
"Sebenarnya pasien harus segera dilakukan tindakan operasi, untuk itu kami membutuhkan persetujuan orang tua kandungnya," ucap sang Dokter menatap Morgan dan juga Sherli secara bergantian.
"Sebenarnya begini, Dok. Kami tidak sengaja menabrak anak itu, dan kami sendiri tidak tahu dimana dan siapa orang tuanya. Lakukan yang terbaik untuk keselamatan anak itu. Kami akan menanggung berapa pun biayanya. Kalau perlu, kami akan menjadi walinya untuk sementara," jelas Sherli mencoba untuk bersikap tenang.
"Baiklah kalau begitu, Silahkan anda tanda tangani surat persetujuan operasi di bagian administrasi. Kalau bisa segera cari keberadaan orang tuanya secepatnya."
"Baik, Dok. Kami janji akan membawa orang tuanya kemari. Saya mohon dengan sangat, tolong selamatkan anak itu, saya mohon, Dok."
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan pasien," jawab Dokter lalu kembali masuk ke dalam ruangan.
Bruk!
Morgan seketika terduduk lemas di atas kursi. Dia pun mengusap wajahnya kasar merasa sangat bersalah tentu saja. Bagaimana bisa dirinya mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dan ceroboh.
Apa yang akan dia lakukan kalau sampai anak itu tidak dapat diselamatkan? Dirinya pasti akan kembali dihantui rasa bersalah di seumur hidupnya. Morgan menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara kasar.
"Mas, kita ke bagian administrasi dulu. Anak itu pasti selamat, Mas tak usah terlalu khawatir," lembut Sherli mencoba untuk menenangkan.
"Kalau dia sampai meninggal, bagaimana? Apa yang akan kita katakan kepada orang tua anak itu? Mas juga pasti akan masuk penjara nanti, ya Tuhan," jawab Morgan, kedua matanya benar-benar dipenuhi kecemasan.
"Dia pasti selamat. Dokter akan melakukan yang terbaik, Mas tenang ya, ada aku yang akan selaku menemani Mas di sini."
Morgan menggenggam erat jemari Sherli sang istri seolah tidak ingin ditinggalkan. Jiwanya benar-benar merasa terpuruk sekarang. Kilasan-kilasan masa lalu seketika memenuhi otak kecilnya kini.
'Ya Tuhan, apakah ini adalah karma yang harus saya terima atas dosa-dosa saya di masa lalu? Belum lama saya merasakan kebahagiaan, sekarang saya harus dihadapkan dengan masalah yang seperti ini. Apa yang harus saya lakukan sekarang?' (batin Morgan).
"Mas?"
"Hah? Eu ... Iya, sayang. Bisakah kamu sendiri yang mendatangi bagian administrasi? Mas benar-benar lemas," pinta Morgan kemudian.
"Baiklah, biar aku saja yang ke sana. Mas tenangkan diri saja dulu, eu ... Aku juga akan menjadi wali untuk anak itu, sampai kita benar-benar menemukan kedua orang tuanya."
"Terima masih, sayang."
Sherli menganggukkan kepalanya seraya tersenyum manis. Dia pun mengusap punggung Morgan sang suami, sebelum akhirnya meninggalkan suaminya dan pergi menuju tempat administrasi.
* * *
Keesokan harinya.
__ADS_1
Setelah melakukan serangkaian operasi, akhirnya anak perempuan yang masih belum di ketahui namanya itu pun di tempatkan di ruang ICU. Anak berusia 5 tahun itu pun sudah melewati masa kritisnya kini.
Morgan sedikit pun tidak beranjak dari tempat itu. 24 jam dia selalu menunggu di ruangan tersebut memantau keadaan sang anak.
Cantik, anak tersebut sangat cantik. Rambut hitamnya yang panjang. Wajahnya yang lucu dan menggemaskan, akan tetapi, Morgan benar-benar merasa heran, bagaimana bisa anak berusia 5 tahun bisa dibiarkan berkeliaran sendiri di jalanan?
"Bagaimana keadaan, dia Mas?" tanya Sherli yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
"Keadaannya masih sama, sayang. Masa kritisnya sudah lewat, tapi dia masih belum siuman juga," jawab Morgan tersenyum hambar.
"Orang tuanya pasti cemas sekali. Eu ... Sayang, apa tidak sebaiknya kita lapor Polisi saja? Polisi bisa mencarikan orang tua dari anak ini nanti."
"Kamu mau Mas di tangkap Polisi karena menabrak anak kecil?"
"Tidak bukan seperti itu maksud aku, Mas. Aku hanya--"
"Kita bisa tanya sama dia kalau anak ini sudah siuman nanti?" Sela Morgan.
"Tapi, kapan dia akan siuman? Aku juga seorang ibu, aku tahu seperti apa perasaan ibunya ketika buah hatinya tidak pulang semalaman."
Morgan seketika menundukkan kepalanya. Dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Laki-laki itu pun seketika mengalihkan pandangannya kepada sang anak, yang masih tidak sadarkan diri sampai saat ini.
"Dia siuman, sayang! Ya Tuhan, terima kasih karena engkau telah menyelamatkan anak ini," lirih Morgan tersenyum senang.
"Aku panggilkan Dokter dulu, Mas."
Morgan mengagukkan kepalanya seraya tersenyum lebar.
Kedua mata gadis kecil itu nampak dikedipkan pelan dan lembut. Dia pun mengedarkan pandangannya menatap sekeliling, lalu menatap wajah Morgan kemudian. Gadis itu pun seketika mengerutkan kening.
"Sayang, akhirnya kamu bangun juga," lirih Morgan lembut dan penuh kasih sayang.
Anak itu hanya diam seribu bahasa. Wajah mungilnya menatap sayu wajah Morgan kini. Tidak lama kemudian, Dokter pun masuk bersama Sherli sang istri.
"Saya periksa dulu keadaan pasien ya," ucap sang Dokter, segera memeriksa keadaan pasien.
Lega, hati Morgan benar-benar merasa lega kini. Dirinya menatap dengan seksama wajah gadis kecil yang begitu menggemaskan tersebut. Alangkah senangnya apabila dia bisa dikaruniai seorang anak perempuan secantik dan selucu anak ini.
Apakah Tuhan sedang menghukum dirinya karena telah banyak berbuat dosa di masa lalu? Apakah dia tidak akan pernah memiliki keturunan selama sisa hidupnya, karena Tuhan tidak percaya kepadanya? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu. Yang jelas, Morgan begitu mendambakan buah hati, darah dagingnya sendiri.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan anak ini, Dokter?" tanya Morgan merasa penasaran.
"Alat Vital pasien sudah normal. Akan tetapi, ada yang aneh dengan pasien."
"Eu ... Apa maksud Dokter?"
"Nak, apa kamu ingat siapa nama kamu?" tanya sang Dokter mengalihkan pandangannya kepada pasien.
Anak tersebut menggelengkan kepalanya dengan wajah datar.
"Ya Tuhan, ada apa dengan anak ini, Dokter?" tanya Sherli, seketika merasa panik.
"Sepertinya anak ini mengalami amnesia sementara."
"Hah? Am-nesia?" Morgan membulatkan bola matanya.
"Sepertinya pasien mengalami amnesia pasca trauma. Amnesia pasca trauma adalah kondisi dimana seseorang kehilangan ingatan akibat cedera kepala yang tergolong parah."
"Salah satunya adalah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan cedera di daerah kepala. Orang dengan kondisi ini biasanya akan mengalami kehilangan kesadaran singkat atau koma. Amnesia jenis ini bersifat sementara, namun pemulihan ingatan yang hilang tergantung pada seberapa parah cederanya," jelas Dokter panjang lebar.
"Tapi, ingatan anak ini pasti kembali 'kan Dok?"
"Kami akan melakukan periksaan lebih lanjut. Karena pasien sudah siuman. Pasien akan segera di bawa ke ruangan rawat inap."
"Baik, Dok. Terima kasih."
Sang Dokter pun menganggukkan kepalanya lalu keluar dari dalam ruangan tersebut.
"Bagaimana ini, Mas? Bagaimana caranya kita bisa mencari orang tua dari anak ini kalau dia saja tidak ingat apapun?" tanya Sherli mulai terlihat cemas.
Morgan menarik napas berat lalu menghembuskannya kasar. Dia pun menatap wajah sang anak dengan tatapan mata sayu juga merasa iba. Setelah berfikir beberapa saat, akhirnya dia pun membuat keputusan.
"Begini saja, bagaimana kalau kita merawat dia sampai anak ini mendapatkan kembali ingatannya?" ujar Morgan kemudian.
...****************...
PROMOSI NOVEL
__ADS_1