di derita oleh Megan sudah berada di stadium 4 yang mustahil untuk di sembuhkan. Hanya obat penahan rasa sakitlah yang bisa dia terima sampai azal benar-benar menjemputnya suatu saat.


"Apa Megan masih bisa di sembuhkan, Dok?" tanya Morgan menatap sang Dokter.


"Kemungkinan untuk sembuh tipis, itu semua karena pasien terlambat datang ke Rumah Sakit. Sel kanker sudah menjalar di seluruh tubuh pasien dan sulit untuk dikendalikan lagi," jawab sang Dokter membuat Morgan seketika dilanda dilema.


"Apa yang harus saya lakukan sekarang, Dok?"


"Sebagai orang terdekatnya, yang harus anda lakukan adalah menemani dan memberi semangat. Jangan biarkan pasien merasa kesepian. Jika ada permintaan terkhir yang diinginkan oleh pasien, saya harap anda bisa memenuhinya agar beliau bisa pergi dengan tenang."


Morgan tidak mampu lagi berkata-kata. Bibirnya terasa kelu untuk digerakkan. Sekujur tubuhnya benar-benar terasa merinding, apa sedekat itu kematian yang akan dihadapi oleh mantan istrinya? Lalu, apakah dia akan memenuhi keinginan terkahir Megan?


'Ya Tuhan, apa yang harus saya lakukan sekarang? Saya tidak mungkin menyakiti wanita yang paling saya cintai, tapi saya juga tidak kuasa menolak keinginan Megan. Saya harus bagaimana?' (batin Morgan).


"Saya permisi dulu kalau begitu, ingat pesan saya tadi." Pamit Dokter kemudian.


Morgan hanya diam tidak menanggapi. Tatapan matanya menatap lekat wajah Megan yang nampak terlelap dengan wajah pucat pasi. Belum lagi kepalanya yang benar-benar plotos membuat Morgan dipenuhi rasa iba.


* * *

__ADS_1


Malam hari.


Morgan baru saja pulang dari Rumah Sakit. Dia terpaksa meninggalkan wanita itu karena tidak ingin membuat Sherli sang istri merasa kecewa. Laki-laki itu pun membuka pintu kamar lalu masuk ke dalamnnya dengan wajah muram.


"Kamu sudah pulang, Mas? Maaf tadi aku harus pulang tanpa pamit, Senja tiba-tiba saja minta pulang," tanya Sherli meringkuk di atas ranjang.


"Tidak apa-apa, sayang. Mas ngerti ko. Apa Senja sudah tidur?"


Sherli hanya menganggukan kepalanya dengan wajah datar.


"Mas mandi dulu ya. Badan Mas lengket banget ini." Morgan hendak masuk ke dalam kamar mandi.


"Tunggu, Mas. Ada yang ingin aku katakan sama Mas?"


Morgan sontak menghentikan langkah kakinya. Dia pun berbalik lalu berjalan menghampiri dan duduk di tepi ranjang kini.


"Apa kamu marah karena Mas berlama-lama di Rumah Sakit. Mas terpaksa melakukan itu karena--"


"Tidak, bukan itu yang ingin aku katakan sama Mas."


"Lalu?" Morgan mengerutkan kening.


"Nikahi Mbak Megan, penuhi keinginan terakhir dia, aku ikhlas Mas. Aku ikhlas kamu berpoligami. Aku ikhlas berbagi suami."


BERSAMBUNG

__ADS_1


...****************...


__ADS_2