Istri Tangguh Milik Tuan Arogan

Istri Tangguh Milik Tuan Arogan
Bebas Melakukan Apapun


__ADS_3

''Dasar istri tidak tahu diri. Sudah syukur punya suami yang sempurna. Tampan, mapan, tinggi dan gagah, masih aja selingkuh sama anak ingusan. Kalau saya sendiri 'kan cuma makan malam atau hanya sekedar menggoda wanita saja. Kesalahan patal cukup satu kali saya lakukan,'' gerutu Morgan merasa kesal. Dia membuka pintu kamarnya kemudian.


Ceklek!


Pintu kamar pun di buka lebar, Morgan masuk ke dalamnya seraya tersenyum menyeringai. Akan tetapi, senyuman laki-laki itu seketika lenyap saat melihat bingkai poto berukuran besar dimana terpampang poto pernikahan dirinya bersama sang istri tepat di belakang ranjang.


Kedua kakinya pun seketika merasa lemas. Betapa dirinya sangat mencintai wanita itu sebenarnya. Bola mata seorang Morgan pun memerah menahan rasa sesak di dadanya kini. Kenapa Megan tega melakukan hal ini terhadapnya? Pernikahan yang sudah dia bangun selama ini hancur berkeping-keping begitu pun dengan hati dan juga perasaanya.


Bruk!


Laki-laki itu tiba-tiba saja ambruk tepat di belakang pintu. Dia menyandarkan punggung juga kepalanya, menatap poto pernikahan dimana wajah dirinya dan juga Megan terlihat begitu bahagia saat itu. Buliran air mata pun seketika bergulir begitu saja membasahi wajah tampannya kini.


"Ini adalah akhirnya. Akhir dari perjalanan cinta kita, Megan. Sudah cukup, pernikahan kita harus selesai sampai di sini," gumamnya seraya mengusap wajahnya kasar.


Seketika, bayangan masa lalu pun hinggap di dalam otaknya kini. Saat pertama kali dia mengenal wanita bernama Megan Queeni, wanita yang menjadi kembang kampus kala itu. Bayangan saat dirinya mengucapkan ijab qobul di depan penghulu dan bayangan saat-saat indahnya menjadi sepasang pengantin baru.


Semua itu seolah menjadi kenangan yang sangat menyakitkan saat ini. Kenangan yang semula terasa indah, harus berakhir dengan luka yang menganga di dalam lubuk hati seorang Morgan. Luka yang hanya bisa di obati dengan wanita menurutnya.


* * *


3 bulan kemudian.


Tok! Tok! Tok!


Palu hakim pun di ketuk, tanda gugatan cerai atas nama Morgan Maxime terhadap wanita bernama Megan Queeni di kabulkan oleh majelis hakim. Status mereka pun bukan lagi sebagai suami istri sekarang. Morgan sah menyandang status duda tampan dengan semua pesona yang dia miliki.


"Mas Morgan!" sahut Megan memanggil mantan suaminya yang saat ini hendak keluar dari dalam gedung pengadilan.


Laki-laki itu pun sontak menghentikan langkah kakinya. Namun, dia sama sekali tidak menoleh ke arah Megan sedikit pun.


"Tunggu aku, Mas. Ada yang ingin aku katakan sama kamu.''


Morgan hanya mendengus kesal lalu menoleh dan menatap wajah Megan kemudian.

__ADS_1


"Aku hanya ingin minta maaf sama kamu. Selama ini aku telah bersikap seenaknya sama kamu, Mas. Aku pikir bahwa rasa cinta kamu teramat besar terhadapku, dan apapun yang aku lakukan kamu akan tetap memaafkanku. Namun, nyatanya pikiran aku itu salah. Kamu tetap saja menceraikan aku sekarang,'' ujar Megan panjang lebar.


"Sudah? Saya permisi sekarang," jawab Morgan hendak pergi begitu saja meninggalkan sang mantan istri.


"Tunggu Mas," pinta Megan, meraih pergelangan tangan mantan suaminya, tapi segera di tepis kasar oleh Morgan kemudian.


"Jangan sentuh saya. Kita bukan muhrim lagi sekarang.''


"Muhrim? Sejak kapan kata muhrim itu masuk ke dalam kamus seorang Morgan Maxime? Hahahaha!" Megan seketika menertawakan.


"Tertawalah selagi kamu masih bisa tertawa." Morgan hendak melanjutkan langkah kakinya, tapi lagi-lagi Megan menahannya membuat laki-laki itu kembali mendengus kesal.


"Tunggu sebentar, Mas. Aku belum selesai bicara."


"Apa lagi? Saya gak ada waktu, saya sibuk."


"Sebentar saja. Aku hanya ingin mengatakan bahwa, pintu hati ku akan selalu terbuka untuk kamu, Mas. Kapan pun kamu ingin kembali, aku akan selalu menerima kamu, Mas Morgan."


"Hah? Hahahaha!" Morgan seketika tertawa nyaring, dia pun pergi begitu saja dari hadapan Megan tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi.


Dia pun tersenyum menyeringai seraya keluar dari dalam gedung pengadilan. Usai sudah perjalanan rumah tangga yang sudah 17 tahun dia jalani. Morgan bertekad akan memulai kehidupan barunya, sebagai jiwa petualang yang senang mencari kebahagiaan bersama wanita-wanita cantik di luaran sana.


* * *


2 tahun kemudian.


Bruk!


Morgan melempatkan amplop berwarna coklat berisi uang kepada seorang wanita yang baru saja memberinya kepuasan. Lagi-lagi prinsip di hidupnya kembali dia tanamkan. Menurutnya, tak ada yang salah dengan membeli kepuasan dari seorang wanita.


Akan tetapi, dia masih menutup hatinya. Baginya cinta itu sudah mati di dalam dirinya. Dia lebih suka hidup sendiri tanpa ada tekanan dan bebas bermain dengan wanita manapun tanpa ada yang melarang. Begitulah seorang Morgan saat ini.


"Terima kasih, Om. Jangan lupa hubungi saya lagi jika Om membutuhkan pelayanan dari saya," ucap sang wanita, dia pun tersenyum senang saat melihat sejumlah uang yang di terima sesuai dengan yang apa dijanjikan.

__ADS_1


"Gak akan, saya tidak suka memakai barang yang sama dua kali. Lebih baik kamu pergi sekarang. Saya lelah,'' ucap Morgan santai.


'Dih dasar sombong. Tadi dia muji-muji tubuhku, sekarang di suruh pulang begitu saja. Dasar Tuan arogan,' (batin sang wanita).


Wanita tersebut pun tidak mengatakan apapun lagi. Dia pergi begitu saja keluar dari dalam kamar hotel tempatnya melayani laki-laki bernama Morgan. Meskipun sempat di perlakukan dengan tidak sopan, tapi tetap saja dia tersenyum sumringah karena uang yang dia terima lebih dari cukup untuk biaya hidupnya selama satu bulan.


Sepeninggal wanita tersebut, Morgan pun bangkit lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. 20 menit kemudian dia pun kembali dengan pakaian rapi juga rambut basahnya membuat penampilan seorang Morgan terlihat segar. Dia pun keluar dari dalam kamar hotel kemudian.


* * *


Di perjalanan.


Morgan menghentikan laju mobilnya saat lampu lalu lintas berubah merah. Dia pun bersenandung riang menatap padatnya jalanan. Seketika, laki-laki itu pun menatap dengan perasaan heran, melihat seorang wanita yang saat ini mengedarai sepeda motor tepat di samping mobilnya kini.


"Wanita itu cantik juga," gumamnya kemudian.


Semakin lekat dia menatap wajah wanita itu, semakin dia mengagumi kecantikan alami yang terpancar dari wajah sang wanita. Sampai akhirnya, lampu lalu lintas berubah warna hijau dan wanita tersebut melesat meninggalkan mobilnya yang kini masih bergeming di tempatnya.


"Sial, kenapa sampai hilang kendali gini sih? Wanita itu benar-benar luar biasa cantiknya,'' gumam Morgan mulai melajukan mobilnya kemudian.


* * *


Di kantor.


Tok! Tok! Tok!


Pintu ruangan pun di ketuk. Morgan yang saat ini akan melakukan interview untuk sekertaris barunya sudah duduk dengan bersilang kaki.


Ceklek!


Pintu ruangan pun di buka, seorang wanita masuk ke dalamnya. Seketika, kedua mata Morgan pun terlihat berbinar menatap wanita dengan kecantikan yang luar biasa masuk ke dalam ruangannya kini.


"Wanita ini? Dia adalah bidadari surga yang tadi saya lihat di jalan. Ya Tuhan, apakah dia jodoh yang engkau kirimkan untuk hambamu yang tampan ini," gumam Morgan membuat wanita tersebut merasa heran tentu saja.

__ADS_1


BERSAMBUNG


...****************...


__ADS_2