Istri Tangguh Milik Tuan Arogan

Istri Tangguh Milik Tuan Arogan
Teman Ranjang


__ADS_3

"Kamu sudah pulang, Mas?"


"Sedang apa kamu di sini?" tanya Morgan membulatkan bola matanya menatap wajah Megan yang saat ini sedang duduk santai di ruang tamu.


"Menunggu kamu 'lah, apa lagi? Tapi, kenapa sekertaris kamu di bawa pulang? Apa selain bekerja di kantor, dia juga bekerja di rumah?" tanya Megan menatap tajam wajah Sherli, juga tersenyum menyeringai.


"Bukan urusan kamu. Sebaiknya kamu pulang sekarang juga, Megan. Apa kamu lupa kalau kita sudah kama bercerai? Atau--"


"Atau apa? Aku hanya mampir sebentar ke sini. Apa kamu lupa kalau hari adalah hari peringatan meninggalnya putra kita? Atau, kamu sengaja melupakannya karena terlalu sibuk dengan wanita ini?"


Sherli tentu saja merasa terhenyak. Dirinya baru mengetahui bahwa sebenarnya Morgan memiliki putra yang telah meninggal dunia. Pantas saja dia terlihat senang saat bertemu dengan Dami putra semata wayangnya.


"Maaf, bos. Sepertinya saya harus pulang sekarang. Saya tidak ingin mengganggu acara peringatan meninggalnya putranya bos," pamit Sherli merasa tidak enak. Di tambah tatapan mata Megan Queeni terlihat tajam dan jelas menunjukan bahwa wanita itu sangat tidak suka dengan keberadaannya di sana.


"Tidak bisa seperti itu, Sherli. Kamu 'kan baru sampai, masa langsung pulang begitu saja? Kita belum ngopi lho."


"Oh jadi, selain jadi sekertaris kamu, dia juga jadi teman ngopi kamu juga, Mas. Hebat banget kamu ya, Sherli. Belum juga bercerai dengan suami kamu, eh udah ngegaet bos kamu sendiri, benar-benar luar biasa," celetuk Megan tersenyum menyeringai.


"Hati-hati kamu kalau bicara Megan Queeni. Mau dia jadi teman ngopi kek, teman makan kek, atau pun teman tidur kek, bukan urusan kamu. Saya minta kamu pulang sekarang juga!" Morgan mulai hilang kesabaran.


"Mas Morgan, apa kamu lupa kalau Jacky meninggal gara-gara kamu? Apa kamu lupa dengan janji kamu yang katanya akan menebus kesalahan kamu seumur hidup kamu, hah?"


"Astaga, Megan. Jangan membuat saya semakin merasa ilfil sama kamu ya, saya mohon kamu pulang sekarang juga. Apa perlu saya panggil satpam kompleks untuk mengusir kamu?"


Megan seketika memutar bola matanya kesal. Dia pun merasa menyesal karena telah mengatakan semua itu. Seharunya dirinya lebih bisa menahan diri dan tidak bersikap keras terhadap Morgan. Megan mengusap wajahnya kasar, dia pun meraih tas kecil miliknya lalu melingkarkan sembarang di bahu kirinya. Setelah itu, wanita itu pun benar-benar keluar dari dalam rumah tersebut dengan perasaan kesal tentu saja.


Megan berhenti tepat di depan tubuh Sherli, menatapnya tajam sekejap lalu kembali melanjutkan langkah kakinya. Sementara Sherli tidak membalas tatapan mata Megan sama sekali, dia memalingkan wajahnya begitu saja, meskipun sebenarnya dia pun merasa tidak suka dengan sikap wanita itu terhadapnya.


"Maafkan atas sikap mantan Istri saya, Sher. Dia memang selalu seperti itu. Saya juga heran karena setelah 2 tahun lamanya kami bercerai, saya pikir dia sudah melupakan saya," ucap Morgan yang sebenarnya merasa tidak enak dengan sikap Megan yang terkesan merendahkan Sherli.


"Tidak apa-apa, bos. Tapi tetap saja, saya harus pulang. Saya tidak mau--"


"Jangan begitu dong, temani saya minum kopi dulu sebentar. Apa kamu merasa terusik dengan ucapan saya tadi?"

__ADS_1


"Hah? Eu ... Tidak ko, bos. Bukan seperti itu."


"Ya sudah, kamu duduk saja dulu, saya akan meminta bibi untuk membuatkan 2 cangkir kopi hangat untuk kita berdua."


Sherli hanya tersenyum kecil. Mau tidak mau, dia yang semula hanya berdiri kini duduk di kursi ruang tamu dengan sangat terpaksa sebenarnya.


"Bi ... Bibi!" Morgan berteriak memanggil asisten rumah tangganya, dan tidak lama kemudian, yang di panggil pun datang dan berdiri tepat di depan majikannya.


"Iya, Tuan," jawab Bibi kemudian.


"Tolong buatkan 2 cangkir kopi hangat untuk calon Nyonya besar kamu ini. O iya, sama camilannya juga sekalian."


"Baik, Tuan," jawab Bibi patuh, dia pun berjalan kembali ke belakang untuk membuatkan apa yang dipesankan oleh sang majikan.


"Apa tidak berlebihan bos menyebut saya calon Nyonya besar?" tanya Sherli kemudian.


"Kenapa? Kamu tidak mau menjadi calon Nyonya Morgan? Banyak wanita di luaran sana yang menginginkan gelar terhormat itu lho."


Sherli diam tidak menanggapi, entah mengapa hatinya kembali merasa berbunga-bunga. Morgan memang pandai dalam hal merayu seorang wanita. Iva Sherli Jovanka, yang notabenenya adalah wanita berkarakter dingin, bahkan sempat menunjukkan rasa tidak sukanya kepada bosnya tersebut, sepertinya sudah mulai termakan setiap rayuan gombal seorang Morgan.


"Ini kopinya, Tuan," ucap Bibi ramah.


"Terima kasih, bi."


"Sama-sama, Tuan." Bibi pun kembali ke belakang.


"Silahkan di minum kopinya Sher."


"Eu ... Maaf, bos. Sebenarnya saya--" Sherli menatap cangkir kopi yang masih mengepul mengeluarkan asap kecil.


"Sebenarnya apa? Katakan saja jangan sungkan."


"Sebenarnya, saya tidak suka minum kopi," ucap Sherli akhirnya berbicara jujur.

__ADS_1


"Hah? Astaga! Kenapa kamu tidak bilang dari tadi? Hahahaha!" Morgan tertawa nyaring.


"Maaf, saya lupa bos."


"Ya sudah, saya akan meminta bibi untuk membuatkan minuman dingin untuk kamu."


Sherli hanya menganggukkan kepalanya. Sebenarnya, dia sendiri merasa bingung kenapa dirinya tidak mengatakan sejak awal bahwa dirinya sama sekali tidak suka dengan minuman yang mengandung kafein tersebut. Rasa gugupnya yang berlebihan karena sikap manis Morgan benar-benar membuat wanita itu merasa lupa daratan.


Dret! Dret! Dret!


Ponsel milik Sherli seketika bergetar. Dia pun meraih ponsel tersebut dari dalam tas berukuran sedang yang saat ini masih berada di atas pangkuannya, lalu mengangkat telpon kemudian.


📞 "Halo, Mbak? Ada apa?" tanya Sherli.


📞 "Anu, bu. Dami--"


📞 "Ada apa dengan Dami?"


Morgan yang sebenarnya hendak beranjak dari ruang tamu untuk meminta bibi membuatkan minuman baru untuk tamunya itu seketika mengurungkan niatnya juga menghentikan langkah kakinya kini.


"Dami kenapa, Sher?" tanya Morgan merasa penasaran tentu saja, tapi pertanyaannya diabaikan oleh Sherli karena wanita itu masih fokus dalam mendengarkan penjelasan baby sister yang selama ini menjaga Dami.


📞 "Apa? Astaga, kenapa Dami bisa jatuh dari tangga. Baik, saya akan pulang sekarang juga."


Kedua kaki Morgan seketika terasa lemas. Tubuhnya pun tiba-tiba saja gemetar, bayangan saat Jacky terjatuh dari tangga hingga kehilangan nyawanya pun seketika memenuhi otaknya kini. Sesak, dada seorang Morgan juga merasa sesak. Dia segera berjalan menghampiri Sherli dan meraih pergelangan tangannya kasar. Tanpa basa-basi lagi, Morgan menarik tangan wanita itu membuat Sherli seketika merasa heran tentu saja.


"Kita harus segera membawa Dami ke Rumah sakit, jangan sampai terlambat," tegas Morgan kemudian. Wajahnya terlihat sangat khawatir.


BERSAMBUNG


...****************...


PROMOSI NOVEL

__ADS_1



__ADS_2