Istri Tangguh Milik Tuan Arogan

Istri Tangguh Milik Tuan Arogan
The Last


__ADS_3

"Apa, Dok? Kembar?" tanya Morgan membulatkan bola matanya merasa terkejut.


"Betul, Tuan. Sepertinya ini adalah sebuah keajaiban. Setelah saya lihat lebih teliti lagi, kuat kemungkinan bukan hanya ada 2 janin, tapi lebih dari itu. Untuk lebih memastikannya lagi, kita harus menunggu beberapa bulan ke depan ketika usia kandungnya sudah memasuk trimester ke 2." Jelas sang Dokter setelah selesai melakukan USG kepada Sherli.


"Dokter tidak bohong 'kan? saya akan memiliki 5 bayi kembar, seperti yang saya inginkan?"


"Saya tidak bisa menentukan jumlah pastinya, hal itu bisa di pastikan lagi nanti dengan melakukan USG setelah kandungnya istri Anda masuk trimester ke 2. Yang saya katakan ini hanya dugaan, karena hasil USG di sini memperlihatkan terdapat lebih dari 1 janin. Untuk jumlahnya tunggu hasil USG ke 2 nanti ya."


"Belum pasti, Mas. Kita harus melakukan USG ke 2 kalau usia kandungnya aku udah agak besar nanti," timpal Sherli.


"Iya, sayang. Mas paham ... Tapi, itu artinya kita bakalan punya bayi kembar 'kan? Seperti keinginan Mas waktu itu 'kan?"


Sherli menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil.


"Terima kasih ya Tuhan. Terima kasih ... Akhirnya saya bakalan punya anak kembar 5 sekaligus, hahahaha!" Morgan seketika bersorak senang.


"Belum tentu 5 Mas. Belum pasti!"


"Iya-iya, gak lima juga gak apa-apa, yang penting kembar. Iya 'kan, Dok?"


"Betul-betul ... Hahahaha!" Sang Dokter benar-benar terbawa suasana, beliau tertawa mengikuti suara tawa Morgan.


* * *


Hari berganti, waktu berlalu. Setiap hari yang di jalani oleh keluarga Morgan dengan begitu bahagia. Apalagi mengingat bawa mereka akan segera di karuniai bayi kembar.


Sherli sang istri pun semakin diperlakukan lebih baik dari biasanya. Dia benar-benar bak seorang Ratu yang diperlakukan sangat istimewa. Ya ... Bukan hanya istimewa, tapi sangat istimewa. Morgan bukan hanya seorang suami yang siaga, tapi sudah seperti seorang pelayan pribadi yang siap melayani sang istri yang saat ini sedang dalam keadaan hamil besar.


9 bulan pun berlalu tanpa terasa. Sherli pun sudah berada di fase siap untuk melahirkan. Setiap detik yang di jalani Morgan dengan hati yang berdebar karena istrinya bisa saja melahirkan setiap saat tanpa dia duga. Sepertinya hari itu pun tiba, Sherli tiba-tiba saja merasakan kontraksi hebat di perutnya.


"Argh! Perut aku sakit!" Jerit Sherli yang saat ini sedang duduk santai di ruang tamu.


Bibi yang mendengar suara jeritan majikannya pun segera berlari menghampiri.


"Nyonya kenapa? Apa Nyonya akan melahirkan?" tanya Bibi seketika merasa panik.


"Sepertinya iya, Bi. Perut aku sakit banget. Argh! Bisa tolong telpon Mas Morgan, suruh dia pulang sekarang juga."


"Ba-baik, Nyonya!" jawab Bibi, segera meraih ponsel miliknya dan menghubungi Tuanya saat itu juga.


Tut! Tut! Tut!


Suara ponsel yang belum di angkat. Berkali-kali Bibi mencoba untuk menghubungi Tuannya, tapi dia sama sekali tidak mendapatkan jawaban apapun. Sepertinya, Morgan memang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Atau, mungkin saja saat ini suami dari Sherli itu sedang meeting penting bersama salah salah satu kliennya.


"Gak di angkat, Nyonya. Bagaimana ini?" Bibi semakin terlihat panik.


Sedangkan Sherli semakin berteriak kesakitan. Cairan ketuban bercampur darah pun nampak mulai mengalir dari kedua sela kakinya. Sesuatu yang aneh pun seperti hendak menyembur keluar dari bagian intinya kini.


"Telpon Dokter saja, Bi. Panggil Dokter ke sini, aku gak sanggup kalau harus ke Rumah Sakit, aku udah gak tahan. Bayiku sepertinya akan melompat keluar, huuuu .... Haaaaa ... Mas Morgan kamu dimana?!"


* * *

__ADS_1


Prang!


Gelas yang sedang di genggam oleh Morgan tiba-tiba saja jatuh hingga pecah berhamburan di atas lantai. Dia yang saat ini sedang meeting bersama Klien penting pun seketika merasa terkejut tentu saja.


"Maaf, perasaan saya tiba-tiba saja tidak enak. Saya ke kamar mandi sebentar," pinta Morgan. Dia pun seketika berdiri lalu keluar dari dalam ruangan.


"Bos!" Sekertaris Morgan segera berlari menghampiri dengan membawa ponsel miliknya.


"Ada apa? Mana ponsel saya?"


"Ini, Bos. Dari tadi ada panggilan dari Rumah, tapi saya tidak berani angkat. Takut istri Bos salah paham nanti."


"Bagus!"


Seketika itu juga, Morgan segera menelpon ponsel sang istri, tapi dia sama sekali tidak mendapatkan jawaban apapun. Gagal menghubungi Sherli secara berkali-kali, dia pun beralih menghubungi Bibi. Asisten Rumah Tangganya itu segera mengangkat telpon saat itu juga.!


📞 "Halo, Bi. Istri saya mana?" tanya Morgan sesaat setelah Bibi mengangkat telpon darinya.


📞 "Tuan Morgan, kenapa telpon saya tidak di angkat-angkat? Ya Tuhan, akhirnya Anda telpon juga."


📞 "Iya, makannya saya telpon balik. Istri saya mana, Bi? Di tanya malah balik nanya, gimana sih?"


📞 "Anu, Tuan. Nyonya Anu ..."


📞 "Anu-anu apa? Kalau ngomong yang jelas dong."


📞 "Nyonya sedang melahirkan, Tuan."


📞 "Tidak, Tuan. Nyonya tidak melahirkan di Rumah Sakit, tapi di rumah."


📞 "APAAAAAAA?!"


Tut! Tut! Tut!


Morgan segera menutup telpon saat itu juga.


"Andini, bilang sama klien saya. Meeting hari ini batal, istri saya melahirkan. Saya harus segera pulang sekarang juga," ujar Morgan dengan setengah berlari meninggalkan tempat itu.


"Baik, Bos. Akan saya sampaikan kepada klien kita!" jawab Andini setengah berteriak.


Morgan berlari keluar dari dalam gedung kantor dimana tempatnya bekerja. Penyesalan benar-benar memenuhi relung hatinya gini. Di saat dirinya berusaha untuk menjadi suami siaga, kenapa dia bisa kecolongan dan membiarkan istrinya melewati rasa sakit dalam melahirkan hanya sendirian. Terlebih hal itu dilakukan di rumahnya, bukan Rumah Sakit tempat seharusnya seorang ibu melakukan persalinan.


"Maafkan Mas, sayang. Seharusnya Mas tidak meninggalkan ponsel Mas tadi. Semoga Mas belum terlambat, dan Mas bisa menemani kamu dalam melahirkan." Gumam Morgan penuh penyesalan.


* * *


Sesampainya di rumah.


Morgan membuka pintu secara kasar. Dia segera berlari menuju kamar dimana istrinya berada saat ini. Tubuhnya benar-benar merasa gemetar, jantung seorang Morgan bahkan berdetak kencang dengan napas yang kini berhembus tidak beraturan.


Ceklek!

__ADS_1


Pintu kamar pun di buka lebar, Morgan masuk ke dalamnya dengan langkah kaki yang mulai melambat. Tatapan matanya tertuju kepada tubuh sang istri yang saat ini berbaring lemah dengan jarum infus yang menempel sempurna di pergelangan tangan kirinya.


Perut Sherli pun nampak sudah datar. 3 bayi kembar berjejer rapi tepat di sampingnya kini. Dokter dan 2 orang perawat yang baru saja menangani proses persalinan pun nampak tersenyum lega melihat kedatangan Morgan.


"Sayang! Kamu? Ya Tuhan! Maafkan Mas karena terlambat datang, Mas benar-benar minta maaf, sayang. Hiks hiks hiks!" Tangis Morgan seketika pecah, dia segera menghampiri dan menc*umi wajah istrinya secara berkali-kali penuh penyesalan.


"Mas ... Akhirnya Mas pulang juga. Kembar tiga Mas. Aku melahirkan bayi kembar 3. Semuanya perempuan," lemah Sherli dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


"Iya, sayang. Mas menyesal karena tidak mendampingi kamu di saat kamu melalui semua ini. Di saat kamu melahirkan, Mas tidak ada di sisi kamu, Mas benar-benar menyesal. Pasti rasanya sakit sekali, heuh?!"


"Sakit, Mas. Sakit banget, tulangku terasa di patahkan secara berkali-kali, Mas kemana aja sebenarnya? Kenapa tak bisa di hubungi?"


"Mas tinggalkan ponsel Mas di ruangan Mas, sementara Mas meeting sama klien. Mas menyesal, maafkan Mas, hiks hiks hiks!" lagi-lagi Morgan menangis sesungguhnya, layaknya seorang anak kecil yang baru saja berbuat kesalahan.


"Tidak apa-apa, Mas. Yang penting putri kita sudah lahir dengan selamat."


"Tapi tetap saja, sayang. Mas--"


"Eak ... Eak ... Eak ..."


Tiba-tiba saja salah satu bayi menangis membuat Morgan seketika tersadar. Dia pun mengalihkan pandangannya kepada ketiga bayi yang saat berada tepat di samping istrinya.


"Bayi kita, Mas. Dia ingin di gendong sama kamu. Beri nama juga mereka," lirih Sherli yang juga menoleh, menatap satu-persatu bayi cantik yang baru saja dilahirkan dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri.


"Astaga, bayinya Daddy. Maafkan Daddy, sayang. Kalian cantik sekali. Eu ... Sayang, Daddy bingung harus gendong yang mana, gak mungkin kalau Daddy gendong ketiga-tiganya," lembut Morgan, benar-benar merasa bingung, karena ketiganya menangis kini, seolah meminta untuk di gendong oleh ayah mereka.


"Satu-satu saja, Mas. Bergantian, gak mungkin kalau di gendong secara bersamaan."


"Benar juga, hmm ... Yang paling dekat dulu deh. Daddy bakalan gendong kamu, sayang." Morgan meraih bayi yang berada paling dekat dengan dirinya, pelan tapi pasti dia pun menimangnya penuh kasih sayang.


Buliran air mata berjatuhan semakin derasnya dari pelupuk mata seorang Morgan. Ini bukanlah mimpi, ini benar-benar nyata adanya. Dimana apa yang selama ini dia impikan akhirnya menjadi kenyataan. Apa yang menjadi doanya selama ini akhirnya dikabulkan oleh Tuhan. Akhirnya dia benar-benar memiliki seorang momongan, bukan seorang lagi tapi 3 sekaligus, hal itu adalah anugerah yang luar biasa di dalam hidupnya.


Kedua tangan Morgan bahkan terasa gemetar, dia menatap bayi mungil yang saat ini berada di dalam gendongannya dengan kedua mata yang benar membanjir. Morgan menggigit bibir bawahnya keras, mencoba untuk mengatakan sesuatu di tengah perasaanya yang sebenarnya tidak karuan.


"Sa-yang ... Baby-nya Daddy, sayangnya Daddy. Kamu cantik sekali, Nak. Kalian bertiga adalah anugerah terindah di dalam hidup Daddy. Terima kasih karena telah lahir ke dunia ini, terima kasih karena telah memenuhi semua harapan Daddy selama ini. Semoga kamu jadi anak yang sholehah, Nak," lirih Morgan, dia pun melakukan hal yang sama kepada dua bayi lainnya. Menggendongnya secara bergantian.


'Terima kasih, Tuhan. Terima kasih atas anugerah yang telah engkau berikan kepada hamba. Hamba sangat bersyukur, kembar 3 adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Ketiga-tiganya cantik seperti ibunya,' (batin Morgan).


"Mas, kita akan memberi nama putri-putri kita siapa?" tanya Sherli seketika membuyarkan lamunan panjang seorang Morgan.


"Hmm ... Bagaimana kalau kita beri nama, Bulan, Bintang, dan Matahari," celetuk Morgan.


"Hah?"


* * *


"Laki-laki mata keranjang sekalipun akan takluk kepada satu wanita. Wanita yang bisa menaklukkan hati sang petualang tentunya bukanlah wanita biasa. Wanita Spesial bernama Iva Sherli Jovanka adalah wanita yang sangat-sangat luar biasa, dia adalah bidadari surga yang dikirimkan oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk menaklukan hati seorang Morgan Maxime. Terima kasih Tuhan. Karena engkau telah menghadirkan wanita ini di dalam hidup saya."


MORGAN MAXIME


...--------TAMAT--------...

__ADS_1


__ADS_2