
"O ya? Mommy kamu bilang seperti itu?" tanya Sherli tersenyum kecil.
"Iya, Tante. Jadi benar Tante temannya Mommy?"
"Bisa di bilang seperti itu. Meskipun kami tidak terlalu dekat juga sebenarnya."
"Waaah! Jadi beneran Tante Sherli adalah orang yang di maksudkan oleh Mommy? Pantas saja, Mommy tak salah menilai orang ternyata. Selain karena Tante cantik, Tante Sherli juga baik banget. Beruntung sekali aku bisa bertemu dengan Tante." Sherli kecil seketika tersenyum lebar.
"Akh ... Kamu bisa aja. Kamu juga cantik, sayang."
"Semoga aku juga bisa tumbuh dan besar seperti harapan Mommy. Jadi wanita yang baik dan lembut seperti Tante," lirih Sherli kecil tersenyum begitu manisnya.
"Amin, jangan seperti Tante, tapi jadi diri sendiri. Jadilah anak sholeh dan berbakti kepada orang tua kamu."
"Apa Mommy akan selamat? Aku dengar umurnya gak akan lama lagi, apa Mommy akan segera meninggal dunia?"
Sherli seketika menundukkan kepalanya. Dia pun tersenyum getir tidak tahu harus menjawab apa. Apakah dirinya harus berkata jujur bahwa Dokter telah memvonis bahwa Megan tidak akan berumur panjang. Ya, meskipun dia tahu betul bahwa umur manusia semuanya di tentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
"Kenapa Tante diam saja? Mommy akan meninggal 'kan? Lalu bagaimana dengan aku? Apa aku akan jadi anak yatim piatu? Apa aku akan di masukan ke panti asuhan seperti anak yatim lainnya."
"Sayang! Kata siapa kamu akan di masukan ke panti asuhan? Ada Tante di sini, ada Om Morgan juga. Kami akan merawat dan mengangkat kamu sebagai putri kami."
"Apa itu artinya Mommy akan benar-benar meninggal tidak akan lama lagi?"
"Sherli sayang, semua yang bernyawa pasti akan meninggal. Manusia berbuat dari tanah pasti akan kembali ke tanah. Tante, Om Morgan, kaka Dami bahkan kamu sendiri, semuanya pasti akan meninggalkan dunia ini suatu saat nanti."
"Jangankan yang sakit, yang sehat saja bisa sewaktu-waktu di panggil oleh yang maha kuasa. Yang harus kamu lakukan sekarang adalah berdoa kepada Tuhan untuk kesembuhan Mommy kamu, paham?"
Sherli kecil menganggukkan kepalanya, dia memeluk tubuh Tante Sherli erat. Wajah Sherli kecil terlihat sangat tegar. Tidak ada sedikitpun air mata yang membasahi wajah cantiknya.
__ADS_1
"Sekarang lebih baik kita siap-siap. Tante akan membantu kamu mandi, kita ke Rumah Sakit sekarang, mau?"
Sherli kecil menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil.
* * *
Di Rumah Sakit.
Sherli dan juga Sherli kecil nampak baru saja sampai di Rumah Sakit. Keduanya masuk ke dalam ruangan dimana Megan di rawat. Akan tetapi, wanita itu sama sekali sudah tidak berada di sana.
"Tante, Mommy kemana? Ko gak ada?" tanya Sherli kecil menatap ranjang yang telah di rapihkan.
"Permisi, Mbak. Pasien di sini kemana ya?" Sherli bertanya kepada pasien yang berada di sana.
"Sepertinya telah di pindahkan ke ruangan lain, Mbak."
"O ya? Ya sudah, terima kasih Mbak."
Ceklek!
Blug!
Pintu ruangan pun di buka, Sherli dan juga Sherli kecil masuk ke dalam ruangan tersebut. Megan nampak menoleh dan menatap wajah Sherli sang putri dengan perasaan senang. Senyuman kecil pun tersungging dari kedua sisi bibirnya kini.
"Mommy!" sapa Sherli kecil naik ke atas ranjang, lalu meringkuk tepat di samping ibunya kini.
"Sayangnya Mommy. Kamu sudah makan?"
Sherli kecil menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Sherli, terima kasih karena kamu telah menjaga Putriku. Tak ada wanita yang sebaik kamu di dunia ini yang bersedia merawat Putri dari mantan istri suaminya." Megan mengalihkan pandangannya menatap wajah Sherli dengan tatapan mata sayu.
"Sama-sama, Putrinya Mbak anak yang baik. Dia tidak rewel sama sekali, lagi pula aku juga senang bisa merawat dia."
"Benarkah? Kamu gak rewel sama Tante Sherli dan Om Morgan?" Megan menundukkan kepalanya menatap wajah sang putri.
"Iya Mom. Seperti pesan Mommy. Aku gak akan rewel. Aku juga janji akan menjadi anak yang baik."
"Anak pinter. Muach!" Satu kecupan pun mendarat di pucuk kepalanya lembut dan penuh kasih sayang.
"Mom, aku ngantuk. Boleh aku tidur di sini?"
"Tentu saja boleh, sayang."
"Eu ... Tapi kursi itu sepertinya lebih nyaman. Aku tidur di kursi aja deh."
"Yakin?"
Sherli kecil mengangguk-anggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil. Dia pun turun dari atas ranjang lalu berjalan menuju sofa dan meringkuk di atasnya.
"Sekali lagi aku minta maaf karena telah merepotkan kamu dan Mas Morgan," ucap Megan.
"Tak apa-apa, aku juga senang bisa merawat anak lucu seperti putrinya Mbak."
"O iya, ada yang ingin aku katakan kepada kamu, Sherli," lirih Megan kemudian.
"Aku tahu apa yang ingin Mbak bicarakan."
BERSAMBUNG
__ADS_1
...****************...