
"Baiklah, lakukan apa yang Mas katakan tadi, sebagai seorang istri aku akan mengikuti apapun yang di inginkan suamiku, termasuk ikut kemanapun suamiku membawa aku tinggal dimana pun. Namun, Mas harus janji kalau Mas akan berkonsultasi ke Psikiater nantinya," jawab Sherli patuh juga melayangkan senyuman manis yang menyejukkan dan membuat hati seorang Morgan merasa tenang.
"Terima kasih, sayang. Muach!" satu kec*pan kecil Morgan layangkan di bibir mungil Sherli sang istri.
Seketika itu juga, Sherli segera memeluk tubuh suaminya erat. Dia melingkarkan tangannya pinggang sang suami seraya menyandarkan kepalanya di dada bidang Morgan Maxime.
* * *
Morgan benar-benar serius dengan keinginannya untuk pindah dari rumah mewah miliknya itu. Rumah yang dia beli saat dirinya hendak menikahi Megan Queeni sebelum mereka menikah kala itu. Rumah yang menyimpan banyak kenangan pahit.
Di rumah itu juga dia kehilangan putra kesayangannya. Di rumah itu juga dia pernah menjalani hari-harinya sebagai suami dari Megan Queeni dan diperlakukan bak babu ketika masih menikah kala itu. Sekarang, dirinya ingin meninggalkan rumah tersebut dan memulai kehidupan yang baru bersama keluarga kecilnya tentu saja.
"Mas sudah siap?" tanya Sherli, dia pun sudah siap untuk keluar dari rumah itu untuk pindah ke rumah baru bersama suaminya.
"Tentu saja, sayang. Kita berangkat sekarang," jawab Morgan menggendong tubuh Dami, dia pun menatap sekeliling rumah yang saat ini sudah kosong. Seluruh barang-barang mewah miliknya telah di bawa ke rumah lain yang baru saja dia beli beberapa hari yang lalu.
'Selamat tinggal rumah yang telah menyimpan banyak kenangan. Selamat tinggal masa lalu. Maafkan Daddy Jacky, karena semua kenangan tentang kamu Daddy tinggal di sini. Doakan Daddy semoga Daddy bahagia bersama keluarga baru Daddy,' (batin Morgan).
Dia bersama sang istri pun berbalik dan benar-benar keluar dari rumah tersebut. Senyuman lebar nampak mengembang dari kedua sisi bibir mereka bertiga. Keluarga kecil itu terlihat sangat bahagia.
Pintu rumah pun di tutup dan di kunci rapat. Ketiganya berjalan ke arah mobil dan masuk ke dalamnya kemudian. Untuk terakhir kakinya, Morgan kembali menatap rumah besar 2 lantai, dengan halaman yang luas membentang. Senyuman kecil pun dia layangkan sebelum benar-benar masuk ke dalam mobil.
Ceklek!
Blug!
Pintu mobil pun di buka dan di tutup setelah dia masuk ke dalamnya. Sedetik kemudian, mesin mobil pun mulai dinyalakan lalu melaju kencang meninggalkan rumah tersebut.
* * *
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 2 jam lamanya, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Morgan mulai melipir dan memasuki sebuah halaman luas. Halaman tersebut bahkan lebih luas dari rumah lamanya. Air mancur nampak menghiasi tepat di tengah-tengah halaman.
Morgan ingin mempersembahkan rumah mewah itu untuk istri dan putra sambungnya. Rumah dengan luas 2x lipat dari rumah lamanya itu terlibat lebih megah dari rumah sebelumnya. Dia pun berharap rumah tersebut akan semakin ramai oleh anak-anaknya kelak.
Ckiit!
Mobil pun berhenti tepat di depan teras rumah. Morgan keluar dari dalam mobil begitupun dengan istri dan putra tercinta. Baik Sherli maupun Dami nampak kagum dengan apa yang saat ini berada di hadapannya.
Mobil yang mengangkut barang-barang dari rumah lama pun sudah berada di sana. Beberapa pekerja terlihat sedang menurunkan barang tersebut. Ada lebih dari 10 orang yang dengan sengaja Morgan pekerjakan agar pekerjaan mereka selesai lebih cepat.
Termasuk Bram dan juga Arini yaitu asisten pribadi juga baby sister yang selama ini bekerja dengan Sherli. Keduanya berjibaku bersama pekerja lainnya. Saling bahu-membahu dalam membereskan rumah baru bos mereka.
"Ini rumah kita yang baru?" tanya Dami berdiri di tengah-tengah ayah dan juga ibunya.
"Iya, sayang. Ini rumah kita. Rumah ini lebih luas dari rumah kita yang sebelumnya. Jadi, kamu bebas bermain dengan leluasa di dalamnya. Semua mainan kamu yang berada di rumah lama pun sudah di pindahkan ke sini," jawab Morgan tersenyum lebar.
"Mas? Kapan Mas membeli rumah ini? Kenapa kamu tidak mengajak aku ke sini sebelumnya? Rumahnya mewah sekali, ya Tuhan," decak Sherli membulatkan bola matanya.
__ADS_1
"Mas sengaja tidak membawa kamu ke rumah ini sebelumnya. Karena apa? Karena Mas ingin memberikan kejutan buat kamu dan Dami."
Sherli tersenyum senang. Sedetik kemudian, Morgan sang suami tiba-tiba saja mendekatkan wajahnya lalu berbisik di telinganya kemudian.
"Kamar kita juga lebih luas dari kamar lama kita, jadi kita bisa dengan bebas melakukan gaya apapun," bisik Morgan membuat Sherli seketika tertawa ringan.
Plak!
Satu pukulan kecil mendarat di bahu Morgan kini. Wajah Sherli pun seketika memerah merasa malu. Meskipun keduanya sudah 1 bulan menikah, tapi setiap malam yang mereka lewati seperti malam pengantin bagi keduanya.
"Argh! Sakit, sayang!" ringis Morgan kemudian.
"Lagian, Mas ini. Apaan sih."
"Hahahaha! Kita masuk sekarang?"
Sherli dan juga Dami menganggukkan kepalanya secara bersamaan. Ketiganya pun masuk ke dalam rumah tersebut dengan saling bergandengan tangan.
"Selamat siang, Bos, Nyonya Bos," sapa Bram dan juga Arini saat bosnya itu melintas tepat di hadapannya kini.
"Selamat siang, kalian berdua pasti lelah? Tenang saja, saya akan memberikan bonus untuk kalian berdua," jawab Morgan berhenti sejenak.
"Wah ... terima kasih, bos."
"O iya, jika di lihat-lihat, kalian berdua cocok juga, hahahaha!" celetuk Morgan sebelum akhirnya melanjutkan langkah kakinya kemudian.
* * *
Malam hari.
Akhirnya, rumah tersebut selesai di benahi. Baik Morgan dan juga Sherli nampak sedang bersantai di halaman depan seraya menikmati udara malam yang menyegarkan. Sementara putra mereka sudah tertidur lelap di kamarnya sendiri.
"Gimana perasaan Mas sekarang?" tanya Sherli secara tiba-tiba membuat Morgan seketika mengerutkan kening.
"Hah? Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja Mas Morgan mu ini merasa sangat bahagia. Mas tidak pernah merasa sebahagia ini. Hati Mas juga merasa lega. Mas tidak perlu merasa khawatir lagi, Dami bisa dengan bebas bermain di manapun di dalam rumah ini."
"Syukurlah, tapi Mas gak lupa 'kan sama janji Mas?"
"Janji yang mana?"
"Katanya Mas bersedia untuk berkonsultasi ke Dokter Psikiater?"
"Tentu saja Mas gak lupa. Kapan kita mau ke sana?"
"Terserah Mas aja."
"Hmm ... Kalau terserah Mas, berarti tunggu tahun depan aja ya."
__ADS_1
Plak!
Bahu Morgan sontak menjadi sasaran kekesalan Sherli, membuatnya seketika meringis kesakitan, juga tertawa ringan.
"Argh ... Sakit, sayang. Hahahaha!"
"Lagian, Mas ini. Masa tahun depan sih?"
"Katanya terserah Mas?"
"Hari senin kita ke klinik Psikiater. Pokoknya gak ada tahun depan-tahun depan segala, oke?" tegas Sherli penuh penekanan.
"Hahahaha! Iya-iya, sayang. Senin kita ke sana. Tapi, sayang. Sepertinya rumah ini terlalu besar untuk kita bertiga. Bagaimana kalau kita--" Morgan menahan ucapannya.
"Kalau kita apa?"
"Bagaimana kalau kita memberikan Dami banyak adik?"
"Banyak adik? Memangnya Mas ingin punya anak berapa banyak?"
"Sebanyak-banyaknya. Kalau perlu kembar 5 sekaligus!"
"Dih, memangnya aku kucing apa sekali melahirkan 5 sekaligus?"
"Hahahaha! Kamu ini, bisa aja kalau ngomong, muach!" Satu ke*upan pun mendarat di bibir mungil Sherli kini.
"Di sini dingin, sayang. Bagaimana kalau kita masuk dan mencoba ranjang baru kita?"
"Hah?"
"Mas sengaja mengganti ranjang kita dengan yang lebih besar, itu adalah hadiah untuk kamu agar kamu bisa lebih liar dari kuda liar saat kita sedang bercinta nanti," celetuk Morgan.
"Dih!"
"Hahahaha! Muach ... Muach ... Muach ...!" Morgan meng*cup bibir istrinya secara berkali-kali merasa gemas.
Perbincangan mereka pun seketika berhenti saat keduanya mendengar suara teriakan yang berasal dari luar pagar. Keduanya pun sontak berlari ke arah luar dan membuka pintu pagar kemudian.
"Ya Tuhan!?"
BERSAMBUNG
...****************...
PROMOSI NOVEL
__ADS_1