
"Apa? Kamu bilang apa tadi?" tanya Morgan, berjongkok dan menatap wajah Megan yang semakin terlihat pucat pasi.
"Nggak ko, Mas. Aku gak bilang apa-apa, Mas. Aku seperti melihat ada Jacky di sana," jawab Megan tersenyum getir.
"O ya? Mungkin itu hanya perasaan kamu saja, itu karena kamu terlalu merindukan putra kita."
Megan hanya tersenyum getir. Dia pun mengalihkan pandangannya menatap wajah Morgan kini, setelah itu dia pun kembali menatap batu nisan. Seperti yang baru saja di ucapkan oleh suaminya, mungkin karena dirinya terlalu merindukan Jacky sang putra membuat mendiang putranya itu tiba-tiba saja terlihat oleh kedua matanya begitu nyata.
"Kita pulang sekarang? Kata Dokter kamu tak boleh terlalu lama berada di luar."
Megan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum getir.
"Mas, aku ingin meminta sesuatu sama kamu," ujar Megan sebelum suaminya mendorong kursi roda miliknya.
"Apa? Katakan saja, Mas akan berusaha memenuhi apapun yang kamu inginkan. Apapun itu."
"Aku ingin dimakamkan di sini, dia samping Jacky."
Morgan diam seraya mendongakkan kepalanya. Dia menatap langit biru membentang yang berada di atas kepalanya kini. Buliran air mata pun seketika memenuhi kelopaknya. Akan tetap, dia mencoba menahan sebisa mungkin agar air mata itu tidak jatuh di depan pusara Jacky sang putra tercinta.
"Kenapa Mas diam saja?" tanya Megan seketika membuyarkan lamunan panjang seorang Morgan.
__ADS_1
"Hah? Iya, sayang. Mas pasti akan memenuhi keinginan kamu ini," jawab Morgan dengan nada suara berat. Menahan sesuatu yang sulit dia ungkapkan.
Morgan Maxime menatap lekat wajah Megan. Kepalanya yang saat ini di balut dengan kerudung berwarna hitam, kelopak mata sayu-nya lengkap dengan lingkaran hitam di bawah kedua matanya kini. Belum lagi, pipi tirus dengan kulit wajah kusam membuat kecantikan yang dahulu selalu di bangga-banggakan oleh istrinya itu sama sekali tidak ada artinya lagi sekarang.
Morgan meletakkan telapak tangannya di kedua sisi pipi Megan lalu mengusapnya lembut. Senyuman kecil pun dia layangkan, senyuman sang sebenarnya dipaksakan.
"Wajah kamu dingin sekali, Megan. Kita harus segera pulang ke Rumah Sakit."
"Iya, Mas. Kita pulang sekarang. Terima kasih karena kamu telah mengantarkan aku ke sini. Maaf karena aku selalu merepotkan kalian berdua."
Morgan hanya tersenyum kecil. Dia pun bangkit lalu mendorong kursi roda tersebut bersama Sherli kecil juga tentunya. Mereka benar-benar meninggalkan area pemakaman dan akan kembali ke Rumah Sakit.
* * *
Dengan sangat hati-hati, Morgan mulai membaringkan tubuh lemah Megan Queeni di atas ranjang. Tatapan mata wanita itu nampak sayu menatap langit-langit kamar. Hidungnya pun seketika mengeluarkan darah segar membuat Morgan merasa panik dan hendak memanggil Dokter.
"Tidak usah memanggil Dokter, Mas. Percuma saja, mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa," lemah Megan menahan kepergian suaminya.
"Tapi, sayang. Hidung kamu mengeluarkan banyak darah. Pasti rasanya sakit sekali bukan?"
"Tidak, Mas. Tak sakit sama sekali. Aku gak mau kamu pergi meninggalkanku sendirian di sini. Aku gak mau ketika azal menjemput, aku hanya sendirian tanpa ditemani siapapun."
__ADS_1
"Stop! Berhenti bicara seperti itu. Saya mohon berhenti mengatakan prihal kematian di depan saya. Kamu benar-benar tak memikirkan perasaan Senja. Dia pasti sedih mendengar ibunya mengatakan hal itu secara berkali-kali," tegas Morgan penuh penekanan.
"Maafkan Mommy, Nak. Setelah Mommy pergi, akan ada Om Morgan dan juga Tante Sherli yang akan merawat kamu. Mereka berdua orang yang baik, jadi kamu tak usah khawatir."
"Mom? Hiks hiks hiks!" tangis Sherli kecil seketika pecah, tangis yang sebenarnya ingin sekali dia muntahkan sejak lama. Dia terpaksa menahan tangisan itu karena tidak ingin melihat ibundanya merasa sedih.
Megan menatap langit-langit kamar. Tatapan mata kosongnya semakin sayu juga dengan wajahnya yang semakin terlihat pucat pasi. Senyuman kecil mengembang dari kedua sisi bibirnya kini.
"Hidup ini melelahkan, singkat dan tidak ada artinya. Ketika kita memiliki segalanya di dunia ini, kita mati hanya dengan membawa amal. Harta yang melimpah akan kita tinggalkan, kecantikan tidak akan menolong kita dari rasa sakit. Satu hal yang membuat aku tenang adalah, aku mati sebagai Nyonya Morgan."
"Maafkan atas semua kesalahan yang telah aku lakukan selama ini. Aku sadar bahwa apa yang aku lakuakan adalah sebuah kesalahan. Aku doakan semoga Mas bahagia dengan istri Mas. Aku hanya nitip Sherli. Sayangi dia seperti kamu menyayangi putri mu sendiri."
"Jacky, dia sudah datang menjemput. Aku bahagia karena aku mati sebagai Nyonya Morgan. Aku cinta sama kamu, Mas," lirih Megan panjang lebar.
Kedua matanya benar-benar tak berkedip lagi. Detak jantungnya benar-benar berhenti berdetak, mulut seorang Megan pun nampak sedikit di buka seolah melihat suatu yang mengerikan di atas sana.
"Megan! Megan Queeni? Bangun, sayang! Bangun Megan. Maafkan Mas juga karena telah banyak menyakiti kamu selama ini. Maafkan Mas karena telah meninggalkan kamu. Istri salah seharusnya di bimbing ke jalan yang benar, bukan malah ditinggalkan. Maafkan Mas, Megan maaf, hiks hiks hiks!" lirih Morgan, mengusap wajah Megan hingga kedua matanya benar-benar tertutup sempurna. Begitupun dengan mulutnya yang semula di buka lebar.
Bayangan-bayangan masa lalu seketika memenuhi otaknya kini. Bayangan saat pertama kali dia bertemu dengan wanita itu kala muda dulu. Senyuman manisnya, rengekan manjanya, juga tatapan tajamnya, semua itu begitu Morgan rindukan sebenarnya.
Megan Queeni benar-benar telah tiada. Kepergiannya menyisakan luka dan kesedihan. Kepergiannya memberikan pelajaran kepada kita semua bahwa semua yang kita miliki di dunia tak ada artinya. Kita hanya akan mati membawa raga.
__ADS_1
BERSAMBUNG
...****************...